Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Masih Tetap Mencari Sekolah Leadership

Submitted by on 21 June 2010 – 12:00 amNo Comment

Maaf, Oom Ale masih melanjutkan ocehan Oom Ale sebelum ini. Mudah-mudahan ini jadi serial terakhir untuk topik leadership. Oom Ale tidak bermaksud untuk membuat sinetron yang tiada akhir. Kebetulan saja ocehan Oom Ale ini terlalu panjang untuk ditulis dalam satu judul.

Hipotesa Oom Ale adalah program pendidikan MBA atau MM belum cukup berhasil mencetak pemimpin bisnis yang sejati. Program itu memang telah mampu melahirkan banyak manajer dan administrator handal. Tetapi bisnis tak cukup hanya dipimpin oleh manajer dan administrator. Bisnis membutuhkan pemimpin. Pemimpin yang memimpin dengan karakter dan visi, bukan sekedar dengan teori-teori.

Hipotesa nomor dua adalah program leadership center juga belum cukup berhasil mencetak pemimpin bisnis sejati. Menurut Oom Ale, banyak leadership center yang berkutat pada kisah-kisah klise tentang keberhasilan para pemimpin. Maaf, bukan maksud Oom Ale meragukan hasil penelitian para ahli leadership. Oom Ale juga tidak menganggap cerita-cerita kepahlawanan pemimpin tidak bermakna. Itu semua penting bahkan sangat penting untuk terus memenuhi kebutuhan-kebutuhan terbaru.

***

Masih ingat cerita Oom Ale yang terputus lalu? Pak Pemilik memPHK Oom Ale. Setelah Oom Ale disekolahkan MBA oleh perusahaan, lalu dicemplungkan dalam kawah candradimuka leadership center plus kegiatan outbound yang mengasyikkan itu, ternyata bukannya surat pengangkatan jabatan yang Oom Ale terima, melainkan surat pemutusan hubungan kerja plus selembar cek uang pesangon.

Untunglah semua itu hanya cerita di blog tidak penting ini. Kalau itu memang benar-benar terjadi di dunia nyata, wahduh Oom Ale bisa-bisa langsung jatuh pingsan saat itu juga. Namun kejadian yang serupa memang benar terjadi. Kejadian itu menimpa Abah Yossy. Beliau adalah paman Oom Ale; oom-nya Oom Ale.

Selama bertahun-tahun, sejak masih kuliah, Abah Yossy bekerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar terkenal di negeri ini. Mulai dari sekedar reporter freelance, lalu jadi wartawan yunior, terus naik pangkat menjadi wartawan lengkap dengan kartu persnya. Terus masuk ke tim redaksi. Karirnya termasuk cemerlang. Abah Yossy pun mengenyam berbagai kesempatan pendidikan jurnalistik, peliputan-peliputan penting, dan pengolahan berita-berita aktual. Tiras koran tempat ia bekerja pun menanjak. Jika pada awal tahun 80-an koran ini tak lebih dari Koran kota biasa, kini sudah menjadi koran nasional. Pimpinannya, Pak Syahlan, bukan lagi sekedar mengurusi koran. Bisnisnya berkembang seperti jamur di musim hujan. Sekarang Beliau malah jadi tokoh kelas nasional juga.

Di saat semuanya sedang menanjak, Pak Syahlan memanggil Abah Yossy. Di ruang kerjanya, Pak Syahlan menawari satu pilihan. Yaitu; keluar dari koran ini. Pak Syahlan akan meminjami modal untuk membuka koran baru di daerah Indonesia bagian timur. Silakan gunakan modal itu untuk menjalankan koran baru; termasuk buat makan. Selama tiga tahun Pak Syahlan tidak akan meminta deviden atau laba apa pun. Namun tiga tahun setelah itu, bisnis koran besutan Abah Yossy sudah harus bisa menguntungkan dan mandiri. Kalau tidak, maka modal akan ditarik. Bagaimana?

Abah Yossy pikir-pikir. Lalu, mengambil pilihan itu. Pergi dari kota besar ini, memboyong keluarga yang sebenarnya sudah cukup mapan, dan memulai semua dari awal di sebuah pulau kecil di sebelah timur sana. Selain memboyong keluarga, Abah Yossy juga memboyong mesin cetak bekas dan beberapa wartawan.

Singkat cerita. Koran yang dirintis Abah Yossy berkembang. Oom Ale tidak perlu cerita tentang jatuh bangunnya. Itu tidak relevan di topik ini. Sekarang bisnis Abah Yossy bukan cuma koran, tetapi juga macam-macam. Ada yang jatuh, lalu bangun, lalu sekarat, lalu bangkit. Namun, Abah Yossy yang Oom Ale kenal sekarang bukan sekedar wartawan melainkan seorang pengusaha. Lebih jauh lagi, Abah Yossy adalah seorang pemimpin bisnis.

***

Maaf kalau cerita Oom Ale tentang Abah Yossy terasa klise. Tetapi itu menguatkan pendapat Oom Ale bahwa pemimpin bisnis tidak dilahirkan atau pun dididik. Melainkan ditempa. Sekali lagi: ditempa.

Apa artinya ditempa? Ya, ditempa melalui pengalaman nyata dan otentik. Bukan melalui pelajaran dalam kelas yang hanya akan membuat si calon pemimpin itu lebih banyak menghafal. Bukan pula melalui kisah-kisah yang diceritakan berulang-ulang di medan pelatihan leadership center. Melainkan  melalui hal yang dialami secara langsung. Resiko yang dihadapi pun resiko yang nyata. Keberhasilan yang dirayakannya pun keberhasilan yang otentik. Bukan resiko hasil simulasi ruang kuliah. Bukan pula kemenangan semu karena mampu menembak lawan di war game.

***

Syukurlah pemilik perusahaan jamu tempat Oom Ale bekerja tidak se-freak Pak Pemilik di cerita Oom Ale yang lalu-lalu. Namun seandainya pemilik perusahaan tempat Oom Ale bekerja ini adalah Pak Pemilik, Oom Ale yakin perusahaan ini akan jauh lebih hebat. Biasanya, perusahaan-perusahaan tangguh selalu dipimpin oleh orang-orang “freak” yang sudah kenyang ditempa panas dan pedihnya bisnis.

Pak Syahlan juga adalah sosok yang freak. Selain Abah Yossy, masih ada beberapa orang lain yang ditempa oleh Pak Syahlan dengan cara-cara serupa: langsung dilempar ke jalan dan disuruh cari makan sendiri dengan bantuan bekal secukupnya. Justru karena tempaan itulah, kreativitas, daya survival dan visi Abah Yossy tumbuh (sesuatu yang sulit tumbuh di ruang kelas dan medan training).

Nah, sudah tahu maksud Oom Ale khan?

Hehehe, apakah ini berarti Oom Ale sedang mengharap pemilik perusahaan Oom Ale mau memberi pesangon …eh… modal buat Oom Ale mendirikan usaha mandiri?

Hussssyyy… bukan begitu. Tadi itu Oom Ale cuma cerita-cerita tidak penting aja kok. Kalau memang pemilik perusahaan tempat Oom Ale bekerja ini menawari pesangon… hiiiiyyyy… Oom Ale takut. Oom Ale masih belum berani mandiri hiiyyy… Oom Ale masih butuh gaji buat membayar cicilan mobil dan rumah. Ya, Oom Ale masih memilih jadi pegawai saja dulu.

Tapi, tunggu dulu. Kalau ini memang sebuah kenyataan… sungguh-sungguh nyata… bukan khayalan… itu sudah nasib… maka siapa takuuutt. Sikaaat…!!!

22 Jun 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.