Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Tempe, Tahu, Dadar Jagung

Kredit Tanpa Agunan, Tanpa Keperluan

Submitted by on 29 May 2016 – 12:00 amNo Comment

Beberapa kali saya tergiur menerima tawaran kredit tanpa agunan. Hasilnya, pinjaman itu justru habis untuk hal-hal yang tidak perlu dengan bermacam-macam alasan.

Image Credit: pop0926pop0926 | Pixabay.com

Telpon genggam saya berdering. Ada nomor tak dikenal muncul. Sebenarnya saya cukup sibuk hari itu. Saya ingin mengabaikan tetapi saya pikir tidak baik bertindak acuh. Ketika saya jawab, “halo”, terdengar suara wanita menyapa nama saya.

Dia memperkenalkan diri. Dia bekerja di salah satu bank penerbit kartu kredit saya. “Boleh minta waktunya sebentar?” tanyanya. Belum saya jawab, dia sudah langsung berceloteh. Katanya, saya terpilih mendapat fasilitas kredit tanpa agunan, langsung cair, tak perlu proses verifikasi. Nilai pinjamannya sekian juta rupiah. Bisa diangsur selama 3 bulan. Bunga nol persen. Cukup dengan membayar biaya provisi sekian puluh ribu saja. “Bagimana Pak Leo?” tanyanya.

Saya katakan dengan sopan bahwa saya tidak memerlukan pinjaman. Dia meyakinkan, kredit ini bisa digunakan untuk berbagai keperluan. “Untuk liburan atau membelikan sesuatu untuk istri dan anak-anak tercinta,” katanya seolah tahu isi rumah tangga saya.

Saya jawab sambil meminta maaf, saya tidak memerlukan pinjaman. Rupanya dia cukup gigih. Katanya, ini kesempatan yang sangat baik. Jarang sekali ada nasabah yang terpilih untuk mendapatkan fasilitas ini. Saya pasti orang yang sangat istimewa. Saya sedikit tersanjung. Sejenak saya berpikir, mungkin saya bisa gunakan kredit ini untuk jaga-jaga jika ada keperluan mendadak.

Sekali lagi saya minta maaf dan tetap berusaha sopan. Saya katakan saya belum memerlukan. Mungkin di lain waktu. Dia tidak menyerah. Dia pasti telemarketer yang hebat. Kali ini, dia memberi penawaran menarik. Saya tidak perlu mengangsur mulai bulan depan, melainkan dua bulan kemudian. Syaratnya, kredit dicairkan minggu depan, selepas tanggal 15. “Ini lebih meringankan Pak Leo,” katanya cepat. “Bagaimana pak?”

Pikiran saya menerawang. Ini bukan yang pertama. Saya pernah ditawari kredit seperti ini. Saya selalu menerimanya. Sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan, namun saya tergiur. Saya pun tak cukup tega menolak bujukan para sales telemarketing. Hasilnya? Uang itu justru habis untuk hal-hal yang tidak perlu. Pernah saya berpikir, kredit itu bisa dianggap sebagai tabungan yang saya angsur. Ternyata tabungan itu selalu saja habis dengan macam-macam alasan.

Kali ini saya menolak dengan tegas, “Maaf, saya sibuk sekarang. Saya tidak memerlukan kredit. Terima kasih.” Dia mencoba membujuk, tetapi saya tak boleh ragu, “Sekali lagi maaf. Selamat siang.” Ucapan saya serius dan menekan. Dia membalas salam lalu kami menutup telepon. Sopan saja tidak cukup, menghadapi penawaran-penawaran menarik dari seperti ini saya harus tegas dan tak perlu berbelas kasihan.

10 April 2016

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.