Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Tempe, Tahu, Dadar Jagung

Kenikmatan Business Class

Submitted by on 1 May 2016 – 12:00 amNo Comment

Selama duduk di penerbangan business class saya harus “jaga image” dan bersikap santai, seolah-olah duduk di kelas bisnis bukan hal yang istimewa bagi saya.

Image Credit: pop0926pop0926 | Pixabay.com

Entah bagaimana ceritanya, hari itu saya ketiban rezeki. Naik pesawat terbang di kelas bisnis. Garuda pula. Hampir setiap bulan, karena urusan pekerjaan, saya harus mondar-mandir Surabaya-Jakarta dengan pesawat terbang. Tentu saja di kelas ekonomi, sesuai jatah  kantor. Tapi, kali ini saya bisa mencicipi duduk di kelas bisnis. Jangan tanya asal muasal semua kejadian ini.

Yang pasti, duduk di kelas bisnis itu nyaman, lega dan saya merasa semua penumpang memperhatikan saya sambil menunjukkan muka iri dan setengah tak percaya. Saya pun harus “jaga image” dan bersikap santai, seolah-olah duduk di kelas bisnis bukan hal yang istimewa bagi saya.

Hanya ada empat orang penumpang di kelas bisnis. Dua pria necis, mengenakan jas dan dasi. Mungkin mereka top eksekutif di perusahaan besar. Ada satu wanita setengah baya, berkacamata hitam lebar, menenteng tas bermerek. Mungkin istri pejabat tinggi. Dan saya, memakai seragam kerja dengan bordiran nama perusahaan di atas saku kemeja. Meski penampilan saya biasa-biasa, tapi di kelas bisnis status saya naik beberapa tingkat dibanding mereka yang berdesak-desakan di kelas ekonomi.

Tiba-tiba saya disapa oleh seorang teman. Tentu saja ini kejutan yang menyenangkan. Bertemu seseorang saat duduk di kelas bisnis terasa berbeda. Ada rasa bangga bercampur besar kepala. Kami berbasa-basi sejenak. Kemudian dia bergegas ke deretan belakang. Ke kelas ekonomi!

Pramugari melayani saya dengan santun. Mereka menyuguhi makanan hangat, aneka minuman disertai perbincangan ramah. Terbayang, para penumpang di kelas ekonomi sekarang pasti hanya menyantap jatah roti dalam kotak karton. Mereka pun diladeni oleh pramugari yang selalu tampak terburu-buru. Suasana di kelas bisnis tenang, tak seperti kelas ekonomi yang hiruk pikuk tak jelas.

Satu jam perjalanan berlalu dengan cepat. Pesawat mendarat ringan. Sebagai penumpang istimewa kami dipersilakan turun terlebih dahulu. Saya melangkah anggun, memberi senyum kemenangan pada para crew. Segera setelah meningalkan pesawat saya bergegas menuju pintu keluar. Tujuan saya selanjutnya adalah mendapatkan taxi.

Hari itu bandara begitu sibuk. Saya harus menunggu lama untuk mendapat giliran taxi. Saya menoleh kanan-kiri, mencari tiga orang penumpang seperjalanan di kelas bisnis tadi. Mereka tak tampak. Mungkin mereka sudah dijemput oleh kendaraan pribadi yang mewah dan nyaman. Saya harus mengakui, kenikmatan kelas bisnis hanyalah sementara. Hanya saat berada di atas pesawat. Di daratan, saya menemukan kelas diri yang sesungguhnya. Yaitu, orang biasa yang menunggu taxi bersama keringat dan udara gerah Jakarta.

6 April 2016

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.