Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Tempe, Tahu, Dadar Jagung

Mata Kyai, Mata Santri

Submitted by on 24 April 2016 – 12:00 amOne Comment

Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang kyai mempunyai korek api dengan gambar seronok seperti itu? Yang lebih celaka, beliau tampak santai saja.

Image Credit: pop0926pop0926 | Pixabay.com

Kyai yang menemui kami berumur sekitar pertengahan lima puluh. Penampilannya sederhana. Mengenakan kemeja biasa, sarung dan tentu saja kopiah. Beliau adalah pembina pondok pesantren di salah satu kota di pesisir utara Jawa Timur. Sudah sering teman saya, sebut saja Ikhwan, mengajak saya berkeliling ke pondok-pondok pesantren, menemui kyai dan ustadz untuk meminta nasehat dan wejangan.

Meski sebenarnya kita bisa belajar agama dari pengajian di masjid terdekat atau tv, namun berkunjung ke pondok pesantren, menemui dan berbincang dengan para kyai memberikan suasana batin yang berbeda. “Lebih menghujam”, begitu kata Ikhwan. “Kyai bisa melihat secara tajam ke dalam diri kita. Nasehatnya jauh lebih cespleng saat bertemu langsung ketimbang mengikuti pengajian umum.”

Tapi kali ini saya sulit berkonsentrasi mengikuti wejangan Pak Kyai. Bukan karena asap rokok yang selalu menyembur dari mulut beliau. Bukan pula karena perut keroncongan akibat sejak berangkat saya belum sarapan. Namun karena pandangan saya lebih tertuju ke gambar di kotak korek api milik Pak Kyai. Gambar seorang perempuan bule seksi, yang cuma memakai beha dan celana dalam. Senyumnya merekah. Tatapannya menantang.

Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang kyai mempunyai korek api dengan gambar seronok seperti itu? Yang lebih celaka, beliau tampak santai saja. Berkali-kali beliau menyulut korek api tanpa merasa bersalah. Justru saya yang risih. Jujur saja, diam-diam saya juga sering melihat gambar porno tapi untuk kali ini, hati nurani saya berkata tidak.

Di perjalanan pulang dari pondok pesantren, saya mengutarakan keheranan saya ke Ikhwan. Ternyata dia juga mengakui hal yang sama. Setelah agak lama bertanya-tanya dalam hati, akhirnya saya dan Ikhwan tertawa terbahak-bahak.

Itulah bedanya mata seorang kyai dengan mata santri seperti kami ini. Bagi kyai, gambar seronok tadi sama sekali tidak mengganggu pikirannya. Bahkan, mungkin mata batinnya tidak melihat gambar tersebut. Pikirannya terjaga dari hal-hal yang menggoyahkan ketenangannya. Sedangkan kami, yang mengaku santri, masih gampang terkecoh dan tak bisa berpikir jernih cuma karena gambar perempuan setengah telanjang. Sekali lagi, ini cuma gambar saja. Bukan yang lain. Lebih jahat lagi, kami malah berpikiran buruk terhadap pak Kyai.

Mata kami, mata santri cecunguk ini, meski sudah tidak melihat gambar tadi, masih tetap menerawang. Bahkan mungkin terbawa sampai tidur dan bermimpi.

5 April 2016

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.