Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Dari Toelangan

National Geographic Indonesia

Submitted by on 11 July 2015 – 12:00 amOne Comment

National Geographic IndonesiaSetidaknya ada tiga hal yang saya nikmati setiap kali membaca National Geographic Indonesia.

***

Pertama: karya fotografi yang memukau.

Kehidupan berjalan begitu cepat. Peristiwa demi peristiwa berkelebat tanpa jeda. Belum sempat kita memahami apa yang terjadi, kita sudah disuguhi kejadian baru. Seolah semua harus segera. Tak ada waktu untuk merenung. Di titik inilah sebuah karya fotogafi menemukan relevansinya.

Dalam selembar foto, waktu dan gerak terdiam. Meski hanya menangkap momen sepersekian detik dalam kecepatan cahaya, justru di situlah kita akan menemukan sesuatu yang mungkin selama ini terabaikan. Sesuatu yang lebih dalam. Lebih intens. Lebih murni. Semisal, sorot mata, garis wajah, air muka, peluh, alam terbuka luas, sampai detail guratan struktur alam. Sebuah foto bercerita lebih banyak dari ribuan kata. Ini bukan kalimat klise. Karena, menatap sebuah karya fotografi pada hakikatnya adalah sebuah tindakan reflektif.

Tentu saja untuk menyajikan semua keindahan itu, diperlukan bukan sembarangan media. Kertas glossy dan teknologi percetakan berkualitas tinggi adalah prasyarat. Itu berujung pada harga majalah yang kini mencapai Rp. 50.000,- per eksemplar.

***

Kedua: esai yang cakap.

Siapa bilang esai-esai cerdas dan intelek hanya bisa ditemukan di segmen budaya koran minggu atau kolom-kolom majalah berita nasional? Ketimbang menganggapnya sebagai liputan jurnalistik, saya lebih suka menyebut tulisan-tulisan di National Geographic sebagai esai.

Esai dengan nilai lebih. Esai yang ditulis bukan sekedar dari pergulatan pemikiran, melainkan dari perjalanan nyata, pengalaman langsung, dan riset sekumpulan data serta wawancara dengan orang-orang yang semestinya. Tulisan para kontributor terasa bukan saja enak dibaca tetapi juga perlu karena membuat pembacanya lebih pintar.

Tetapi, pintar bukan tujuan akhir dari artikel-artikel National Geographic. Menumbuhkan kesadaran global adalah alasan mengapa para kontributor berpayah-payah melakukan petualangan ke seluruh penjuru bumi. Mereka kembali membawa kisah yang menggugah bahwa banyak hal yang harus dilakukan demi kehidupan di muka bumi yang lebih sejahtera.

***

Ketiga: illustrasi yang memesona.

Tak ada batas untuk seni illustrasi, kecuali imajinasi. Ia bisa menjangkau apa-apa yang tak bisa ditangkap oleh kamera. Ia digunakan ketika kita ingin membebaskan diri dari keterbatasan pengalaman. Illustrasi memungkinkan pembaca kembali ke jutaan tahun silam, menikmati bumi pada masa jurasic. Atau, menembus ruang angkasa gelap yang jauh tak terkira, menerobos lubang hitam dengan selamat. Atau, melambung ke masa depan memproyeksikan kemungkinan-kemungkinan yang tak terkira.

Terima kasih pula untuk para seniman illustrator yang menemukan cara-cara menampilkan statistik dalam gaya seni baru yang bukan sekedar efisien tetapi juga sangat mengedukasi. Ketika grafik batang dan garis sudah tampak membosankan dan menjadi biasa saja, illustrator beralih tugas menjadi seorang pencerah. Di tangan mereka, hasil penghitungan matematika tampak menjadi begitu cair, persuasif dan inspiratif.

***

Ketika majalah National Geographic Indonesia terbit pertama di bulan April 2005, saya memutuskan untuk membeli. Bukan karena tiga hal di atas, melainkan lebih karena alasan romantisme masa kecil. Semasa SD di akhir tahun 1970-an, saya menemukan dan membaca beberapa majalah asing yang dibawa ayah saya. Saya tidak tahu apakah itu National Geographic atau bukan. Yang saya ingat, saya terpesona dengan fotografi tentang ikan dan lautan.  Juga ada foto terkenal wajah awut-awutan Albert Einstein. Saya juga terkesan cukup mendalam pada illustrasi tentang bumi pada masa awal kehidupan, tentang tanaman dan makhluk purba, dan tentu saja tentang reptil-reptil raksasa dinosaurus. Selanjutnya setiap bulan saya membeli edisi terbaru National Geographic Indonesia.

Sejak edisi perdana sampai edisi ulang tahun ke sepuluh tahun 2015 saya membeli National Geographic Indonesia di lapak pengecer koran dan majalah. Kecuali kehabisan, saya tak kan membeli di jaringan toko buku nasional. Dalam pikiran saya, ini majalah bagus. Jika saya membelinya di lapak maka lapak tersebut percaya majalah ini diminati sehingga mereka tetap akan menjualnya. Sebenarnya mendapatkan majalah ini dengan cara berlangganan lebih menguntungkan. Kita bisa menerimanya tepat waktu serta mendapat beragam bonus hingga potongan harga. Tetapi berburu di lapak, bagi saya, jauh lebih mengasyikkan. Hitung-hitung berpetualang kecil-kecilan ala para kontributor National Geographic.

Seluruh edisi majalah National Geographic Indonesia masih tersimpan rapi. Sebagian tersimpan dalam box. Sebagian tercecer di kamar pribadi. Tak ada satu pun yang tertinggal. Jangan percaya jika saya katakan bahwa saya telah membaca semua artikel hingga ke titik koma. Semua koleksi ini tersedia untuk dibaca oleh anak dan cucu saya kelak. Karena, majalah ini tak mudah lekang.

Selamat ulang tahun ke 10 National Geographic Indonesia.

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.