Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Buku

Sitor Situmorang – Biksu Tak Berjubah

Submitted by on 10 February 2010 – 12:00 amNo Comment

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 4.0/5 (3 votes cast)
Media: Buku
Penulis: Sitor Situmorang
Judul: Biksu Tak Berjubah
Penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta
Tahun: 2004
Tebal: xvii + 157 halaman
Editor: J.J. Rizal

“Anugerah, ya anugerah. Umur panjang adalah anugerah. Mencipta sajak juga sebuah anugerah. Seorang penyair renta yang terus berdaya menulis sajak-sajak setidaknya dianugerahi kebaikan hati semesta yang tak terkira.”

“Mestinya kebaikan hati semesta ini tidak turun tiba-tiba, begitu saja. Bisa jadi ia merupakan pembalasan manis atas berbagai ‘dosa dan pahala’ yang selama ini diperbuat. Maka, ‘dosa dan pahala’ yang paling pantas diganjar tadi adalah merayakan hidup. Tak ada yang lebih mewah ketika hidup jadi sesuatu yang terus dijalani, dan dirayakan.”

2 Oktober 2005, genap Sitor Situmorang berusia 81 tahun. Tahun lalu, ketika usianya genap 80 tahun, hari kelahirannya dirayakan oleh Komunitas Bambu dengan menerbitkan sebuah buku kumpulan puisinya. Bukan sebuah kumpulan puisi terpilih, atau edisi “the best of”, melainkan kumpulan puisi yang selama ini tercecer dan tak terbukukan. Padahal Sitor Situmorang termasuk penyair Indonesia yang subur. Buku kumpulan puisinya sudah mencapai sepuluhan judul. Namun, ternyata ia masih menyimpan nafas ke sembilan. Biksu Tak Berjubah adalah kumpulan puisi yang lebih merupakan dokumentasi dan bukti dedikasi Sitor Situmorang. Dan, tak pelak lagi, inilah perayaan yang pantas untuk Sitor.

Buku ini memuat puisi dari era perjoeangan, Ratap Biola (1948) sampai era digital Riak Syair Perahu (2004), yang dikumpulkan dari berbagai majalah, koran, buku, arsip HB Jassin, sampai koleksi pribadi Sitor. Suatu pekerjaan yang tak mudah dan melelahkan bagi tim editor yang diketuai J.J.Rizal. Karena itu, J.J.Rizal dalam catatannya menyampaikan beberapa hal yang lebih merupakan pembelaan bagi Sitor. Misal: Sitor bukanlah penyair yang terasing dari dunianya. Di era perjoeangan awal kemerdekaan, Sitor pun menulis puisi-puisi perjoeangan, “Ke Yogya” dan “In Memoriam”. Ketika Sitor sibuk adalah aktivitas revolusi politik, ternyata ia juga melakukan revolusi seorang diri.

Terlepas dari semua itu, perjalanan hidup Sitor Situmorang sungguh menarik dan luar biasa kaya. Ia seorang penyair angkatan 45 yang pernah jadi wartawan, aktivis politik, dipenjara selama delapan tahun oleh Orde Baru sampai kemudian menikah dua kali, yang terakhir dengan seorang diplomat yang memungkinkannya berkeliling dunia. Sebuah hidup yang penuh riuh rendah yang menarik dirayakan.

Ada banyak puisi yang menarik dalam buku ini. Misal: Silence et Solitude (1953), Asap Di Sawah Tanda Hidup (1956), Sandi Digital (2002), dan banyak lagi.

Silence et Solitude

Untuk Tiene Woworuntu
Rivai Apin

Sepi
Sepi kebun
Di belakang

Rumah

Anggrek
di dinding tua

Takkan berbuah

Sepi kami
Kawat
Di langit senja

Sepi
Sepi kebun
Di belakang

Rumah
di balik kota

Sepi kami
Retak kaca jendela
Kilasan hari di ujung rasa

Pisau bermata dua

(Asap di sawah tanda hidup)

Asap di sawah tanda hidup
orang membakar jerami panen lalu
jadi pupuk di musim baru

Sandi Digital

Suaranya bening
gairah rindu

membaca sajak
lewat telpon

pesan lugu
sekaligus tertutup

dalam sandi semiotika
melulurkan batas

antara Penanda
dan yang Ditandai

hanyut banjir
metabahasa tanpa kata

ingin berita
sepatah

sepatah kata saja

Di akhir catatan, editor masih belum yakin bahwa penerbitan buku ini sudah melengkapi semua puisi Sitor yang tercecer. Mungkin masih ada nafas ke sepuluh? Bagaimana pun, jika Sitor masih menulis satu puisi saja di usia senjanya, itu benar-benar anugerah yang tak terkira.

Sitor Situmorang - Biksu Tak Berjubah, 4.0 out of 5 based on 3 ratings

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.