Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Tempe, Tahu, Dadar Jagung

Micin, Tempe dan Hyperreality

Submitted by on 8 May 2016 – 12:00 amNo Comment

Anak-anak yang dulu tak tertarik pada tempe dan tahu, berkat tempung bumbu kini mereka mau menyantap dengan lahap seolah sedang makan bistik daging atau bakso ayam.

Image Credit: pop0926pop0926 | Pixabay.com

Ada yang bilang vetsin. Yang terpelajar memakai istilah MSG atau monosodium glutamate. Sedangkan saya menyebutnya micin. Fungsinya sebagai penyedap rasa. Sambal yang ditaburi micin terasa lebih nendang. Sup yang dicemplungi balok-balok micin jadi lebih gurih. Pendek kata, jika para istri ingin masakannya dipuji suami, pakailah pada micin.

Istri saya juga begitu. Di dapurnya, selain garam, bawang, cabe dan terasi, selalu ada persediaan micin. “Tapi,” kata istri saya, “Aku memakainya sedikit kok. Cuma sejumput dua jumput.” Meski hanya seujung jari, tapi kalau dikalikan dengan jumlah ibu rumah tangga di seluruh Indonesia maka yang sejumput tadi bisa menjadi beratus-ratus ton. Bisa dibayangkan berapa besar omset pabrik micin. Pasti trilyunan.

Ada beragam jenis micin. Ada micin biasa, berbentuk batangan kecil berwarna putih. Ada micin yang dicampur dengan bubuk daging ayam atau sapi, dijadikan sebagai kaldu sup. Ada juga micin dalam bentuk tepung bumbu. Untuk yang terakhir ini, istri saya punya cerita.

Pada saat krisis ekonomi. Ketika harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Sedangkan anggaran belanja pas-pasan. Tepung bumbu menjadi jalan keluar bagi istri saya. Saat ingin menyuguhkan menu daging sapi, tetapi tak cukup dana, istri saya membeli tempe yang kemudian dimasak dengan tepung bumbu rasa daging sapi. Hasilnya, tempe berasa daging sapi. Untuk mengakali rengekan anak-anak yang ingin makan daging ayam, istri saya memasak tahu dengan tempung bumbu rasa daging ayam. Bahkan, sayur bayam pun bisa digoreng dengan laburan tepung bumbu.

Anak-anak yang dulu tak tertarik pada tempe, tahu dan sayur, kini berkat tempung bumbu mereka mau menyantap dengan lahap seolah sedang berhadapan dengan bistik daging atau bakso ayam. Istri saya tentu senang melihat anak-anak doyan makan. Biaya dapur pun tidak tekor.

Jadi siapa bilang micin hanya sekedar penyedap rasa? Ia bisa mengubah rasa. Bahkan ia bisa mengelabui pikiran kita. Micin bukan hanya bumbu dapur. Ia adalah imajinasi. Ia menawarkan persepsi.

Ketika masa krisis telah lewat, ketika kami mampu lagi membeli daging sapi, ayam atau fillet kakap. Apa yang terjadi? Istri saya tetap memasak semua itu dengan tepung bumbu. Alasannya, karena anak-anak sudah terbiasa. Bagi mereka, tepung bumbu rasa daging sapi atau ayam lebih sedap ketimbang daging sapi atau ayam itu sendiri. Mereka tak percaya bahwa daging sapi atau ayam benar-benar berasa daging sapi dan ayam. Pada akhirnya, kita lebih percaya micin. Kita lebih percaya hyperreality.

8 April 2016

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.