Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Mencari Sekolah Leadership

Submitted by on 7 June 2010 – 12:00 amNo Comment

Tampaknya pencarian terhadap pemimpin besar alias great leader menjadi perburuan abad ini. Pemimpin sejati dibutuhkan untuk memimpin organisasi, perusahaan juga negara. Kita yakin hanya melalui pemimpin hebatlah kejayaan akan terwujud. Pertanyaannya, apakah seorang pemimpin dilahirkan atau dicetak?

Kamu naturalis beranggapan bahwa pemimpin dilahirkan. Pendapat ini cukup merepotkan karena kita tak bisa menunggu-nunggu. Kita tidak bisa bertaruh dengan nasib. Kebutuhan kita akan pemimpin ada di depan mata. Bolehlah kita meminta para ahli meneliti susunan DNA para pemimpin besar, lalu melakukan rekayasa genetika agar generasi mendatang bisa melahirkan pemimpin-pemimpin yang diperlukan. Mungkinkah?

Yang lain beranggapan bahwa pemimpin itu diciptakan. Caranya bagaimana? Tentu saja dengan cara-cara ilmiah. Sudah berpuluh-puluh tahun para ahli mempelajari perilaku dan sifat-sifat para pemimpin besar. Mereka merumuskan definisi leadership berikut tanda-tandanya. Ini diuji terus-menerus. Karakter usang diganti dengan karakter baru yang lebih sesuai kebutuhan jaman. Yakin dengan temuan-temuan terbaru, kini hampir semua ahli koor bahwa pemimpin itu diciptakan. Melalui pendidikan kita bisa menciptakan pemimpin. Yeah, ini baru pemikiran progressive.

***

Saat itu perusahaan tempat Oom Ale bekerja membutuhkan calon-calon pemimpin yang pada saatnya nanti akan menahkodai perusahaan ini. Karena kami masih punya Pak Presdir hebat yang masih menjabat, malah segar bugar, maka kebutuhan ini belumlah mendesak. Tetapi mulai sekarang perusahaan sudah harus menyiapkan, mendidik dan mencetak pemimpin masa depan.

Entah kenapa perusahaan memilih Oom Ale untuk dididik dan disiapkan jadi pemimpin perusahaan di masa depan. Wooww… selamat Oom! Hush! Jangan kasih selamat. Ini cuma casting di blog tidak penting ini saja.

Awalnya, Oom Ale disekolahkan di universitas terkemuka menempuh jalur gelar MBA. Diharapkan setelah lulus dan meraih titel MBA, Oom Ale bisa menjadi pemimpin sejati bagi perusahaan ini. Singkat cerita, hanya dalam waktu dua tahun Oom Ale lulus dan memperoleh ijazah MBA. Keren..!!

Segera setelah itu Oom Ale didudukkan untuk memimpin satu unit usaha. Tentu saja Oom Ale senang bukan kepalang. Oom Ale segera bekerja sebaik-baiknya dan menerapkan semua ilmu yang Oom Ale dapat sewaktu kuliah MBA dulu. Hasilnya? Lumayan, dalam waktu setahun profit perusahaan naik sepuluh persen. Tahun berikut, profit naik lagi sepuluh persen. Hooorrreee!

Apakah itu berarti program mencetak leader melalui kuliah di MBA berhasil? Oom Ale menjawab: ya. Maka diusulkan agar perusahaan mengirim lebih banyak staf untuk dididik di bangku kuliah MBA.

Tapi usulan ini ditolak oleh Pak Pemilik yang mendirikan perusahaan ini. Katanya, kenaikan profit 10% setiap tahun belum mencerminkan keberhasilan program ini. Alasannya, profit tersebut diraih melalui penerapan sistem manajemen yang lebih baik, seperti: pembenahan di sana-sini (istilah kerennya: continous improvement), program penghematan, juga pelatihan karyawan. Menurut Pak Pemilik, keberhasilan ini karena tindakan-tindakan manajemen, bukan tindakan leader.

Apa bedanya?

Kata Pak Pemilik, jelas beda. Seandainya perusahaan ini dipimpin oleh seorang leader, maka yang yang naik bukan profit melainkan kesempatan-kesempatan baru.

Bukankah penentu keberhasilan program ini adalah leadership yang baik?

Kata Pak Pemilik, pendapat itu benar. Tapi perlu dilihat lebih dalam, program yang berhasil selama dua tahun ini tak lebih dari sekedar program manajemen. Program manajemen cukup dipimpin oleh manajer. Sedangkan untuk memimpin bisnis… sekali lagi: bisnis… tidak cukup hanya sekedar kepemimpinan manajemen. Diperlukan kepemimpinan dalam arti yang sebenarnya. Unit usaha yang Oom Ale pimpin ini berhasil secara manajerial, namun belum secara bisnis. Selama dua tahun ini belum terlihat tindakan kepemimpinan yang membuka kesempatan-kesempatan baru. Yang ada hanya perbaikan yang mendorong profit naik. Pak Pemilik membutuhkan leader yang kuat untuk membuka berbagai kemungkinan dan kesempatan baru. Untuk itu, diperlukan pemimpin mempunyai wawasan ke depan dan berani mengambil resiko.

Jadi, apakah menurut Pak Pemilik program MBA tidak berhasil melahirkan leader?

Kata Pak Pemilik, memang tidak berhasil. Program MBA tidak dirancang untuk menghasilkan pemimpin dalam arti yang otentik. Bagaimana mungkin MBA bisa melahirkan leader, yang diajarkan adalah administrasi; yaitu mengatur sesuatu yang sudah ada. Dari istilahnya saja sudah jelas: ahli administrasi bisnis. Sedangkan yang dicari adalah leader, bukan administrator. Tidak perlu dijelaskan apa beda leader dan administrator. MBA mengajar teori dan cara-cara yang digali pengalaman masa lalu yang kemudian dirasionalisasikan. Leader tidak butuh cara-cara kuno. Leader sejati menemukan cara baru, visi baru dan inspirasi baru. Leader mempunyai keberanian mengambil resiko yang lebih dari sekedar hasil hitung-hitungan analisa di atas kertas.

Ok, kalau begitu kita batalkan saja program MBA. Bagaimana kalau kita mulai dengan program MM?

Kata Pak Pemilik, itu sama saja. Manajemen maupun administrasi tak jauh beda. Yang dicari adalah program pendidikan untuk mencetak leader, bukan manajer apalagi administrator. Kemudian Pak Pemilik membatalkan semua usulan kami untuk mencetak leader melalui program MBA maupun MM. Namun Pak Pemilik setuju menyekolahkan beberapa staf ke MBA dan MM untuk mencetak calon ahli manajemen. Pak Pemilik memberi pekerjaan rumah pada kami untuk mencarikan sekolah yang benar-benar bisa mencetak leader.

***

Maaf, bukan maksud Oom Ale menyindir sidang pembaca yang bergelar MBA atau MM. Bukan juga melemahkan mental anda-anda yang sedang rajin menambah pengentahuan. Sekali-sekali bukan itu maksud Oom Ale. Tentu saja, program MBA dan MM itu bagus dan diperlukan. Program MBA dan MM terbukti telah banyak melahirkan manajer-manajer hebat. Namun benarkah ia bisa mencetak pemimpin bisnis yang hebat?

Oom Ale yakin program MBA dan MM bisa mencetak pemimpin program manajemen. Namun untuk memimpin sebuah bisnis, kita perlu acuan lain. Bisnis bukan sekedar manajemen. Bisnis adalah kelangsungan hidup. Itu berarti keberanian, keluwesan, ketangguhan, ketabahan dan visi yang hebat. Ocehan Oom Ale ini bukan gombalan dari orang yang frustasi karena tak berkesempatan sekolah MBA dan MM. Kalau ada sidang pembaca, pemegang atau perintis gelar MBA dan MM yang tersinggung, Oom Ale mohon maaf yang sebesar-besarnya dan sebenar-benarnya. Faktanya simple saja kok: MBA dan MM hanya mengajarkan management dan administration. Yang kami cari adalah leader..!

Oom Ale masih mencari dimana ada sekolah leadership.

8 Jun 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.