Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Management By Plane

Submitted by on 3 May 2010 – 12:00 amNo Comment

Kalau anda menganggap judul tulisan di atas salah ketik, anda keliru. Celoteh Oom Ale kali ini bukan tentang management by plan, tetapi management by plane. Plane…? Iya..! Pesawat terbang…? Ho..oh..!!

Pak Nov baru saja mendapat julukan “manager by plane”. Ceritanya begini: dua tahun belakangan ini perusahaan tempat Pak Nov bekerja ingin memperluas bisnisnya ke negara-negara tetangga. Pak Nov ditunjuk sebagai manajer pemasaran. Maka tiba-tiba hidup Pak Nov berubah. Kalau biasanya Pak Nov lebih banyak mendekam di kantor, kali ini Pak Nov melanglang buana dengan pesawat terbang. Coba perhatikan jadwal perjalanan beliau. Januari, pameran di Kuala Lumpur. Februari, negosiasi dengan para agen di Ho Chi Min. Bulan berikut ke Penang. Lalu Osaka. Bahkan pernah nekad ke Dubai, dan menyelinap ke Copenhagen.

Kalau dihitung-hitung, Pak Nov lebih banyak menghabiskan waktunya di perjalanan ketimbang di kantor. Banyak rekan yang nyaris lupa kalau Pak Nov masih terdaftar sebagai karyawan perusahaan. Satu-satunya yang selalu ingat Pak Nov adalah Bu Melinda, sekretaris manis yang bertugas memesan tiket pesawat dan hotel.

Tapi jangan anggap Pak Nov melupakan pekerjaan kantor. Kemana pun Pak Nov pergi, selalu disertai dengan handphone dan laptop canggih. Setiap ada kesempatan, Pak Nov selalu menelpon, mengirim sms dan email ke para staf kantor. Selama perjalanan yang melelahkan, Pak Nov tidak pernah bengong. Pak Nov selalu berpikir keras tentang pekerjaan. Inilah manajemen kontemporer ala Pak Nov yang tidak dijalankan di belakang meja kantor, melainkan di ruang tunggu bandara, kabin pesawat, taksi dan kamar hotel.

“Inilah management by plane”, kata Pak Bengbeng, bos perusahaan multinasional. Beliau sudah belasan tahun menerapkan management by plane. “Hidup sebagai manager by plane tampak mengasyikkan dan penuh gaya, tetapi sebenarnya tidak segampang itu,” tutur Pak Bengbeng serius. “Kita harus punya manajemen yang kuat yang selalu bekerja baik selama kita tidak berada di kantor. Untuk itu kita harus bersedia mengurangi peran leadership kita dan membagikan wewenang kepada team manajemen. Mereka tidak perlu menunggu kita pulang untuk memutuskan hal penting. Semakin hebat leadership team manajemen, semakin mampu mereka memecahkan masalah tanpa kehadiran kita. Ironis, karena manajemen seolah semkain tidak lagi membutuhkan kehadiran kita sebagai pemimpin.” Pak Bengbeng menghela nafas panjang.

“Agar kita tetap dibutuhkan, maka management by plane harus bisa memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar pemecahan masalah sehari-hari,” lanjut Pak Bengbeng. Apa itu? “Ide segar dan inspirasi!” tegas Pak Bengbeng. Maksudnya?

“Perjalanan merupakan kesempatan yang baik untuk bertemu dengan hal-hal baru, orang-orang baru, budaya baru, produk atau cara-cara baru. Selalu saja ada hal baru ditemui di setiap perjalanan. Semua itu bisa memberikan ide-ide baru,” kata Pak Bengbeng. “Waktu tunggu adalah waktu emas untuk melakukan refleksi menemukan inspirasi. Kita tidak dibayar untuk selalu tertidur di bangku pesawat. Perusahaan juga berharap agar perjalanan berbiaya mahal ini memberikan hal-hal lain yang bermanfaat. Oleh karena itu, selain membawakan staf kita oleh-oleh camilan yang dibeli di bandara, sebaiknya kita juga bawakan buah tangan berupa inspirasi dan ide segar yang bisa diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari agar mereka merasakan betapa bermanfaatnya perjalanan kita ini.”

Wow..! Ini pendapat yang keren dari Pak Bengbeng. Mulai saat itu, Pak Nov berjanji untuk selalu membuka mata dan pikiran lebar-lebar selama bepergian. Siapa tahu Pak Nov bisa menemukan ide-ide jenius. Pak Nov pun tak ragu untuk memperbanyak rencana terbang. Kebetulan kemarin Pak Nov mendapat buku paspor baru yang masih kosong dan siap untuk dipenuhi oleh stempel imigrasi di berbagai negara.

“Tapi, jika tidak dikendalikan, management by plane adalah candu bagi para manajer,” celetuk Pak Bengbeng sambil terbahak-bahak.

Oh ya? Bagaimana mungkin management by plane bisa membuat kita kecanduan?

“Hahahaha… tingkat adiksinya sangat tinggi, terlebih lagi jika kita berwewenang untuk menentukan perjalanan kita sendiri,” kata Pak Bengbeng. “Perjalanan dinas membuat kita terlihat keren. Naik pesawat terbang ke sana kemari, menginap di hotel berbintang, menyantap menu lezat di restoran-restoran pilihan, mengunjungi tempat-tempat terkenal. Semua itu memberikan kesenangan dan kebanggaan. Kita membanggakan pengalaman terbang dengan macam-macam airlines, berganti dari satu hotel ke hotel lain, mencicipi aneka kuliner dari banyak negara. Bahkan, ada juga yang membangga pengalaman bercinta dengan pasangan dari berbagai bangsa. Itu semua menyenangkan. Dan, setiap yang menyenangkan selalu membuat ketagihan.” Pak Bengbeng mengedipkan sebelah mata.

“Tingkat kecanduan semakin parah ketika kita mulai cerdik memanfaatkan perjalanan dinas untuk kepentingan-kepentingan kepentingan pribadi,” tandas Pak Bengbeng.

Contohnya?

“Hahahaha… banyak…!! Ada yang suka mengajak istrinya ikut perjalanan dinas sambil plesiran. Lumayan bisa menghemat biaya hotel, makan pagi dan taxi. Ada yang sering ke Hongkong, konon untuk urusan kantor, tetapi pulangnya membawa barang dagangan untuk dijual di butik milik sendiri. Ada yang rajin keAustralia, katanya untuk mengembangkan pasar, padahal lebih banyak menengok cucu yang sedang lucu-lucunya di Melbourne. Yang hobi nonton Formula 1, sibuk menjadwalkan perjalanan bisnisnya bertepatan dengan tanggal balapan. Asyik kan? Itu kenapa, semakin sering manager by plane bepergian, semakin mudah dia terjangkit kecanduan nikmatnya bepergian. Semakin berwenang manager by plane mengatur perjalanannya sendiri, semakin mudah dia menemukan seribu satu alasan untuk bepergian. Bagi perusahaan, ini adalah sebuah penyakit yang harus diobati. Selain berbiaya besar, perjalanan-perjalanan bisnis yang terlalu sering tidak memberikan banyak manfaat,” cerita Pak Bengbeng panjang lebar. Jangan-jangan beliau sendiri juga terjangkit penyakit ini?

“Hahahaha…” Pak Bengbeng terbahak-bahak. “Semua manager by plane pasti akan kecanduan dengan nikmatnya bepergian.” jawab Pak Bengbeng mantab. “Hanya kendala fisik dan rasa tanggung jawab yang besar sajalah yang mampu menghentikannya.”

Pak Nov melirik catatan rencana jadwal bepergiannya tahun ini. Hmmm… bulan ini Pak Nov akan terbang ke Frankfurt. Tujuan pentingnya adalah untuk pameran, tetapi di waktu yang bersamaan ada acara pernikahan kerabat dekat disana. Apakah ini kebetulan? Oh ya, bulan depan Pak Nov berencana ke London, bertemu para distributor Eropa. Tetapi, sehari sebelum pertemuan, Pak Nov sudah berjanji ketemu dengan seorang investor yang katanya mau membangun pabrik minyak goreng di Indonesia. Kebetulan di tanah air Pak Nov punya kenalan yang bermaksud sama. Apakah sebuah kebetulan juga?

Kebetulan? Ya, management by plane selalu penuh kebetulan yang mengasyikkan. Sedangkan management by plan harus berjalan teratur di atas rencana-rencana yang seringkali membosankan.

“Itu kenapa sampai sekarang saya paling suka menerapkan management by plane,” tandas Pak Bengbeng sambil tertawa keras.

4 Mei 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.