Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Tempe, Tahu, Dadar Jagung

Menyapa Tuhan Saat Jogging

Submitted by on 26 June 2016 – 12:00 amNo Comment

Saat itu usia saya menjelang 45 dan tak mampu berlari lebih dari 100 meter. Itu jelas! Apakah Tuhan memang menakdirkan saya demikian? Mungkin, ya!

Image Credit: pop0926pop0926 | Pixabay.com

Pagi-pagi benar saya mengambil sepatu olahraga. Saya membeli sepatu itu dua tahun lalu, untuk acara reuni SMA. Kami mengadakan pertandingan basket antar alumni dan saya tidak punya sepatu olahraga. Setelah reuni, sepatu itu tidak pernah saya pakai. Sampai kemudian, pagi ini saya mengencangkan tali-talinya. Dan, siap jogging!

Udara terasa sejuk. Jalanan sedikit gelap dan sepi. Saya mengayun langkah. Satu dua. Satu dua. 25 meter kemudian saya tiba di jalan utama perumahan. Lima meter. Nafas mulai tersenggal. Tak Apa. Sepuluh meter. Dada berdegub kencang. Pertanda sehat. Dua puluh lima meter. Tiba-tiba pandangan agak kabur. Ada apa ini?

Saya tak kuat. Badan seketika lemas. Saya hampir jatuh. Tapi, itu tidak terjadi karena ada tetangga lewat dan menyapa. Saya hanya tersenyum kecut. Saya takut terjadi sesuatu. Saya segera balik pulang sambil tetap berlari kecil karena malu pada tetangga. Sampai di rumah saya ambruk di lantai. Nafas saya benar-benar habis. Kepala saya berkunang-kunang. Dalam hati saya mengeluh. Oh Tuhan, saya tidak kuat jogging.

Saat itu usia saya menjelang 45 dan tak mampu berlari lebih dari 100 meter. Apakah karena saya sudah tua atau Tuhan memang menakdirkan demikian? Apa pun itu, saya terima nasib ini sampai akhir hayat kelak. Sejak saat itu, saya tidak lagi jogging. Sepatu olahraga itu teronggok lagi. Hingga…

Pagi ini, tiga tahun kemudian. Di Sabtu pagi yang sejuk. Saya mengambil sepatu olahraga, mengencangkan tali-talinya, lalu keluar rumah, untuk jogging! Saya melintasi jalanan di komplek perumahan. Saya bertemu Bu Ponidi yang menyapa, ”Olahraga pak?”. Kemudian saya bertemu Pak Imanuel yang berjalan menggunakan tongkat. Dia baru terkena stroke. Tak lama, saya bertemu tiga tetangga yang dari kejauhan sudah tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Saya berhenti. Kami berbincang-bincang sejenak.

Sudah setahun ini saya berlatih jogging. Setahap demi setahap. Dari sekedar belajar cara melangkah, mengatur nafas, menjaga postur tubuh, hingga berlatih agar mampu lari lebih jauh. Kini saya mampu berlari 2 km. 2 km saja bangga? Itu jarak yang pasti ditertawakan oleh para anggota klub lari.

Jika anda mau ikut menertawakan, saya tak apa. Bagi saya, cukup 2 km untuk memahami ternyata saya tidak ditakdirkan untuk terhenti di jarak seratus meter dan usia 45. Cukup 2 km untuk menemukan kesadaran bahwa nafas, langkah, udara, paving, pagi, tetangga, matahari, keringat, kesehatan, semuanya begitu berharga. Bila itu dirangkum, ijinkan saya mengucapkan dalam satu kata “alhamdulillaah.”

23 April 2016

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.