Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Buku

Sapardi Djoko Damono – duka-Mu abadi

Submitted by on 27 January 2010 – 12:00 amNo Comment

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
Media: Buku
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Judul: Duka-Mu Abadi
Penerbit: Yayasan Bentang Budaya, Jogjakarta
Tahun: Cetakan I, Juni 2002
Tebal: viii + 52 halaman

“Kau bertanya tentang puisi yang indah. Berulang aku bilang tak tahu batas-batasnya. Aku hanya tahu puisi yang begitu terbacakan, tiba-tiba hatiku terisi penuh sekaligus kosong. Benderang sekaligus syahdu. Gejolak sekaligus redam. Bagaimana aku bisa menggambarkannya dengan pisau analisa?”

“Ada lagi. Ia mengungkungku sekaligus membebaskanku. Bukankah tiada yang lebih indah ketika semua warna terpancarkan, dan kita terbeku tanpa memilih, membiarkan semua berlalu tanpa sebuah penilaian?”

duka-Mu abadi pertama kali diterbitkan tahun 1969 oleh Balai Pustaka. Memuat puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dari periode 1967 dan 1968. Pada 2002 diterbitkan ulang oleh Yayasan Bentang Budaya. Inilah buku kumpulan puisi terindah yang pernah ditulis oleh salah satu penyair terbaik Indonesia.

Indah, karena puisi-puisi Sapardi Djoko Damono memberikan ruang sekaya-kayanya bagi imaji dan emosi pembaca.

Tiba-Tiba Malam pun risik

tiba-tiba malam pun risik
beribu Bisik
tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
satu-satunya Duka

Indah, karena puisi Sapardi Djoko Damono mampu bercerita tentang sesuatu yang menggetarkan dengan kelembutan. Puisi Berjalan di Belakang Jenazah bercerita tentang betapa dahsyatnya kematian, betapa syahdunya kehidupan. Di puisi Sapardi, kematian jadi peristiwa akbar tanpa menggurui bab eksistensi manusia. Sedangkan kehidupan jadi pengalaman syahdu manusia tanpa menjadikannya ringkih.

Berjalan di Belakang Jenazah

berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia

di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya

Indah, karena puisi Sapardi Djoko Damono membiarkan sebuah peristiwa sederhana memancarkan pesonanya sendiri, sehingga tiba-tiba hidup jadi teka-teki yang tak lagi perlu dijawab bulat-bulat.

Dalam Bus

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana
wajah di kaca jendela yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat: waktu henti ia tiada

Indah, karena puisi Sapardi Djoko Damono tak memaksa kita dengan makna-makna. Ia membiarkan kita menemukannya sendiri. Dalam waktu yang diam.

Dalam Doa: II

saat tiada pun tiada
aku berjalan (tiada
gerakan, serasa
isyarat) Kita pun bertemu

sepasang Tiada
tersuling (tiada
gerakan, serasa
nikmat): Sepi meninggi.

Ada 42 puisi, 24 dari periode 1967, dan 18 dari periode 1968. Sebuah buku yang patut disimpan bak permata.

Sapardi Djoko Damono - duka-Mu abadi, 5.0 out of 5 based on 1 rating

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.