Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Dari Toelangan

Kerbau

Submitted by on 5 February 2010 – 12:00 amNo Comment

Bicara tentang kerbau, menurut saya, tidak ada kisah yang lebih indah selain kisah kerbau di cerita Saijah dan Adinda di novel Max Havelaar, karangan Multatuli, yang saya baca semasa SMP dulu. Semua kebaikan dan makna kerbau bagi kehidupan petani Jawa ada di situ. Kerbau adalah lambang kesejahteraan keluarga. Selain kuat, dan rajin bekerja, kerbau digambarkan memiliki sifat-sifat luhur, seperti setia, patuh, dan berani. Bahkan, kerbaunya lah yang menyelamatkan Saijah dari serangan macan. Ketika kerbaunya dirampas oleh penguasa Lebak, seluruh keluarga Saijah bersedih hati. Tapi dari kerbaunya pula Saijah belajar untuk tidak takut. Ia melawan. Ia memberontak. Ia berperang. Meski, akhirnya toh harus mati.

Tapi perkenalan saya dengan kerbau terjadi pada saat saya belajar membaca di Sekolah Dasar. Di salah satu buku pelajaran SD ada cerita dengan ilustrasi anak gembala sedang meniup seruling di atas punggung kerbau. Pastilah si penggambar menganggap kerbau adalah hewan yang bisa hidup damai bersama manusia, juga mungkin bisa menikmati musik. Rasanya sampai sekarang saya belum pernah melihat gambar anak kecil itu bermain seruling sambil menunggang kambing apalagi banteng.

Perkenalan masa kecil itu berlanjut saat saya melihat berbagai lukisan pemandangan alam pedesaan. Lukisan gunung, sawah, sungai dan pak tani kurang lengkap tanpa ada kerbau sedang membajak sawah. Pastilah kerbau adalah pekerja yang baik. Memang semua perkenalan saya dengan kerbau bersifat fiktif dan romantis. Ketika saya dewasa, menikah dan tinggal di Toelangan, lukisan itu menjadi nyata. Setiap berangkat kerja pagi-pagi saya selalu melintasi jalan sawah-sawah Toelangan sampai Krembung. Pemandangan gunung Penanggungan dan Welirang jadi latar belakang hamparan sawah pagi, sayur dan tebu. Meski semakin jarang, tapi masih saja ada petani yang membajak sawah menggunakan kerbau. Kerbau memang lamban, namun untuk urusan membajak sawah, kerbau lebih kuat dibanding sapi. Itu berarti kerbau harus bangun dan bekerja di sawah jauh sebelum matahari terbit. Tentulah kerbau bukan binatang malas.

Malahan di dusun mertua saya, Ganting, kerbau jadi sosok penting di upacara “ruwat desa”. Kerbau dikurbankan sebagai penolak balak dan bencana. Kerbau disembelih lalu dagingnya dibagikan ke seluruh desa. Biarpun agak keras dan liat, istri dan anak-anak saya doyan menyate daging kerbau jatah ruwatan.

Belakangan ini, di koran saya membaca Pak Presiden mengingatkan seuatu hal lain tentang kerbau. Agaknya Pak Presiden gerah melihat aksi demonstrasi di ibukota yang membawa-bawa kerbau yang badannya ditempeli poster beliau. Pak Presiden tersinggung karena mengira para demonstran itu menyamakan dirinya dengan kerbau. Kerbau, kata Pak Presiden, badannya besar, tapi malas dan bodoh.

Tafsir negatif untuk kerbau bukan hal baru. Ada peribahasa, “bagai kerbau dicucuk hidungnya” yang berarti orang penurut dan bodoh. Kerbau pun dijadikan simbol perbuatan asusila, misalnya: kumpul kebo.

Ketika SMA dulu saya punya teman yang badannya besar dan gendut. Kami mengolok-oloknya seperti kerbau. Tapi teman saya ini tidak pernah tersinggung. Memang teman saya bukan pemalas, dungu apalagi asusila. Malahan dia ini jago main voli. Posisi spesialisnya adalah serve dan pengumpan bola yang cerdik. Dia hanya tertawa-tawa saja ketika diolok kebo. Mungkin dia mengira kami menganggap dirinya kuat seperti kerbau. Karena dia tidak mudah marah, banyak anak yang senang berteman dengannya.

Saya bukannya mau menggurui Pak Presiden. Saya hanya berasumsi, keprihatinan Pak Presiden itu disebabkan beliau menafsirkan simbol kerbau hanya dari separuh tafsir, yaitu malas dan bodoh, sedangkan kehebatan-kehebatan kerbau, seperti kuat, tenang dan berani serta dipuja oleh petani, justru diabaikan. Mudah-mudahan asumsi saya keliru.

Mungkin pada awalnya ide membawa kerbau ikut berdemonstrasi bukan ide serius dan iseng-iseng belaka. Bahkan mungkin ada demonstran yang tidak setuju karena akan merepotkan saja. Bagaimana kalau kerbau tadi mengamuk atau buang kotoran sembarangan. Siapa yang akan bertanggung jawab. Namun ternyata melalui kerbau, para demonstran itu berhasil mengusik ketenangan Pak Presiden. Sekarang semua orang tahu bagaimana cara efektif menyulut emosi Pak Presiden. Kita pun tahu, semakin uring-uringan saat diolok-olok, biasanya semakin gencar pulalah olok-olokan itu. Maka tidak heran jika makin marak orang berdemonstrasi dan mengolok-olok Pak Presiden sambil membawa kerbau, atau setidaknya mengenakan topeng kerbau.

Tadi pagi, saat perjalanan berangkat kantor, melintasi sawah-sawah Toelangan – Krembung, saya bertanya pada teman seperjalanan saya, Nanang, “Nang, apa benar kerbau tidak pernah buang kotoran sembarangan?” Setelah berpikir sejenak, Nanang menjawab, “aku kok tidak pernah melihat kotoran kerbau berceceran di jalan-jalan ya? Yang banyak justru kotoran sapi dan kuda.” Rupanya kerbau punya otak juga. ***

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +2 (from 2 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.