Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Tempe, Tahu, Dadar Jagung

Kakek-Kakek Generasi Z

Submitted by on 15 May 2016 – 12:00 amNo Comment

Kalau boleh, saya tidak dipanggil kakek atau eyang atau embah oleh cucu saya. Bagaimana kalau saya dipanggi “Yangbro”; kependekan dari Eyang + Bro..!

Image Credit: pop0926pop0926 | Pixabay.com

Ketika anak perempuan pertama saya mengabarkan bahwa ia positif hamil, sontak seisi rumah melonjak-lonjak girang. Terutama istri saya. Ia sampai menitikkan airmata. “Alhamdulillaah, aku mau punya cucu. Aku akan jadi eyang,” kata istri saya. Eyang adalah sebutan halus di daerah kami untuk seseorang yang sudah mempunyai cucu. “Aku mau dipanggil yangti,” lanjut istri saya. Yangti adalah kependekan dari “eyang putri” alias nenek.

Kalau istri saya dipanggil yangti, maka semestinya saya dipanggil “yangkung” kependekan dari “eyang kakung” atau “eyang laki-laki” alias kakek. Panggilan-panggilan tadi memang sudah menjadi tradisi di keluarga kami. Anak-anak saya memanggil kakek dan nenek mereka juga dengan panggilan yangti dan yangkung.

Tapi mengikuti tradisi keluarga rupanya menimbulkan masalah buat dua anak perempuan saya yang lain. Sebagai bibi, mereka akan dipanggil “bulik” oleh calon keponakan. Mereka menolak mentah-mentah dipanggil bulik. “Kuno. Nggak modern,” begitu alasannya. Bagaimana kalau dipanggil “tante”. Bukankah mereka juga memanggil “tante” kepada tante-tante mereka? “Nggak mau!,” bantah mereka. “Panggilan tante itu buat yang berumur 30 tahun ke atas. Ayah, aku belum setua itu.”

Lantas, mereka minta dipanggil apa? “Aunty…!!” kata mereka kompak. Terdengar lebih modern, bergaya keinggris-inggrisan dan enak ditulis di social media. Tapi, dalam sejarah keluarga kami, belum ada yang menggunakan istilah aunty. Apa kata keluarga besar nanti? Istri saya merenung sejenak. Akhirnya, ia setuju, “Tak ada salahnya pakai bahasa Inggris. Yang penting kita tetap menjunjung tinggi nilai luhur nenek  moyang.”

Satu masalah selesai. Muncul masalah yang lain. Kali ini dari saya. Kalau anak-anak boleh menggunakan panggilan yang berbeda, saya pun begitu. Saya tidak mau dipanggil yangkung. “Lantas, kamu mau dipanggil apa?” tanya istri saya kesal. Saya bilang, saya mau dipanggil “yangbro” kependekan dari “eyang brother”. Mana ada panggilan yangbro? Memang tidak ada. Saya baru membikin sendiri khusus untuk cucu saya.

Kenapa yangbro? Pertama, karena “bro” adalah panggilan akrab yang sedang populer. Saya ingin jadi kakek yang selalu akrab dengan cucu-cucu. Rasanya asyik jika kelak cucu saya berteriak, “yangbroo..!!” lalu kita high five. Seperti main dengan teman sendiri.

Kedua, supaya saya tetap merasa selalu muda. Coba bandingkan, anda dipanggil “mbaaah” atau “kakeeek” oleh cucu anda. Rasanya, anda sudah tua banget. Sedangkan saya dipanggil “yangbrooo” oleh cucu saya. Tentu, panggilan saya lebih keren. Maklumlah, saya kan kakek-kakek generasi Z; yang selalu ingin update, tampil fit, tak mau kalah semangat dengan yang muda-muda.

9 April 2016

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.