Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Tentang Deposito Puluhan Milyar

Submitted by on 28 June 2010 – 12:00 amNo Comment

Sebagai manajer keuangan, salah satu kebanggaan Oom Ale adalah bisa menghemat uang perusahaan. Ya, bukankah mencari uang itu tidak gampang. Oleh karena itu, sepeser demi sepeser harus dijaga baik-baik. Uang yang ada harus disimpan dengan cermat. Salah satunya di rekening deposito. Semakin tinggi tingkat bunga deposito, semakin tinggi pula rating Oom Ale sebagai pejabat keuangan.

“Deposito perusahaanku ada sekian puluh milyar!” ucap Oom Ale dengan bangga di suatu kesempatan kumpul-kumpul sesama teman manajer keuangan.

“Wah, perusahaanmu memang hebat,” puji teman Oom Ale yang lain. “Deposito perusahaanku tak sampai belasan milyar, itu pun bulan depan harus dicairkan untuk membayar deviden.”

“Tentu hebat dong! Ini berarti perusahaanku bisa menghasilkan keuntungan sekaligus cashflow,” kata Oom Ale dengan kepala yang semakin membengkak. “Bukankah kita sebagai manajer keuangan harus mampu menjaga kesehatan keuangan perusahaan. Kalau perusahaan you gimana?”

“Wah tahun kemarin rada seret,” kata teman Oom Ale yang lain. “Bagaimana tidak seret, gara-gara lumpur Lapindo roda ekonomi jadi macet. Duit perusahaanku di bank cuma lima milyar aja.”

“Alasan saja kamu..!,” tukas teman yang lain. “Tapi, memang benar, tahun kemarin bisnis agak lesu. Dalam setahun laba perusahaanku bagus, tapi duitnya cuma sekian ratus juta saja, gara-gara banyak tunggakan.”

Ya… ya… ya… mengobrol sesama teman seprofesi memang asyik. Apalagi sambil makan menu sabhu-sabhu di restoran ala Jepang. Obrolan ngalor ngidul memang perlu untuk mengusir stres akibat di kantor banyak tekanan. Selain itu, di ajang ngalor-ngidul seperti ini kita bisa saling pamer kehebatan perusahaan tempat kita bekerja. Nah, sebagai manajer keuangan, apalagi yang paling menarik dipamerkan kalau bukan prestasi keuangannya. Mulai dari profit, cashflow sampai adu besar deposito.

Sedang asyik-asyik mengoceh, membangga-banggakan diri sambil makan aneka seafood, tiba-tiba salah seorang teman Oom Ale, yaitu Pak Josh, menyeletuk. “Le!,” kata Pak Josh memanggil nama Oom Ale. “Kalau dilihat-lihat duit perusahaanmu memang besar.”

“Berarti aku memang manajer keuangan top,” kata Oom Ale sambil mengunyah cumi-cumi rebus.

“Tapi, kalau dibandingkan dengan istriku, perusahaanmu kalah hebat,”

“Lho kok bisa?” cumi-cumi yang Oom Ale kunyah tadi menyangkut di kerongkongan.

“Ya iya dong, coba bandingkan. Istriku memang tidak punya deposito. Tapi dia punya tabungan hasil wiraswastanya. Selama ini istriku membuka usaha macam-macam, mulai dari kreditan ini dan itu, toko stationery, fotocopy, percetakan kecil-kecilan, sampai pernah usaha cateringan.”

“Lantas apa yang membuat istrimu lebih hebat dari perusahaan tempat kerja aku?”

“Perusahaan tempatmu kerja memang hebat Le. Perusahaan terkenal. Punya produk laris, kas melimpah dan deposito puluhan milyar. Tapi dibanding dengan istriku, mental manajemen keuanganmu masih kalah.”

Wah.. wah.. wah.. kalau sudah menyangkut mental-mentalan begini, Oom Ale bisa naik pitam. Ini namanya menyinggung harga diri. Apa mau mengajak berantem? Oom Ale sudah bertahun-tahun jadi manajer keuangan di perusahaan ini. Produk kami laku. Profit kami yahud. Duit kami bejibun. Setiap hari Oom Ale ditelepon manajer investasi atau marketing bank yang merayu-rayu supaya Oom Ale mau menaruh kas ke account mereka. Lha kok, si Josh ini berani-beraninya mengatakan mental Oom Ale kalah dibanding istrinya yang cuma punya toko kelontong plus fotocopian saja. Tapi Oom Ale masih coba bersabar, “Maksud kamu apa?”

“Ups, jangan marah Le. Coba dengar ini,” kata Pak Josh. Oom Ale pasang kuping baik-baik. Teman-teman lain yang sedari tadi sibuk dengan shabu-shabu ikut menyimak. Mereka merasa sedikit tersinggung juga karena profesi manajer keuangan yang bersertifikat itu dikata kalah dibanding seorang pengusaha UKM.

Pak Josh menarik nafas panjang. “Begini, setiap istriku punya tabungan yang cukup banyak… yaaa sekitar sepuluh juta-an laah…, dia pasti sibuk memikirkan mau membuka usaha apa. Kalau bukan membuka usaha baru, dia pasti sibuk mencari peluang baru atau meningkatkan usaha yang sudah ada. Misal, beli mesin fotocopy baru, atau mendirikan usaha fotocopy di tempat lain.”

Pak Josh terdiam sejenak. Lanjutnya, “Tapi coba apa yang kamu lakukan Le. Sebagai manajer keuangan di perusahaan besar, kamu malah berbangga-bangga membesarkan deposito. Kamu sibuk mencari bank yang bisa memberikan tingkat bunga deposito yang lebih bagus.”

Pak Josh menyeruput teh hijau. Lalu, “Coba lihat bedanya. Istriku hanya dengan modal sepuluh juta berani beli mesin fotocopy baru. Sedangkan kalian dengan modal cash milyaran hanya berani menyimpan di rekening deposito. Istriku memutar uang untuk bisnis, sedangkan kalian menyimpan uang di tempat aman, nyaris tanpa resiko. Istriku berani mengambil resiko, mempertaruhkan tabungannya untuk sebuah usaha baru. Sedangkan kalian, dengan uang milyaran ternyata tidak berani melakukan apa-apa. Kalian tidak melakukan tindakan bisnis bagi perusahaan kalian. Kalian tidak berani mengambil resiko. Kalian hanya berani menyimpan uang.”

Pak Josh ganti menegak bir. Lantas, “Tidak semestinya kalian bangga menjadi manajer keuangan yang hanya berani menyimpan uang di deposito. Kalau hanya itu yang kalian lakukan, maka mental kalian hanyalah mental pegawai bagian keuangan. Bukan mental seorang bussinesman. Kalau kalian mengelola keuangan dengan sense of business, semestinya dengan uang besar itu, kalian sudah mendesak manajemen untuk segera mengembangkan usaha baru, membuat produk baru, mendirikan pabrik baru. Bukan sekedar mencari-cari bunga deposito yang besar. Apa kalian lihat bedanya?”

Oom Ale tersedak. Dalam hati Oom Ale mengumpat sekaligus membenarkan perkataan Pak Josh. Benar juga apa yang dihujat oleh Pak Josh. Bagaimana mungkin Oom Ale membiarkan perusahaan mempunyai uang sedemikian banyak hanya untuk dipindah dari satu deposito ke deposito lain. Semestinya ditanamkan lagi dalam bentuk investasi riil. Malu juga. Ternyata Oom Ale ini seorang manajer keuangan yang hanya bisa mencatat keluar masuk duit, tetapi tidak tahu bagaimana memanfaatkannya untuk pengembangan bisnis.

Kami biarkan Pak Josh tambah berapi-api menghujat kami. Katanya sambil menegak segelas bir lagi, “Apakah kalian sebagai manajer keuangan pernah mengusulkan kepada manajemen agar menggunakan uang deposito untuk membeli mesin canggih, menjalankan proyek marketing, perbaikan kualitas, peningkatan teknologi informasi, pengembangan karyawan dan lain-lain? Deposito kalian yang semakin besar menunjukkan kalian, sebagai manajer keuangan, cukup pelit untuk membelanjakan uang di sektor-sektor investasi dan bisnis. Kalian hanya menyimpan uang erat-erat. Kalau demikian, kalian tak lebih dari kasir aja. Bukan bussinessman.”

Pak Josh tambah panas menghujat. Kuping Oom Ale tambah merah terbakar. Tapi Oom Ale biarkan saja. Kalau memang benar adanya, Oom Ale terima. Kalau pendapat Si Josh salah, anggap saja dia kebanyakan bir.

29 Jun 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.