Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Wakil Asisten Direktur Administrasi

Submitted by on 5 April 2010 – 12:00 amNo Comment

“Haaa…?? Hahahaha…! Apa jabatanmu? Hahahaha…!” Yang tertawa mengakak ini adalah teman Oom Ale dari jaman kuliah, yang sekarang jadi pejabat di bank plat merah terkemuka, panggilannya Oom Sitank. Ketika itu Oom Ale bilang ke Oom Sitank bahwa Oom Ale baru pindah kerja dari pabrik sandal ke pabrik jamu dan punya jabatan baru, yaitu: Plant Administration Deputy Assistant Director.

“Haaa, Hahahaha…!!!” tawa Oom Sitank tambah seru membuat Oom Ale kesal. “Aku tidak menertawakan kamu Le,” kata Oom Sitank serius. “Tapi nama jabatanmu itu lho…! Sory aku ketawa lagi. Hahahaha…!!!”

“!@#$%^,” umpat Oom Ale.

“Semestinya kamu tahu Le, direktur adalah jabatan strategis dan politis. Keputusan yang dibuat oleh direktur haruslah keputusan yang strategis dan politis. Untuk hal-hal rutin, silakan diputuskan oleh prosedur,” Oom Sitank mulai membuka kelas kuliah.

“Lantas apa yang salah dari nama jabatanku?”

“Administrasi hanyalah alat untuk menjalankan keputusan strategis dan politis. Menempatkan seorang direktur sebagai penguasa administrasi sama saja dengan mengagungkan birokrasi. Perusahaan jaman sekarang tidak butuh birokrat. Yang dibutuhkan adalah efisiensi,” lanjut Oom Sitank.

“Tunggu dulu… Perusahaan baruku ini memang tidak punya direktur administrasi,” Oom Ale membela nama baik perusahaan. “Yang ada adalah direktur keuangan di kantor pusat. Sedangkan di pabrik, aku pun menangani bagian keuangan dan akunting, bukan administrasi.”

“Nah… ternyata perusahaanmu smart juga!” puji Oom Sitank. “Perusahaanmu tidak punya direktur administrasi, tapi kenapa kamu dapat titel asisten direktur administrasi? Eh.. salah… wakil asisten direktur administrasi. Hahahaha…!!!”

Oom Ale terbengong-bengong. Benar juga apa kata Kang Sitank. Untuk apa titel wakil asisten direktur administrasi, kalau jabatan direktur administrasi pun tidak ada…!!! Apakah perusahaan keliru memberikan jabatan buat Oom Ale? Atau, justru Oom Ale yang terlalu naif? “Lantas, apa tujuan nama jabatanku?” tanya Oom Ale memelas.

“Hmmm…,” Oom Sitank menarik nafas dalam-dalam. “Menurutku, supaya kamu senang saja dan mau pindah dari tempat kerja yang lama. Perusahaan barumu ingin terlihat seolah-olah memberikan karier yang lebih baik dibanding perusahaan lama. Hahahaha…!!!” Tawanya berderai-derai lagi.

Ya.. ya.. ya.. Di pabrik sandal dulu, jabatan Oom Ale adalah Manajer Keuangan, sedangkan di tempat kerja baru ini Oom Ale merasa naik pangkat karena ada kata “director” di titel Oom Ale. Meski kalau dibaca lengkap jabatan Oom Ale adalah Wakil Asisten Direktur, tapi yang penting ada kata direkturnya kan? Istilah direktur jauh lebih keren ketimbang manajer.

“Apakah salah satu pertimbanganmu pindah kerja adalah karena di jabatan barumu ada titel direkturnya? Meski hanya asisten direktur? Eh.. salah.. wakil asisten direktur?” tanya Oom Sitank.

Oom Ale mengangkat bahu. Oom Ale terlalu malu untuk mengakui, “Maybe yes. Maybe no.”

“Hahaha.. coba lihat faktanya Le,” kata Oom Sitank sambil menatap tajam. “Di perusahaanmu tidak ada divisi administrasi, sedangkan kamu menyandang jabatan wakil asisten direktur administrasi. Ini berarti manajemen menciptakan titel itu khusus untuk kasus kamu. Titel ini baru muncul setelah kamu bergabung kan?”

Oom Ale mengangguk. Memang benar, sebelumnya pekerjaan ini dijabat oleh seorang manajer keuangan yang keluar karena pensiun. Ketika ditawari pekerjaan oleh pabrik jamu ini, Oom Ale sudah menjabat sebagai manajer keuangan di pabrik sandal. “Saya mengharapkan sesuatu yang punya nilai lebih dibanding yang saya dapat sekarang,” begitu kata Oom Ale saat negosiasi dulu. Yang dimaksud dengan nilai lebih bukan hanya gaji yang lebih besar, paket renumerasi yang lebih bagus, melainkan juga jabatan lebih tinggi.

“Titelmu cuma iming-iming saja,” Oom Sitank membuyarkan lamunan Oom Ale. “Coba perhatikan selama kamu bekerja, apakah kamu benar-benar menjadi seorang direktur yang mempunyai kewenangan strategis dan politis, atau hanya sebagai manajer yang lebih banyak berurusan dengan hal-hal teknis?”

Oom Ale diam saja. Menerawang ke langit-langit.

“Tapi jangan berkecil hati,” lanjut Oom Sitank. “Kamu menggantikan manajer yang telah lama bekerja di sana. Mengapa perusahaan tidak mengangkat manajer dari dalam? Apa tidak ada kandidat dari dalam yang bagus?”

Oom Ale mengangkat bahu. Mungkin memang tidak ada.

“Pasti ada orang dalam yang menginginkan jabatan itu. Sedangkan perusahaan tidak sreg mengangkat mereka. Untuk membuyarkan kompetisi internal, jabatan yang diberikan ke orang baru haruslah lebih tinggi dari sekedar manajer. Itu kenapa kamu dapat titel asisten direktur administrasi. Supaya kamu dipandang lebih tinggi dan lebih disegani oleh mereka-mereka yang berambisi pada posisimu.”

Sekarang Oom Ale tersenyum.

“Sudahlah, tidak usah dipikirin omonganku tadi. Yang penting kamu happy di tempat kerja baru. Selamat menempuh karir baru.” kata Oom Sitank sambil menjabat erat tangan Oom Ale.

***

Kalau dipikir-pikir, nama jabatan Oom Ale ajaib juga: wakil asisten direktur administrasi. Hihihihi.. Ternyata manajemen bisa sangat kreatif dalam mengutak-utik pembagian kekuasaan dalam perusahaan. Salah satu hasil karyanya adalah berbagai istilah titel jabatan. Di sisi lain, karyawan sangat kreatif dalam menafsirkan titel tersebut dan menjadikannya sebagai simbol eksistensi pribadi. Klop!

Kata-kata Oom Sitank terbukti pada pekerjaan Oom Ale sehari-hari. Dulu sewaktu ‘hanya’ menjadi manajer keuangan di pabrik sandal, Oom Ale berwewenang menandatangani cek sampai ratusan juta, bahkan boleh melakukan negosiasi kredit dengan direktur-direktur bank. Sedangkan di pabrik jamu ini, Oom Ale hanya berwenang menandatangani cek maksimal senilai Rp. 50 juta saja. Padahal  dengan titel wakil asisten direktur, Oom Ale merasa karier dan kekuasaan Oom Ale di pabrik jamu ini lebih tinggi ketimbang pabrik sandal. Mungkin benar, waktu itu Oom Ale terlalu naif.

Ya sudah, untuk celoteh selanjutnya di blog ini, Oom Ale tulis jabatan Oom Ale sebagai manajer saja. Karena jika Oom Ale tulis “wakil asisten direktur administrasi”, selain terlalu panjang dan tidak umum, Oom Ale khawatir pembaca salah paham… ehhh maaf… maksudnya: Oom Ale jadi minder.

6 Apr 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.