Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Buku

Sapardi Djoko Damono – Mantra Orang Jawa

Submitted by on 17 February 2010 – 12:00 amNo Comment

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 2.5/5 (4 votes cast)
Media: Buku
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Judul: Mantra Orang Jawa
Penerbit: IndonesiaTera, Magelang
Tahun: Cetakan I, 2005
Tebal: 80 halaman

“Agaknya manusia mengira Sang Penguasa Kehidupan ini suka kata-kata indah. Banyak kitab ajaran hidup yang ditulis dalam tatanan persyairan atau sastra. Berbagai doa dipanjatkan dengan kalimat indah mendayu-dayu, bahkan lebih indah dari rayuan seorang pria pada kekasihnya. Maka tak terlalu keliru, jika mantra atau jampa-jampi seringkali jadi bahan inspirasi penulisan puisi. Meski pada awalnya mantra bukan ditujukan sebagai karya sastra. Namun, citarasa eksotisnya memesona banyak penyair, dan jadi ladang tulisan tersendiri. Bagiku, mantra pun adalah sebentuk puisi, jika aku maksudkan itu sebagai puisi.”

“Kemudian, puisi pun jadi mantra yang mampu menyihir pembacanya. Beberapa orang mengaku tersihir oleh puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Beberapa orang yang lain terpukau pada puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri. Yang lainnya oleh Rendra, Chairil Anwar, dan seterusnya. Ternyata penyair bisa menyerupai penyihir. Sebagian banyak penyair meniati menyihir pembaca melalui puisi-puisinya, dan puisi jadi mantra. Maka berhati-hatilah dalam membaca puisi.”

“Tentu ini berlebihan. Tak semua penyair bisa menyihirmu begitu saja. Sebagian dari mereka bahkan tak tersihir oleh puisinya sendiri. Maka kau tak perlu risau. Sihir puisi hanyalah sesaat. Bahkan lebih sesaat daripada isapan rokokmu. Karena penyair menulis puisi, sedangkan kau membaca puisi. Lain soal, jika penyair dan pembaca dan puisinya adalah engkau.”

Sebuah buku mungil diterbitkan oleh IndonesiaTera dengan judul menarik, Mantra Orang Jawa. Kata mantra itu sendiri sudah jadi daya tarik. Rasanya hampir tak ada buku yang menulis secara mendalam, dan diterbitkan, yang membahas mengenai mantra-mantra. Maksudnya, agar mantra-mantra tadi bisa dipakai dan bermanfaat bagi perapalnya. Jikalau toh ada, maka biasanya kita akan meragukannya segera. Dalam tradisinya, mantra lebih banyak diajarkan secara bisik-bisik di balik pintu. Justru itulah yang membuatnya jadi eksotis dan penuh pesona.

Yang tak kalah menarik adalah sang penulis buku, Sapardi Djoko Damono. Apakah penyair liris yang lemah lembut ini beralih profesi menjadi perapal? Atau, ini hanya sebuah judul belaka.

Ternyata tidak, buku tipis ini memuat 60 mantra yang dikumpulkan dari tradisi orang Jawa. Tidak seluruhnya adalah mantra, dalam arti, punya niatan tertentu, namun beberapa rapalan yang terkait erat dengan rangkaian mantra, aji-ajian atau jampa-jampi. Ada mantra doa hari lahir, aji Limunan, mantra kebal peluru, doa agar dilancarkan rejeki, doa sakit encok, doa mandi, mantra merasuk ke jiwa raga orang lain, mantra pengasihan semar mesem, sampai mantra sebelum dan sesudah senggama.

Sayangnya, karena buku ini ditulis oleh seorang penyair, maka semua mantra tadi ditulis ulang oleh Sapardi Djoko Damono ke dalam media puisi berbahasa Indonesia. Serta merta efek manfaat mantra berubah jadi sebuah tulisan sastra. Namun demikian, Sapardi Djoko Damono berupaya agar keeksotisan dan daya pesona mantra tetap terjaga.

Bismillah

Bis: kulit
Mil: daging
Lah: tulang

Alrahman
Alrahim:
sepasang mata
kiri dan kanan

Bayang-bayang

kun zat kun:
jangan mengalingi zat
sukma yang mendukung bayang-bayang
inti sukma yang terkurung
dalam bayang-bayang,
keluarlah:
aku ingin menyaksikan
apa yang kaunamakan hidup itu
Ada beberapa mantra menarik yang bisa dibaca untuk kegiatan sehari-hari.

Doa Waktu Mandi

Menyala-nyala Dhatullah
muncul menyala Rasulullah
Allah bergetar dalam hidup
Allah bergerat dalam rasa
Ya rasa Allah yang Mahakuasa

Mantra Sebelum Bepergian

Bismillah
akulah Nabi Adam
suaraku Nabi Daud
cahayaku Nabi Yusuf
tubuhku Nabi Muhammad
tak ada tuhan melainkan Allah
Muhammad utusan Allah

Ada juga mantra untuk orang dewasa.

Mantra Bersenggama

hai rohmu
hai rohku
hai rasamu
hai rasaku
rasamu tunduk
pada rasaku

Sebelum Bersenggama Agar Tidak Terlepas Lagi

Allah masuk
Mohammad keluar
wahana Rasul masuk
jangan sekali-kali berpisah
jika tidak lantaran mauku

Atau mantra sebagai obat.

Mantra Sakit Encok

hai encok yang berasal dari batu
pulanglah, encok
pulanglah ke tempat asalmu
hutan gung liwang-liwung

Sebenarnya masih banyak lagi mantra, aji-aji, atau jampi-jampi yang populer di tradisi Jawa. Namun, entah kenapa Sapardi tidak menampilkannya. Meski saya yakin Sapardi menyimpan dalam koleksinya. Seperti: mantra sirep (yang biasa digunakan oleh pencuri untuk membuat pemilik rumah tertidur), mantra gendam (untuk menghipnotis orang), dan mantra-mantra lain.

Upaya Sapardi Djoko Damono untuk memuisikan salah satu bentuk tradisi kuno bangsa kita, khususnya tradisi lisan orang Jawa, patut dihargai. Dengan kacamata yang disediakan oleh Sapardi, kita bisa melihat sebuah mantra dari sudut pandang yang lain sama sekali. Ya, kita bisa melihat mantra sebagai sebuah puisi yang sangat eksotik, miris, dahsyat dan spiritual. Kita bisa mengenal bentuk-bentuk pengucapan orang Jawa dalam hubungannya dengan kekuatan alam.

Selain itu, kita bisa melihat pola sinkretisme budaya Jawa, yang tampak pada penggunaan istilah-istilah Allah, Muhammad, Bismillah, Jibril yang banyak tersebar di hampir semua puisi. Untuk yang terakhir ini, bisa jadi puisi Sapardi membuat beberapa kaum muslim mengernyitkan dahi, terutama mereka yang belum mengenal latar belakang budaya Jawa. Oleh karena itu, buku ini perlu diberi pengantar yang lebih baik yang menjelaskan latar belakang sinkretisme dan budaya Jawa yang melahirkan mantra-mantra ini.

Hal lain  yang bisa ditambahkan adalah pencantuman teks asli, yang akan sangat memperluas penerjemahan dan imaji penafsiran. Meski dengan begitu, Sapardi akan direpotkan dengan membuat catatan kaki penjelas istilah. Selain itu, mungkin Sapardi khawatir jika bukunya jadi buku mantra, bukan buku puisi.

Buku ini akan punya bobot dokumentasi tinggi jika dilengkapi dengan sumber naskah, latar belakang dan konteks masing-masing mantra. Meski mantra lebih banyak disampaikan dalam tradisi lisan, namun bukan berarti ia tidak bisa ditelusuri asal-muasalnya. Ini pantas dilakukan Sapardi mengingat kapasitasnya bukan hanya sebagai seorang penyair, melainkan juga sebagai akademisi.

Akhirnya, buku ini hanyalah buku puisi. Tak lebih dan tak kurang. Sebagaimana tulis Sapardi di prawacana, jika pembaca berniat memakainya untuk mencapai maksud tertentu, silakan saja, siapa tahu terkabul.

Sapardi Djoko Damono - Mantra Orang Jawa, 2.5 out of 5 based on 4 ratings

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.