Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Pekerjaan Direktur Kok Sepele?

Submitted by on 31 May 2010 – 12:00 amNo Comment

Mungkin teman Oom Ale yang satu ini terlalu banyak membaca buku teori manajemen. Sudah beberapa kali Oom Ale memberi saran: sudahlah tutup saja dulu buku-buku teori manajemen yang tebal-tebal itu. Untuk menikmati bekerja di dunia manajemen, kita perlu lebih banyak belajar justru dari kehidupan sehari-hari, bukan dari buku-buku yang abstrak itu. Membaca buku manajemen memang perlu. Tentu dalam dosis yang tepat sehingga kita tidak kehilangan visi bahwa manajemen tak lebih dari dunia nyata yang kita lalui dengan penuh keniscayaan.

Dia masih muda. Cukup cerdas. Punya pengalaman kerja beberapa tahun. Tentu juga punya ambisi dan pemikiran idealis. Ia pernah menyindir direktur keuangan di perusahaan tempatnya bekerja. “Tahu tidak Oom,” katanya kepada Oom Ale suatu ketika. “Di kantor saya, direktur keuangan ternyata masih membuat jurnal akuntansi. Masya sih direktur keuangan melakukan entry data jurnal akuntansi? Kalau begini, lantas apa bedanya pekerjaan direktur dan staf.”

Oom Ale jawab sekenanya, “Lha menurut kamu, apa sih sebenarnya tugas direktur keuangan?”

Mendapat pertanyaan balik seperti ini, teman Oom Ale langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas. “Nih Oom..! Ini adalah artikel yang aku dapat dari internet. Judulnya, job description seorang direktur keuangan.”

Oom Ale baca artikel itu sekali. Lalu ulang sekali lagi. Dan, sekali lagi.

Hmmm.. temen Oom Ale ini benar juga. Artikel itu sama sekali tidak menyebutkan bahwa tugas seorang direktur keuangan adalah melakukan entry data jurnal. Justru seorang direktur keuangan seharusnya melakukan hal-hal strategis; seperti misal: keputusan pembagian deviden, menghitung kelayakan investasi, menerapkan sistem keuangan yang handal, mematuhi prinsip dan peraturan yang berlaku, menjamin pengendalian internal. Lha.. kenapa masih ada direktur keuangan yang melakukan pekerjaan klerikal: entry jurnal akuntansi. Piye iki, piye? Ini keterlaluan. Entah siapa yang keterlaluan. Bisa jadi manajemennya keterlaluan karena memberikan tugas remeh-temeh buat sang pejabat tinggi. Atau, justru si direktur itu sendiri yang tidak tahu diri, makan gaji besar hanya untuk tugas mengetik data.

“Menurut Oom,” kata Oom Ale setelah berpikir sejenak, “Tidak ada yang salah dengan apa yang dikerjakan oleh direktur keuangan di tempat kerja kamu.”

“Lho, kok bisa?”

“Yaa.. bisa saja. Meski entry data adalah pekerjaan klerikal yang seharusnya dilakukan oleh para staf biasa, tapi siapa tahu data yang dientry adalah data strategis yang harus dilakukan oleh sang direktur itu sendiri.”

“Misalnya?”

“Data rahasia! Sesuatu yang rahasia biasanya bersifat strategis, maka si direktur harus turun tangan sendiri untuk mengamankan; bukan bawahannya.”

“Ok.. bisa dimengerti. Kebetulan apa yang dientry oleh direktur keuangan di kantorku adalah data gaji para direksi. Beliau sendiri yang setiap bulan menghitung gaji, pajak, potongan dan macam-macam fasilitas direksi yang harus dientry di sistem akuntansi. Data seperti ini tidak boleh bocor ke para bawahan. Ok.. selain untuk menjaga rahasia, apa ada alasan lain yang membenarkan para direksi melakukan pekerjaan klerikal?”

“Pasti ada dong,” kata Oom Ale sambil berpikir keras. “Direksi harus bersedia melakukan pekerjaan klerikal jika pekerjaan tersebut merupakan kewajiban yang melekat kepada pribadinya secara individu.”

“Maksudnya?”

“Misal, seorang direktur yang mendapat fasilitas kartu kredit dari perusahaan harus bersedia melakukan pekerjaan klerikal untuk memastikan semua receipt, tagihan, dan statement of account benar. Dia bisa saja melempar semua urusan ini ke sekretarisnya, tetapi orang yang paling bertanggung jawab mengumpulkan dan memverifikasi pemakaian kartu kredit adalah dirinya sendiri. Mau tidak mau, dia harus melakukan pekerjaan klerikal yang remeh temeh. Misal lain, direktur yang baru pulang dari perjalanan dinas yang panjang harus bersedia menghitung sendiri berapa biaya perjalanan yang dikeluarkannya, mengumpulkan bon dan kwitansi, memilah-milah dan membuat catatan pengeluaran bahkan jika perlu melaporkannya sendiri. Semua itu pekerjaan klerikal yang sederhana, tetapi itu bagian dari pertanggung jawabannya.”

“Jadi, boleh dong direktur yang digaji tinggi menghabiskan waktunya untuk pekerjaan klerikal yang gampang-gampang?”

“Siapa bilang membuat laporan biaya perjalanan dinas itu gampang? Bagi kebanyakan direktur, tugas itu justru menyebalkan dan rumit, karena menyangkut pada pertanggung jawabannya. Tapi, kamu benar, bagaimana pun perusahaan membayar seorang direktur dengan gaji tinggi adalah untuk hal-hal yang besar dan penting,” kata Oom Ale sambil memandang artikel tentang job description seorang direktur keuangan. “Apa yang ditulis artikel ini benar kok. Tetapi dalam kehidupan kerja sehari-hari ada begitu banyak pekerjaan yang dianggap klerikal, remeh temeh dan sepele yang tetap harus dilakukan oleh seorang direktur. Seperti misal: mematikan lampu dan AC ruangan kerjanya sewaktu akan pulang kantor, menutup air keran rapat-rapat sehabis mencuci tangan di wastafel, membuang sampah di tempatnya sesuai ketentuan K3, menggunakan kembali kertas bekas yang masih kosong untuk mencetak, rajin memeriksa computer dari serangan virus, mengganti password komputer secara berkala sesuai prosedur security dari bagian IT, dan macam-macam. Semua pekerjaan yang simple ini menunjukkan perhatian yang sangat besar dari sang direktur terhadap apa-apa yang terjadi dalam manajemennya, sekaligus membudayakan walk the talk, alias suri tauladan bagi semua karyawan.”

“Wow.. boleh juga tuh,” temen Oom Ale seperti mendapat inspirasi. “Bagaimana kalau hal-hal kecil ini juga dimasukkan dalam job description.”

“Kenapa tidak,” jawab Oom Ale. “Banyak direktur setuju dan tidak keberatan untuk memasukkan hal-hal klerikal dan remeh-temeh tadi ke dalam job description; tapi bukan job-des dirinya, melainkan job-des sekretarisnya..!!”

“Hahahaha.. benar juga. Kalau masuk dalam job-des-nya jangan-jangan tidak ada yang mau jadi direktur.”

1 Jun 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.