Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Dari Toelangan

Kawin Muda

Submitted by on 29 July 2010 – 12:00 amNo Comment

Di sela-sela obrolan ngalor-ngidul pengisi rehat makan siang, salah seorang teman kantor melemparkan pertanyaan, “Tiba-tiba anak kalian yang masih kuliah minta kawin, padahal pacarnya juga masih kuliah dan belum bekerja. Apa kalian setuju?”

Kami tertawa mendengar pertanyaan ini. Ada-ada saja. Topik obrolan di meja makan kantin memang selalu ada-ada saja. Tetapi khusus untuk yang satu ini, jawabannya nyaris mutlak: tidak setuju! Alasannya macam-macam. Mulai dari belum siap, masih terlalu muda, harus lulus kuliah dulu, belum bekerja, sampai perlunya anak menikmati masa bujangan lebih lama. Skor akhir: tiga orang tidak setuju versus satu orang setuju, yaitu saya sendiri.

Apa yang salah dengan kawin di usia muda? Kawin muda, kenapa tidak? “Tapi, kawin perlu persiapan, terutama mental!” sergah teman saya yang bertanya. Teman saya benar. Perkawinan bukan main-main.  Harus dipersiapkan secara serius. Bagi saya, sepanjang anak saya dan pacarnya benar-benar saling mencintai, mau saling memahami satu sama lain, dan yang terpenting, menunjukkan sikap dewasa dan bertanggung jawab atas masa depannya sendiri, maka itu mestinya sudah bisa dibilang siap untuk kawin.

“Tapi diakanmasih kuliah?” potong teman saya yang lain. Lho, menikahkantidak harus menghambat kuliah. Siapa tahu setelah menikah indeks prestasi mereka malah lebih yahud karena mereka lebih fokus belajar dan tidak lagi suka kelayapan setiap hari “Soal biaya kuliah dan uang saku?” tanya teman saya yang satunya. Lha memangnya setelah anak-anak menikah, orangtua boleh merasa terbebas dari tanggung jawab membiayai kuliah mereka sampai selesai? Masya orangtua tega membiarkan pendidikan anaknya lebih rendah ketimbang orangtuanya sendiri? Kalau tidak segan, urusan uang kuliah dan tetek bengeknya dirundingkan dengan besan agar bisa ditanggung renteng.

Ya, ya, ya.. Anda mungkin tidak setuju dengan ide “tanggung renteng” karena seolah mendidik anak-anak untuk tidak hidup mandiri. “Semestinya sebelum menikah calon pengantin sudah siap secara financial, minimal sudah bekerja, sehingga kehidupan pernikahannya tidak menjadi beban bagi orang lain,” kata teman saya yang berikut. Saya setuju. Mempunyai pekerjaan tentulah lebih baik ketimbang pengangguran yang hanya menggerogoti uang belanja orangtuanya saja. Oleh karena itu, anak-anak yang kawin muda dan masih kuliah itu perlu didorong agar mereka tidak malas untuk bekerja. Toh di jaman sekarang ini ada cukup banyak lowongan yang bisa diisi oleh para mahasiswa. Misal, jadi pengajar di bimbingan belajar, tenaga casual atau paruh waktu akhir pekan, terlibat di proyek-proyek kampus juga bisa dianggap sebagai tempat belajar cari uang. Kalau memang tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan, lagi-lagi orangtua jangan hanya berpangku tangan. Bolehlah orangtua memodali mereka agas bisa berbisnis.  Berdagang tidak kenal umur dan status. Membuka booth tidak perlu malu. Yang penting halal wal taybah. Sepanjang anak-anak kita telah terdidik untuk hidup penuh tanggung jawab, saya yakin mereka pasti akan memperjuangkan jalannya sendiri.

Sekarang tentang “menikmati masa bujang.” Saya tidak bisa menilai apakah berlama-lama menikmati masa bujang lebih baik ketimbang segera kawin. Saya juga tidak tahu apakah orang yang puas membujang serta merta akan berkeluarga lebih baik. Saya menduga, mereka yang kawin muda justru belajar lebih dini tentang hidup dengan tanggung jawab dan komitmen. Lebih jauh lagi saya rasa, pasangan kawin muda akan lebih banyak mengalami masa-masa hidup yang menakjubkan dibanding mereka yang kawin belakangan. Tidak percaya?

Saya buktikan. Coba bayangkan betapa senangnya kita dulu saat melewati masa-masa bulan madu, betapa syahdunya kita saat sama-sama berjuang membangun keluarga, mengusahakan penghasilan, mencari tempat tinggal sendiri, betapa terharunya kita melihat kelahiran anak-anak dan betapa selalu terpesonanya kita mengamati pertumbuhan dan perkembangan mereka. Bukankah semua itu adalah peristiwa-peristiwa ajaib nan luar biasa yang hanya kita alami setelah menikah? Jadi… ijinkah saya mempromosikan bahwa kawin muda memberikan lebih banyak waktu untuk mencicipi pengalaman-pengalaman menakjubkan itu.

Ya, saya mengerti. Anda mengernyitkan kening. Semua itu memang tidak seindah cerita-cerita roman. Selalu saja ada kesulitan dalam mengarungi kehidupan perkawinan. Namun, bukankah kesulitan pasti melanda siapa pun yang memutuskan untuk berkeluarga, entah mereka yang memasukinya di usia muda atau yang antri di barisan belakang. Saya juga tidak yakin pada anggapan bahwa tingkat perceraian pasangan kawin muda lebih tinggi dibanding mereka yang kawin di usia mapan. Saya yakin kuncinya bukan pada semata-mata usia, melainkan tanggung jawab.

Ke tiga teman makan siang saya hanya senyam-senyum saja melihat saya berceloteh panjang lebar tentang hebohnya kawin muda. Mereka merasa tak perlu membantah ucapan-ucapan saya, karena mereka tahu, saya tidak sedang membual. Saya adalah pelaku kawin muda, kalau usia dua puluh tahun lebih delapan bulan plus sekian hari dianggap terlalu dini untuk menikah.

Kala itu saya dan istri saya masih sama-sama kuliah semester 7, belum bekerja, masih meminta belas iba uang saku dari orangtua masing-masing meski di beberapa kesempatan saya belajar bekerja dengan mengajar di sebuah bimbingan belajar, dan mendapat tambahan uang saku dari honorarium sebagai reporter majalah kampus. Setahun kemudian, anak pertama kami lahir. Ayah saya mencarikan lowongan untuk saya, sehingga saya bisa bekerja dan tidak lagi menjadi liabilities bagi cashflow orangtua. Selama bertahun-tahun saya harus menjadi parasit karena menumpang di rumah mertua sembari membangun rumah sendiri sedikit demi sedikit. Ketika usia saya empat puluh tahun, anak pertama saya masuk kuliah, padahal anak pertama dari kebanyakan teman sebaya saya baru masuk SMP. Tentu saja saya tidak menyesal telah kawin muda. Saya pun berusaha untuk tidak berbangga-bangga meski saya menganggapnya sebagai salah satu keputusan terjenius saya selama hidup ini. Jadi, mengapa saya harus melarang anak saya kawin meski dia masih kuliah? Maaf, bukannya saya mau merongrong kebijaksanaan pemerintah agar bangsaIndonesiatidak buru-buru menikah di usia muda. Namun, perkenankan saya menunjukkan rasa syukur itu di sini.

Di akhir jam makan siang, saya merasa sayalah pemenang sesungguhnya atas pertanyaan di atas. ***

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +2 (from 2 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.