Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Politik Kantor? Perlu Itu!

Submitted by on 15 March 2010 – 12:00 amNo Comment

Kalau seorang karyawan ditanya, hal apa yang paling dibenci di kantor? Mungkin jawabannya adalah politik kantor. Mulai dari pejabat bintang lima sampai operator pabrik tidak suka politik kantor. Jangankan politik kantor, mendengar kata politik saja sudah muak. Entah apa salah “politik” sampai-sampai begitu dibenci bahkan sering dianggap menjijikkan.

Pak Bos sendiri biasanya dengan sinis mengatakan, “Itu cuma permainan politik orang-orang gedean saja. Saya tidak suka begitu-begituan.” Lha, kalau Pak Bos sendiri alergi dengan politik kantor, kami juga ikut-ikutan gatal.

Citra negatif politik mungkin timbul karena kita terlalu banyak melihat perilaku buruk politisi. Dalam bayangan orang awam, berpolitik sama dengan berbohong, berkhianat, janji-janji kosong, menipu, mengancam, munafik, korupsi, dan lai-lain. Tak salah jika politikus digambarkan dengan simbol tikus.

***

“Lho, kenapa harus alergi dengan politik kantor?” tanya seorang pria tambun berusia enam puluh tahunan. Namanya, Pak Bams. Sebelum pensiun beliau berpengalaman bekerja di banyak perusahaan. Jabatan terakhir beliau adalah direktur personalia di sebuah perusahaan makanan yang lumayan besar.

“Yang namanya politik selalu buruk,” kata Oom Ale. Oh ya, dialog ini terjadi hampir dua puluh tahun silam. Ketika itu Oom Ale masih sangat muda dan baru meniti karir sebagai akuntan di sebuah pabrik. Jadi, jangan heran kalau ucapan-ucapan Oom Ale terasa sangat naif. “Kita diajar tidak boleh berbohong. Jadi, sebaiknya kita tidak berpolitik di kantor.” Begitu kata Oom Ale.

“Begini Le,” kata Pak Bams. “Menurut kamu, apa tujuannya politik di kantor?”

“Ya… sama seperti politik di negara, yaitu untuk mendapatkan jabatan!”

“Itu hanya salah satu tujuan. Apakah benar berpolitik di kantor adalah untuk mendapatkan jabatan?”

“Kalau bukan itu, apa dong?”

“Begini, sebenarnya politik itu diperlukan dimana-mana,” kata Pak Bams kalem.

“Tapi…???”

“Tunggu, jangan dipotong dulu,” Pak Bams menarik nafas. “Sadar atau tidak, kita memerlukan politik di setiap kita berhubungan dengan orang lain. Dalam menjalankan fungsinya, manajemen berhubungan dengan banyak orang. Manajemen harus mempengaruhi dan mengarahkan agar orang-orang di kantor mau bekerja mencapai tujuan perusahaan. Apakah kamu pikir hanya dengan digaji karyawan mau bekerja memenuhi perintah manajemen? Tidak! Karyawan dan para manajer perlu dimotivasi, dibujuk, diiming-imingi, dimanipulasi bahkan dipaksa agar mereka bersedia memenuhi tujuan manajemen. Bukankah ini merupakan tindakan politik? Tanpa politik, tidak mungkin kita bisa menggerakkan orang. Tidak mungkin tujuan tercapai.”

Pak Bams berhenti sejenak memberi kesempatan pada Oom Ale untuk mengunyah kalimat-kalimatnya yang sulit dimengerti. Lanjut Beliau, “Bahkan politik juga diperlukan untuk menjaga hubungan suami istri dalam sebuah rumah tangga sekali pun,” lanjut Pak Bams. “Kamu tahu kenapa? Karena kalian adalah orang yang berbeda, mempunyai keinginan dan kecenderungan yang berbeda. Kamu pikir sebuah hubungan harmonis bisa tercipta begitu saja? Tidak! Kalian memerlukan upaya. Dan, upaya itu adalah politik.”

Oom Ale terdiam. Pak Bams benar juga. Gaji Oom Ale sebagai staf masih pas-pasan. Oom Ale ingin mengkredit motor, tetapi Tante Nik ingin mencicil rumah. Kami berdua perlu negosiasi untuk menyamakan pendapat mengenai penggunaan uang gaji. Dalam negosiasi selalu ada kecenderungan untuk membujuk, merayu bahkan mengintimidasi. Inikah yang dinamakan politik? Oh inikah politik?

“Bukan begitu. Politik tidak selalu berarti berbohong, menipu, memaksa, intimidasi,” potong Pak Bams seolah tahu jalan pikiran Oom Ale. “Tujuan politik di kantor bukanlah sekedar mengejar jabatan. Sama seperti halnya negosiasi uang gaji antara kamu dan istrimu, tujuan politik di kantor adalah bagaimana bisa mempengaruhi pengambilan keputusan atas pengelolaan sumber-sumber daya manajemen.”

Oom Ale menggeleng tanda tidak juga mengerti.

“Tujuan politik kantor adalah mempengaruhi proses pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber-sumber daya manajemen. Itu berarti politik kantor tidak harus mengejar jabatan atau pangkat. Yang perlu dikejar dalam berpolitik kantor adalah keterlibatan dan kemampuan untuk bisa mempengaruhi keputusan manajemen. Tidak perlu jadi pemimpin formal untuk bisa mempengaruhi keputusan manajemen. Pemimpin informal bisa membatalkan sebuah rencana manajemen lho?!”

Oom Ale bengong, tidak paham.

“Kembali ke pertanyaan saya di awal diskusi tadi. Kenapa harus alergi pada politik di kantor? Jelas, kita perlu politik kantor. Tanpa politik kita tidak bisa menciptakan hubungan di kantor. Yang seharusnya dijauhi dari politik kantor adalah cara-cara negatif dalam berpolitik, bukan politik itu sendiri. Nah, inilah tugas kamu sebagai orang yang baru meniti karier: berpolitiklah di kantor secara baik. Bagaimana caranya? Bukankah kamu punya norma dan agama. Sepanjang tidak melanggar garis itu, maka tidak perlu takut apa-apa. Selain itu, sebaiknya ringankan beban kerjamu dari terlalu banyak ambisi yang melambung. Lakoni saja pekerjaanmu tanpa banyak kepentingan diri sendiri selain mencari nafkah yang baik untuk keluarga.”

***

Pak Bams adalah guru Oom Ale dalam berpolitik kantor. Beliau adalah ayahanda Oom Ale. Beliau sudah almarhum beberapa belas tahun lampau sehingga tak banyak ilmu perpolitikan kantor yang sempat Oom Ale serap. Tetapi dari sedikit dialog di atas, Oom Ale mulai terbuka tentang arti politik kantor. Sadar atau tidak kita selalu melakukan tindakan politis di kantor, meski kita tak mengakuinya.

Ya, politik kantor tak perlu dicela. Karena dengan berpolitiklah Oom Ale bisa berbaik-baik dengan Pak Bos, Pak Ton, Pak Syam, Bu Fen juga Pak Presdir dan semua rekan sekantor. Namun Oom Ale juga sadar, semua hubungan tadi bisa berantakan karena tindakan politik juga. Oleh karena itu, kenapa harus alergi dengan politik kantor, toh kita melakukannya setiap saat.

“Tapi ingat, tugas utamamu di perusahaan adalah sebagai profesional, bukan politisi,” nasehat terakhir dari Pak Bams.

16 Mar 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +2 (from 2 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.