Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Masih Mencari Sekolah Leadership

Submitted by on 14 June 2010 – 12:00 amNo Comment

Masih ingat cerita Oom Ale sebelum ini? Itu lho, tentang kuliah imajiner Oom Ale di program MBA yang ternyata tidak berhasil melahirkan pemimpin bisnis sejati. Alasannya simple saja. Program MBA atau MM dirancang menghasilkan orang-orang berpengetahuan manajemen untuk memimpin dan mensukseskan program-program manajemen. Memang benar bahwa bisnis memerlukan manajemen. Tetapi perusahaan bukan hanya membutuhkan manajer handal. Perusahaan membutuhkan pemimpin bisnis yang bisa membawa perusahaan pada visi cemerlang dan terobosan inovatif. Perusahaan bukan hanya butuh alat-alat manajemen yang rasional dan logis. Untuk memimpin bisnis, perusahaan butuh karakter bahkan intuisi.

Singkat cerita, perusahaan tempat Oom Ale bekerja mengalihkan perhatiannya bukan pada sekolah MBA atau MM, melainkan ke lembaga leadership center. Aha! Ya! Leadership center. Dari berbagai informasi yang dikumpulkan, ternyata ada banyak leadership center di Indonesia. Mereka memberikan pelatihan kepemimpinan. Mereka yakin setiap orang punya gen kepemimpinan. Setiap orang terlahir sebagai seorang pemimpin. Makanya, perlu diasah dan dilatih. Bukan sekedar diajari.

Sebagian besar leadership center didirikan berafiliasi dengan lembaga terkemuka dari luar negeri yang didirikan oleh tokoh-tokoh terkenal yang banyak meneliti topik leadership. Tokoh-tokoh ini menulis banyak buku, artikel, mengadakan seminar dan berbagai pelatihan yang diyakini mampu menginspirasi lahirnya pemimpin-pemimpin handal. Ini bukan sekedar pertimbangan gimmick, tetapi lebih pada konsep. Mereka mengemas konsep-konsep itu dengan istilah-istilah menarik. Seperti: “Lima Cara Jadi Jawara”, “Delapan Jalan Para Jagoan”, “Seribu Jurus Para Suhu” dan lain-lain.

Oom Ale pun dicemplungkan untuk mengikuti empat hari pelatihan kepemimpinan di sebuah leadership center terkenal dengan “Tujuh Rumus Sang Jenius”. Selama empat hari Oom Ale duduk manis di kelas mendengarkan para pelatih berpidato. Mereka menawarkan paradigma baru, menjelaskan karakter-karakter para pemimpin hebat. Selama di dalam kelas Oom Ale tidak pernah mengantuk. Itu karena para pembicara bukan sekedar mengoceh melainkan juga membangkitkan motivasi. Oom Ale jadi benar-benar tergerak.

Selanjutnya Oom Ale dikirim mengikuti pelatihan berbeda. Kali ini tidak melulu duduk di dalam kelas. Ada program outbond. Tema pelatihannya “Memimpin Bagai Jendral Tempur”. Programnya asyik-asyik. Ada baris berbaris ala tentara, penjelajahan dan survival di alam terbuka, olahraga arung jeram, paralayang, sampai naik turun jurang. Puncaknya adalah kegiatan war game, main perang-perangan. Pulang dari pelatihan yang melelahkan ini, Oom Ale merasa sudah jadi seorang jenderal sejati sekaligus pecinta alam tulen.

***

Selama beberapa bulan Oom Ale ditempa dalam berbagai leadership center. Kini tiba saatnya Pak Presdir memamerkan hasil pelatihan Oom Ale di depan Pak Pemilik. Pak Presdir dengan penuh bangga berkata, “Inilah Pak Ale yang kita persiapkan menjadi calon pemimpin bisnis perusahaan kita. Pak Ale akan mengantarkan perusahaan kita ke kejayaan yang lebih cemerlang dan gemilang.”

Mendengar ini Oom Ale jadi ikut bangga. Ya, Oom Ale yang sekarang berbeda dibanding Oom Ale yang dulu. Sekarang Oom Ale lebih penuh percaya diri, merasa lebih kreatif, dan inovatif. Oom Ale bukan sekedar manajer. Oom Ale adalah leader. Leader yang dibenaknya dipenuhi ide-ide hebat. Leader yang di dalam tubuhnya telah tumbuh karakter kuat.

Pak Pemilik mengamati Oom Ale dari ujung rambut sampai ujung sepatu. “Hmmm,” kata Pak Pemilik. “Apa visi Pak Ale untuk perusahaan ini?”

“Tentu selain menguntungkan, perusahaan ini harus bertanggung jawab memberikan sumbangsih bagi kehidupan masyarakat yang lebih baik,” jawab Oom Ale setelah berpikir sepersekian detik.

“Bagus pak, bagus,” kata Pak Pemilik. “Sudah berapa lama Pak Ale bekerja di perusahaan ini?”

“Sekitar lima belas tahun,” jawab Oom Ale mantab. Ini berarti loyalitas Oom Ale cukup teruji.

“Limabelas tahun? Sudah cukup waktunya,” kata Pak Pemilik. “Dengan masa bakti lima belas tahun, ditambah pengetahuan MBA dan latihan kepemimpinan yang intensif, maka sekarang adalah waktunya yang tepat buat Pak Ale untuk menjadi seorang pemimpin bisnis.”

Wowww… Hampir saja Oom Ale tersenyum lebar, tetapi rasa bangga itu Oom Ale tekan dalam dada supaya tetap tampak cool dan berkharisma.

Kemudian Pak Pemilik mengeluarkan sebuah amplop coklat dari lacinya. Kata Pak Pemilik, “Pak Ale, di dalam surat ini ada surat yang sangat penting untuk karir bapak. Mungkin keputusan saya dalam surat ini akan membuat Pak Presdir kecewa, tetapi saya yakin itu yang terbaik bagi anda dan perusahaan.”

Wooowww…surat apa itu? Oom Ale jadi deg-deg gembira. Apakah Oom Ale akan dinaikkan pangkat? Menggantikan Pak Presdir memimpin perusahaan ini? Senyum Oom Ale semakin lebar dan tak tertahankan.

Pak Pemilik melanjutkan, “Di dalam amplop ini ada surat pemutusan hubungan kerja Pak Ale. Maaf pak, perusahaan memutuskan untuk tidak lagi mempekerjakan bapak di perusahaan ini. Silakan bapak keluar dan memulai karir bapak di luar perusahaan ini. Di dalam amplop ini juga saya telah siapkan cek senilai pesangon bapak: dua kali lima belas tahun. Saya yakin itu cukup untuk bapak. Jadi, selamat jalan Pak Ale.” Pak Pemilik mengulurkan amplop itu kepada Oom Ale.

Pak Presdir terbengong-bengong. Oom Ale masih menganggap ini lelucon April mop.

Tapi Pak Pemilik berkata dengan tegas, “Saya tidak sedang bermain-main. Saya sangat-sangat serius. Saya kira ucapan saya tadi cukup jelas. Kami memPHK Pak Ale. Silakan terima pesangon ini. Selamat jalan. Dan silakan tinggalkan ruangan saya ini segera.”

Deg! Oom Ale harus berbuat apa?

***

Apakah leadership center mengajarkan apa yang harus Oom Ale perbuat saat menghadapi kejadian di atas? Kalau para leadership center itu mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus berani, kreatif, inovatif, visioner, maka apakah sebuah pelatihan bisa dianggap sukses jika Oom Ale bisa menghadapi pemutusan hubungan kerja yang disampaikan oleh Pak Pemilik?

Wahai para leadership center yang hebat-hebat itu, tolong tuliskan tanggapan anda: apa yang akan diperbuat oleh seorang pemimpin sejati saat menghadapi kejadian di atas. Oom Ale mengharap jawaban yang otentik, bukan jawaban yang klise dan diulang-ulang.

15 Jun 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.