Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Motivator Show

Submitted by on 2 August 2010 – 12:00 amNo Comment

Dalam beberapa minggu belakangan ini, Minggu malam adalah waktu wajib nongkrong di depan tv. Bukan untuk acara balapan atau sepakbola apalagi sinetron. Tetapi demi acara talkshow bersama guru motivator terkemuka di Indonesia yang terkenal dengan salam zupernya: Bung Mario Tangguh..!

Menjelang jam delapan malam Oom Ale sudah siap-siap di depan tv. Oom Ale siapkan kertas dan pulpen. Siapa tahu ada kalimat sakti yang patut Oom Ale catat baik-baik untuk disharing kepada anak buah di kantor.

Kebetulan malam itu, Oom Ale ketamuan Oom Yoyok. Beliau ini teman baik Oom Ale yang sekarang bekerja sebagai ahli komputer di Singapura. Beberapa hari ini Oom Yoyok ambil cuti pulang ke tanah air, dan sempatkan mampir ke rumah Oom Ale. Setelah mengobrol kesana kemari, Oom Ale ajak Oom Yoyok untuk nonton acara talkshownya Bung Mario Tangguh. “Ini acara bagus..! Bung Mario Tangguh benar-benar jago dalam menginspirasi dan memotivasi agar kita bisa menjalani hidup lebih baik. Setiap manajer dan pekerja Indonesia harus nonton acara ini, supaya kinerja perusahaan-perusahaan Indonesia bisa lebih bagus dan tidak kalah dibanding Singapura,” celoteh Oom Ale.

Oom Yoyok tidak menolak ajakan Oom Ale. Beliau malah terlihat cukup antusias mengikuti kata-kata Bung Mario Tangguh, dan sesekali ikut bertepuk tangan mengikuti penonton di layar tv.

Malam itu Bung Mario Tangguh berbicara tentang pentingnya mempunyai mimpi dalam hidup. “Mimpi adalah penggerak langkah kita. Mimpi besar membuat kita bertindak besar. Mimpi mulia membuat langkah kita pun menuju kemuliaan,” begitu kata Bung Mario Tangguh dengan zupernya.

“Untuk meraih mimpi, kita harus menyusun cita-cita dan rencana tindakan. Semua itu harus ditunjang dengan harapan. Harapan membuat kita percaya pada mimpi-mimpi kita,” Bung Mario Tangguh terus membakar motivasi pemirsanya. “Ada banyak contoh dalam hidup ini, dimana orang-orang besar, orang-orang mulia adalah mereka yang mempunyai mimpi besar dan mulia.” Bung Mario Tangguh membeberkan contoh-contoh nyata, kisah orang terkenal yang sukses dalam mewujudkan mimpi-mimpinya. “Jangan takut untuk bermimpi; karena hidup menjadi indah jika kita mengisinya dengan tujuan-tujuan mulia!” tutup Bung Mario Tangguh disusul tepuk tangan super meriah.

“Bagaimana?” tanya Oom Ale pada Oom Yoyok. “Bagus kan? Besok aku akan share ke para stafku di kantor agar mereka termotivasi punya mimpi dan tujuan hidup yang lebih bermakna dan super..!”

“Acara Mario Tangguh tadi sangat bagus,” kata Oom Yoyok. “Tapi aku berani bertaruh, acara sharingmu besok sama sekali tidak bermutu bahkan tidak penting bagi para stafmu.”

“Lho kok begitu?” tanya Oom Ale heran bercampur terkejut dengan tanggapan Oom Yoyok. “Kamu meremehkan kemampuanku berbicara pada anak buahku?”

“Eit.. jangan keburu kesal dulu,” kata Oom Yoyok sambil senyam-senyum melihat serangannya berhasil mengganggu emosi Oom Ale. “Bagaimana mungkin kamu akan memotivasi anak buahmu dengan sesuatu yang baru kamu dengar dari orang lain? Kamu sendiri mungkin belum cukup yakin dengan apa yang dibicarakan oleh Bung Mario Tangguh tadi? Bagaimana mungkin kamu ingin memotivasi orang lain, sedang kamu tidak yakin dengan apa yang kamu pikirkan?”

“Aku yakin 100% dengan Bung Mario Tangguh. Itu kenapa aku akan share ke stafku,” bantah Oom Ale.

“Keyakinanmu cuma sesaat, hanya setebal daun telinga,” kata Oom Yoyok serius. “Keyakinan yang kuat tidak serta merta tumbuh hanya dari menonton acara tv atau mengikuti seminar pelatihan motivasi. Kalau besok kamu berpidato di depan anak buahmu dan mengutip apa-apa yang dikatakan oleh Mario Tangguh, maka apa yang kamu ucapkan sama sekali tidak otentik, alias palsu, alias menjiplak. Dan, itu sama sekali tidak penting.”

“Sekali lagi, aku bilang ya… aku yakin dengan ucapan Bung Mario Tangguh,” Oom Ale mulai ngotot.

“Hahaha.. Tingkat-tingkat keyakinan itu bermacam-macam. Ada yang yakin sebatas di bibir; yakin karena cocok dengan analisa pikiran; yakin karena sesuai dengan perkiraan dan interpretasi pengalaman,” lanjut Oom Yoyok. “Tetapi yang aku maksud dengan keyakinan yang kuat adalah keyakinan karena kamu telah mengalami sendiri, melihat sendiri, merasakan sendiri. Hidupmu telah benar-benar dijalani berdasarkan keyakinan itu. Ibarat orang minum anggur. Hanya mereka yang telah banyak minum anggur sajalah yang berhak mengatakan betapa nikmatnya mabuk anggur.” Oom Yoyok terdiam melihat sorot mata Oom Ale yang kesal.

“Mereka yang belum pernah minum anggur, yang hanya tahu dari omongan orang lain atau membaca buku tentang anggur tak pantas menjelaskan tentang nikmatnya anggur. Kamu sendiri baru mendengar tentang mimpi hidup setelah mendengar pidato tadi kan? Kamu sendiri belum punya pengalaman nyata tentang apa itu mimpi hidup, lantas bagaimana kamu akan berdiri di atas mimbar untuk mengajak orang lain mempunyai mimpi. Sory, aku tanya ke kamu Le, apakah selama ini kamu menulis mimpi hidupmu?” Oom Yoyok.

“Memang aku belum pernah menulis apa mimpi dan cita-citaku,” sergah Oom Ale. “Tapi setelah acara ini, aku akan menerapkan apa yang disampaikan oleh Bung Mario Tangguh.”

“Kalau begitu, sebaiknya kamu melakukan apa yang dibilang Mario Tangguh terlebih dahulu agar kamu mempunyai pengalaman yang otentik. Setelah itu, barulah kamu punya hak untuk bercerita kepada orang lain tentang mimpi hidup dan mengajak mereka mempunyai mimpi hidup,” lanjut Oom Yoyok. “Tapi, kalau kamu berkoar-koar di depan orang banyak tentang sesuatu yang kamu sendiri tidak menjalaninya, maka kamu hanya tukang kutip, tukang jiplak. Tujuanmu berpidato di depan anak buahmu bukan untuk memotivasi, melainkan kamu ingin dipuji dan dianggap guru di depan mereka. Kamu sama sekali belum pantas jadi guru, sebelum lulus sebagai murid. Murid yang lulus adalah murid yang telah melampaui masa-masa berat yang menguji keyakinannya,” kata Oom Yoyok panjang lebar.

“Sudahlah, itu semua terserah kamu,” Oom Yoyok melunak. “Aku tak mau capek-capek memotivasi orang lain tentang sesuatu yang belum pernah aku alami secara nyata, ketimbang aku dicap sebagai tukang kibul.”

Oom Ale tersenyum kecut. Ucapan Broer Yoyok tadi cukup telak menguak sisi gelap jiwa Oom Ale. Memang benar juga, ada kalanya Oom Ale berusaha pidato di depan anak buah di kantor bukan untuk tujuan memotivasi mereka; melainkan agar Oom Ale dianggap sebagap guru yang patut diteladani.

“Bahkan aku yakin,” lanjut Oom Yoyok. “Si Mario Tangguh yang berbicara satu jam di tv tadi juga tidak yakin dengan ucapannya sendiri.”

“Lho.. Bung Mario Tangguh adalah guru motivasi yang sudah diakui kehebatannya,” bantah Oom Ale.

“Orang yang keyakinannya tumbuh dari pengalaman hidup yang nyata tidak merasa perlu mengutip pengalaman dan ucapan orang lain. Bahkan dia tidak perlu meminta sutradara acara itu memerintahkan penonton di studio ramai-ramai bertepuk tangan untuk menjunjung kalimat-kalimat motivasinya yang indah mempesona itu,” kata Oom Yoyok sambil terbahak. “Namanya juga talk… show..!”

3 Agu 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.