Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Permainan Pikiran Studi Kelayakan

Submitted by on 26 April 2010 – 12:00 amNo Comment

Sewaktu Tante Nik dan Tante May sepakat membuka usaha warung pangsit mie beberapa tahun silam, Oom Ale menawarkan diri membuatkan studi kelayakannya. Bukankah Oom Ale adalah manajer keuangan yang biasa membuat analisa keuangan. Jadi, Tante Nik dan Tante May tidak perlu meragukan kemampuan Oom Ale.

Berjam-jam Oom Ale bekerja di depan komputer. Setelah memasukkan berbagai asumsi, perkiraan, rumus dan jampi-jampi, Oom Ale dapatkan hasilnya. Wah.. Kesimpulannya: usaha pangsit mie tidak layak karena payback period terlalu lama dan profitability pun rendah.

“Haah? Kok bisa?” seru kedua perempuan yang doyan makan ini berbarengan.

“Ya bisa saja. Coba perhatikan asumsi-asumsi ini, omset sehari lima puluh mangkok mie. Harga per mangkok: Rp. 2000. Harga ini sudah lebih mahal ketimbang mie ayam yang didorong-dorong di pinggir jalan. Harga naik setiap tahun sesuai inflasi rata-rata 7%. Gaji karyawan naik setiap tahun sesuai kenaikan UMR, 10%. Bla.. bla.. bla.. bla… Walhasil pada tahun pertama , usaha warung pangsit mie akan rugi sekian persen. Tahun ke dua untung sedikit. Modal akan kembali di tahun ke empat. Kesimpulannya, usaha ini tidak layak.”

“Tunggu dulu Oom..! Kenapa omset sehari cuma lima puluh mangkok mie? Kenapa harganya cuma dua ribu perak. Kenapa begini? Kenapa begitu?” Berondong ibu-ibu seakan tidak terima hasil kerja Oom Ale.

“Jangan sewot dulu. Semua asumsi itu ada alasan logisnya. Omset dan harga dihitung berdasarkan omset rata-rata penjual mie ayam gerobak dorong. Data inflasi dari BPS. UMR dari dewan pengupahan. Semua asumsi ini valid karena berdasar pada data yang otoritatif. Bukan ngawur! Pokoknya usaha pangsit mie ini tidak layak. Sebaiknya jual barang lain saja,” tegas Oom Ale.

“Wah, jangan-jangan hitungan Oom Ale salah!”

“Salah bagaimana? Lihat nih! Rumus trend sudah sesuai buku pelajaran statistik. Rumus IRR, NPV, Payback dan discounted factor juga persis buku manajemen keuangan. Tidak ada salah rumus.”

“Ok Oom, ok. Asumsinya bisa diganti tidak?” rengek Tante Nik dan Tante May kompak.

Oom Ale kembali ke depan komputer. Tante Nik dan Tante May optimis bisa menjual seratus mangkok sehari, seharga tiga ribu perak per mangkok. Yes! Tahun pertama langsung laba. Modal balik di tahun ke dua.

“Yeeee…!! Kita jadi buka waruunngg mieeee…!!,” Ibu-ibu yang gembul-gembul itu lonjak-lonjak kegirangan.

“Tunggu dulu,” sela Oom Ale. “Apa kalian yakin bisa menjual seratus mangkok sehari? Jangan terlalu optimis. Kita harus memasukkan faktor resiko dalam setiap studi kelayakan.”

“Maksudnya?” Kedua ibu kembali bengong.

“Kita harus konservatif dengan asumsi faktor resiko 20%. Penjualan diturunkan ke 80%. Biaya naik jadi 120%.” Klik. Karena semua kertas kerja sudah Oom Ale program di komputer, maka tinggal klik sana sini, akhirnya dalam sekian menit angka analisa keluar. Hasilnya, rugi! Tahun pertama kita rugi!

Waah.. kecewa! Wajah Tante Nik langsung manyun. Tapi Tante May tidak surut, “Masa sih biaya naik sampai 20%? Kita harus hemat dong! Biaya cukup dinaikkan 10%.

Klik.. klik.. Oom Ale ubah resiko kenaikan biaya menjadi 10%. Hasilnya.. masih rugi sedikit. Kami lalu berpikir lagi mencari cara agar usaha ini menguntungkan. Usaha harus untung dong.

Aha!! Cling!! Tante Nik dapat ide. “Harga per mangkok dinaikkan menjadi tiga ribu lima ratus. Kita harus tambahkan pemasukan dari penjualan produk sampingan, misal: krupuk, kacang bawang. Kita bisa tekan biaya gaji karyawan dengan memakai tenaga freelance sesuai kebutuhan. Bagaimana? Bagaimana?”

Brillian! Oom Ale segera ubah rumus komputer. Klik. Jreng! Hasilnya: profit! Sekali lagi: profit saudara-saudara!! Hore.. hip hip horeee!! Kami bertiga lunjak-lunjak melihat kertas hasil penghitungan usaha kami untung di tahun pertama. Bahkan bisa balik modal di tahun pertama. Hore! Berhasil…! Berhasil…! Kami tambah tinggi melompat-lompat. “Untuk merayakan keberhasilan ini, mari kita makan gado-gado!,” ajak Tante May yang langsung kami iyakan.

“Berhasil apanya? Apanya yang berhasil?” celetuk Oom Brodin, suami Tante May, tiba-tiba.

“Ini lo, Pa,” kata Tante May mesra. “Usaha warung pangsit kita untung, Pa! Kita sudah hitung sama-sama, hasilnya usaha kita langsung untung dan balik modal. Hebat tidak?!”

“Kalian ini aneh. Apanya yang untung? Lha wong usaha belum buka kok, sudah bilang untung?” protes Oom Brodin. “Kalian loncat-loncat kegirangan cuma karena hitungan ini? Padahal tidak sampai satu jam yang lalu kalian cemberut gara-gara hitungan di kertas ini pula. Kalau mau lebih senang lagi, nih aku kasih tahu. Coba harga per porsinya dinaikan jadi lima ribu, omsetnya jadi dua ratus mangkok per hari, tambah sedikit biaya marketing, dijamin dalam waktu setengah tahun balik modal!”

Oom Ale segera ke depan komputer lagi, tapi dicegah Oom Brodin.

“Sudahlah,” kata Oom Brodin. “Sudah lama kita ingin punya usaha sendiri. Sekarang kita sudah punya modal, resep dan tempat. Ketimbang kita bertingkah seperti anak kecil gara-gara perhitungan Oom Ale, sebaiknya kita segera saja mulai usaha ini. Yang penting, kita baca Bismillah, niat menjual pangsit mie yang enak, memberikan pelayanan yang baik, terus belajar dan jangan takut rugi. Soal untung rugi adalah soal rejeki saja, tidak ada hubungannya dengan hitungan Oom Ale tadi.” Oom Brodin merobek kertas kerja studi kelayakan hasil karya Oom Ale. Kejam nian!

***

Hari ini, sudah tujuh tahun lebih warung pangsit mie karya Tante Nik dan Tante May berdiri. Harga-harga sudah berubah. Menu semakin bervariasi. Omset bertambah. Kami pun bisa mempekerjakan karyawan dengan gaji dan bonus sepatutnya. Oom Ale membayangkan, seandainya dulu kami terlalu terpaku pada hitung-hitungan studi kelayakan, mungkin kami tidak akan pernah membuka usaha warung pangsit mie. Kami yakin, meski harus merugi di tahun pertama, tapi berkat usaha keras yang sungguh-sungguh, usaha akan berjalan lebih baik dan memberikan keuntungan.

Kesimpulan Oom Ale: studi kelayakan suatu usaha memang perlu dan penting untuk dipelajari, tetapi tidak semestinya memadamkan semangat enterpreneur. Toh, studi kelayakan cuma dihitung di atas kertas berdasar asumsi-asumsi. Bisnis lebih memerlukan kerja keras, keuletan dan… harapan.

27 Apr 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.