Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Kenapa Manajemen Berbohong

Submitted by on 9 August 2010 – 12:00 amNo Comment

Ada satu teknik manajemen yang 99,99% dipakai oleh para manajer di seluruh dunia. Yaitu: berbohong…!

Setidaknya ada tiga alasan kenapa manajemen berbohong. Pertama, menjaga ego. Manajemen terdiri dari orang-orang, yang berarti terdiri dari ego-ego. Semakin tinggi posisi seseorang dalam manajemen, semakin besar egonya. Semakin besar perusahaan, semakin berat beban ego yang harus dipertahankan. Dalam dunia modern yang menganut paham progresifitas, manajemen harus terus-menerus mencapai sukses dan lebih sukses lagi. Itu sama saja dengan terus-menerus memompa ego lebih besar dan lebih besar lagi.

Ke dua, bohong adalah alat untuk menyelesaikan masalah. Anda benar, itu berarti manajemen harus berbohong lagi untuk menutupi bohong sebelumnya. Dalam situasi tertekan dimana masalah tak kunjung tuntas, maka bohong selalu jadi teknik manjur untuk membungkam semua kritik dan omelan.

Alasan ke tiga… Hmmm… sebaiknya anda ikuti kisah Pak Presdir berikut ini.

***

Pak Presdir pusing bukan kepalang. Penjualan jamu sampai lewat kuartal ke tiga tahun ini jeblok di bawah budget. Padahal di rapat tengah tahunan bersama para presdir dari seluruh grup lalu, beliau meyakinkan perusahaan yang dipimpinnya bisa mengejar kekurangan omset sampai akhir tahun.

Pagi tadi beliau baru saja membaca laporan penjualan sampai minggu ke tiga bulan ini. Hanya mencapai 50%. Semestinya minimal 75%. Sontak saja suhu badan Pak Presdir panas dingin.

Dua minggu ke depan akan ada rapat grup lagi untuk membahas performa kuartal ke tiga. Pak Presdir membayangkan, seandainya penjualan bulan ini bisa 15% di atas target, maka impaslah laporan penjualan kuartal ke tiga ini. Impas lebih bagus ketimbang minus lalu diolok-olok top manajemen. Bagaimana ini..?!

Trriiiitt…!! Handphone Pak Presdir menjerit. CFO dari head quarter menelpon. Pak Presdir menepuk jidatnya. Plakk!! Tapi hanya dalam sepersekian detik nada bicaranya berubah jadi riang gembira. “Halo Pak CFO..!! Apa kabar…? Ya… ya.. baik.. baik.. hahahaha.. beres… bulan September ini kami yakin bisa melewati target… pasti.. pasti..! Sampai minggu ke tiga ini kami sudah mencapai 75% lho..! We’re on the right track… yakin deh… kuartal ke tiga ini kita bisa memenuhi target. For sure..!”

Jelas Pak Presdir berbohong. Laporan penjualan mengatakan, bulan ini sulit mencapai target. Situasi sedang lesu. Sebabnya macam-macam. Mulai dari serbuan jamu produk rumahan yang murah, isue jamu palsu, sampai resesi dunia. Tapi, Pak Presdir tidak mau tahu. Yang beliau tahu secara pasti, jika penjualan di kuartal ke tiga ini tetap anjlok, maka tim dari head quarter akan turun untuk cek sana, cek sini. Ini bukan saja merepotkan, tapi menjengkelkan. Salah-salah beliau bisa didepak dari kantornya.

“Saya tidak mau tahu! Sales bulan ini harus 15% di atas target!,” teriak Pak Presdir meradang ke jajaran manajemennya.

“Tapi, penjualan memang lagi benar-benar sulit pak,” kata Direktur Sales tak kalah bingung.

“Kreatif dong..! Kreatif..!” Pak Presdir memutar otak. “Masukkan order bulan depan sebagai penjualan bulan ini. Barang tidak perlu dikirim ke distributor. Anggap saja distributor titip di gudang kita. Beri termin kredit lebih panjang. Iming-imingi mereka dengan bonus produk. Mundurkan diskon sampai bulan depan. Jangan dulu membukukan retur dari outlet.”

“Tapi pak, itu menyalahi prosedur internal kita,” sergah Bu Ann, direktur keuangan.

“Apa you mau, para auditor dari head quarter datang ke sini mengobok-obok manajemen kita gara-gara penjualan tidak mencapai target?” bentak Pak Presdir.

Bu Ann menciut. Matanya berkaca-kaca.

“Kerjakan..!!!” perintah Pak Presdir membahana ke seluruh penjuru perusahaan.

Segera saja, staf penjualan merayu para distributor untuk mau membuka order. Di saat yang sama, staf gudang di pabrik membuatkan surat jalan penjualan dengan tujuan pengiriman ke gudang mereka sendiri. Dilanjut para staf keuangan mencetak tagihan dengan masa kredit tambahan 30 hari. Pada akhir bulan, setelah membolak-balik jurnal yang rumit, para staf akunting melaporkan bahwa pejualan bulan ini mampu melewati target, sebanyak 14.87%, dibulatkan menjadi 15%

Pak Presdir tersenyum lebar, persis seperti grafik menanjak yang ditampilkan di ajang rapat grup di head quarter. Ternyata Pak Presdir tidak sendiri. Semua presiden direktur dari anak perusahaan lain tidak mau kalah. Semua tersenyum lebar. Termasuk jajaran CEO, CFO, Komisaris dan owner. Rapat ditutup dengan tepuk tangan meriah. Plok.. plok.. plok..

Sembari mengantri mengambil menu coffee break, Pak CFO mencolek Pak Presdir. “Bagaimana mungkin dalam satu bulan ini, you bisa memenuhi kekurangan target satu kuartal?” bisik Pak CFO.

“Eh.. ya.. hmmm,” Pak Presdir berpikir keras menemukan jawaban yang tepat. Sebenarnya beliau lebih siap untuk ngopi ketimbang menjawab pertanyaan seperti ini.

“Lain kali sebaiknya you atur lebih smooth deh… Jangan sampai lonjakan penjualan di bulan ini tampak mencolok. Mestinya you bisa atur mulai awal kuartal. Untung tadi owner tidak tanya macam-macam. Bukan you saja yang repot menjawab, saya juga bisa ikutan repot karena harus menurunkan tim audit untuk memeriksa catatan penjualan you. Situasi memang lagi susah. Tugas kita adalah jangan buat owner ikutan susah,” bisik Pak CFO panjang lebar.

Ok bos, lain kali kita perbaiki. Mudah-mudahan sampai akhir tahun ini kita tidak sampai di bawah target. Selain susah menjelaskan ke owner, juga susah menjelaskan ke karyawan karena mereka bakal kehilangan bonus tahunan,” jawab Pak Presdir tersenyum kecut.

***

Itulah alasan ke tiga mengapa manajemen perlu berbohong: “to make everybody happy..!!” Hidup dalam dunia bisnis itu susah. Karenanya jangan dibuat tambah susah. Kejujuran memang perlu. Namun jika itu membuat para top manajemen menjadi gelisah, maka banyak manajemen memilih berbohong saja. Toh semua orang tahu itu adalah kebohongan. Tetapi semua orang lebih suka bergembira ketimbang uring-uringan.

10 Agu 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.