Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Dari Toelangan

Status

Submitted by on 3 June 2010 – 12:00 amNo Comment

Awalnya saya risih ketika ada teman meminta saya mengganti status saya. Padahal sejak lebih dari dua puluh tahun lalu status saya tidak berubah, yaitu menikah. Saya pun tak punya niatan untuk mengubahnya. Sekali menikah, tetap menikah sampai mati. Tetapi teman saya terus mendesak, “Masya statusmu di Facebook nggak pernah di-update?” Oo, baru saya ngeh. Ternyata yang dimaksud status adalah postingan di situs jejaring sosial Facebook.com. Saya heran kenapa Facebook menggunakan istilah status, bukan posting, atau celoteh, atau cuap-cuap, atau ocehan, atau apa. Tapi itu terserah Facebook sajalah. Toh lama-kelamaan saya terbiasa juga.

Gara-gara Facebook, saya sempat punya kebiasaan baru. Awalnya hanya sekedar membaca-baca status yang ditulis teman-teman. Lucu-lucu. Sebenarnya banyak yang tidak lucu, tapi saya tetap senyam-senyum sendiri karena geli dengan status yang mereka tulis. Coba simak ini: “Panas”, “Malas, enaknya ngapain?”, “Kucingku pergi kemana ya?”, “Makan sama bumbu pecel”. Itu hanya sedikit contoh dari ratusan status yang berseliweran di beranda Facebook saya. Saya tidak mengerti, mengapa urusan kucing harus dilaporkan ke seluruh dunia? Saya tidak habis pikir, mengapa makan bumbu pecel saja harus diberitakan ke semua orang? Tapi selalu ada saja orang yang bersimpati. Ternyata urusan kucing dan bumbu pecel yang tak jelas itu bisa mengundang belasan bahkan puluhan orang untuk saling berceloteh… eh.. maaf… maksud saya, bertukar status. Lalu saya menyadari, inilah cara modern manusia sekarang untuk saling berhubungan, saling berbagi, berbagi ekspresi, emosi, imajinasi, juga demi eksistensi. Saya meng-update status, saya ada.

Saya tergoda untuk menulis status saya sendiri. Tapi status apa yang harus saya tulis? Masya saya menulis menu sarapan hari ini? Pasti membosankan, karena setiap pagi saya hanya akan menulis ceplok telor dan sambal kecap. Apa pantas saya menulis tentang sabun mandi yang jatuh ke lubang toilet? Bisa-bisa saya diomeli istri karena lagi-lagi bertindak ceroboh sehingga memboroskan anggaran rumah tangga. Salah-salah saya disuruh merogoh-rogoh lubang toilet untuk menemukan kembali sabun mandi yang hilang itu dan dipaksa memakainya untuk mandi. Hiiyy… Tapi apa pun yang saya tulis ternyata ada saja teman yang memberikan tanggapan. Ya, bisa ditebak, status tentang sabun colek pastilah berbalas sabun colek juga. Hasilnya, colek colekan lah. Saya coba menulis status yang lebih serius. Saya menulis Haiku. Tapi, tanggapannya tetap saja sabun colek. Ya sudah, kami pun colek-colekan lagi.

Kebetulan hari itu seorang teman dariJakartaberkunjung ke kantor saya. Untuk makan siang saya sudah bookingkan tempat di sebuah restoran yang paling baik di sekitar kantor. Maksud hati mau menyenangkan dia, sekaligus menyenangkan perut saya sendiri, tetapi teman saya menolak. Dia memilih untuk makan siang di depot Rasa Sari. Saya mengernyitkan dahi sembari membayangkan depot yang kecil, dengan perabotan kuno dan kusam, serta menu masakan yang biasa-biasa saja. “Yang istimewa adalah tahu petisnya,” kata teman saya. “Huwenak banget!” Ya sudah, saya mengalah. Kami pun makan siang di Rasa Sari.

Menu pertama yang keluar adalah, sudah barang tentu, tahu goreng dan bumbu petis. Begitu potongan-potongan tahu goreng terhidang di meja, teman saya segera mengeluarkan handphone Blackberry Onyx-nya. “Tunggu, saya mau foto dulu,” katanya lalu menata meja, mencari angle, dan menjeprat-jepret tahu. Setelah puas, teman saya asyik mengutak-utik handphonenya, sambil senyam-senyum sendiri. Saya masih belum berani mengambil jatah tahu goreng saya, karena menunggu kalau-kalau teman saya masih butuh foto lain, padahal air liur saya sudah mulai mengelucur. Saya tanya pada teman saya, untuk apa dia memfoto tahu petis. Apa ada lomba foto tahu petis? Teman saya tertawa, “Saya baru update status dan upload foto tahu petis ini, supaya teman-teman Facebook saya tahu kalau siang ini saya menyantap tahu petis paling maknyus sedunia.” Saya tanya lagi, memangnya yang ditulis di statusnya apa? Dia jawab, “Saya cuma tulis: mau?” Oo.. saya hanya manggut-manggut sambil segera mencomot tahu jatah saya sebelum dia berubah pikiran, lalu saya cocolkan bumbu petisnya dan haapp tahu petis berpindah ke organ pencernaan saya. Teman saya betul, tahu petis depot Rasa Sari memang nyus-markunyus!

Tapi teman saya tadi tidak bisa makan dengan tenang karena Blackberry Onyx-nya berkali-kali berderit. Berkali-kali itu pula dia menghentikan acara menyantap tahu petis karena harus memeriksa dan menulis sesuatu di Blackberry Onyx-nya. “Ini lho, teman-teman saya ramai membalas status tahu petis saya. Mereka iri dan pingin ikut nyicipi tahu petis ini,” kata teman saya sambil senyam-senyum sendiri. Saya juga senyam-senyum membayangkan status tahu petis berseliweran di antar dinding Facebook.

Saya tawari teman saya untuk memesan tahu petis lagi. Teman saya menolak. “Cukup satu saja,” katanya sambil kemudian memesan sop buntut goreng untuk menu makan siang. Saya pun terbengong-bengong. Saya pikir dia pecinta tahu petis sejati yang benar-benar ingin menikmati tahu petis dengan penuh perasaan tanpa banyak diganggu hal-hal lain. Tidak tahunya dia lebih mencintai status tahu petis di Facebooknya.

Meski tampaknya sepele, meng-update status tidak seremeh-temeh itu. Menurut saya, status terbaik adalah yang sederhana, spontan, otentik, alive namun tetap cerdas dan menggelitik. Ini membutuhkan proses kreatif dan tingkat intelegensia tertentu. Menulis singkat, padat, kenyal dan menggoda bukan pekerjaan gampang. Saya akui, saya tidak cukup pandai meng-update status. Karenanya, saya lebih menikmati status orang lain. Kali ini, ijinkan saya menikmati tahu petis saya. Haapp.. nyam.. nyam.. Mau? ***

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.