Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Ingin Jadi Direktur? Gampang!

Submitted by on 22 March 2010 – 12:00 amOne Comment

Menjadi direktur? Wooowww..! Itu angan-angan banyak karyawan. Mereka yang yakin pada kemampuannya dan punya segenggam ambisi layak masuk dalam persaingan memperebutkan karier sebagai seorang direktur.

Jika kita mengintip kerja Pak Bos, menjadi direktur tampaknya menyenangkan. Beliau tinggal perintah sana perintah sini. Lalu travelling keliling dunia. Makan enak sambil entertain tamu di tempat-tempat yang cozy. Di kantor pun tidak perlu berkeringat karena ada sekretaris yang selalu siap membantu semua pekerjaan; mulai dari mengetik, menyiapkan bahan rapat sampai membuatkan kopi panas.

Tentu tidak sesederhana itu. Direktur bukan jabatan yang tiba-tiba jatuh dalam pelukan begitu saja. Para petinggi perusahaan pasti mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan apakah seseorang layak menjadi direktur. Hanya mereka yang trampil, pintar, cerdas dan bermental baja sajalah yang pantas. Karenanya, anda yang ingin menjadi direktur harus mengasah diri anda terus menerus.

***

Tapi bagi Oom Ale, untuk menjadi direktur gampang sekali. Cuma perlu waktu satu bulan saja.

+ Waaaaww, Oom Ale ngibul yaa?

Husss.. tidak lah. Ini sungguhan dan nyata.

+ Ceritain dong Om..?!!

Awal tahun 90-an, Oom Ale bersama Oom Yani dan Oom Dikin sepakat untuk berwirausaha. Sebenarnya waktu itu kami masih bekerja di sebuah pabrik sandal. Tapi demi masa depan yang cerah kami mulai merintis usaha sendiri. Usaha yang bagaimana? Tentu yang bisa kami kerjakan dengan baik sesuai keahlian akademik dan tidak banyak mengganggu waktu kerja kami sebagai pegawai. Setelah diskusi ngalor-ngidul, kami memutuskan membuka jasa konsultasi manajemen keuangan. Service yang kami sediakan meliputi jasa penyusunan sistem akuntansi, penghitungan pajak, programming komputer dan macam-macam.

Kami tidak mau usaha ini hanya asal-asalan sekedar pengisi waktu. Kami ingin sungguh-sungguh. Sebagai langkah awal keseriusan, kami mendirikan kantor lengkap dengan telepon, komputer dan macam-macam, lalu membuat kartu nama dan proposal. Bahkan kami merekrut dua tenaga marketing untuk menyebarkan proposal dan mencari klien. Tapi itu belum cukup. Kami lalu menghadap ke notaris dan meresmikan usaha ini menjadi sebuah badan usaha. Kami merasa cukup mendirikan CV saja. Kami sudah punya nama keren untuk CV kami, yaitu CV Fokus Indonesia. Plok.. plok.. plok..

Pada hari yang ditentukan, kami menghadap notaris. Sang ibu notaris yang gemuk itu menjelaskan aturan dan pasal standar di akta pendirian CV. Kami semua mengangguk-angguk sok paham. Sampai akhirnya, sang notaris meminta kami untuk menunjuk siapa-siapa yang menjadi direktur CV Fokus Indonesia. Kami sepakat, Oom Ale diangkat menjadi direktur utama. Sedangkan Oom Yani dan Oom Dikin menjadi direktur.

Selesai acara penandatanganan akta, kami membayar ongkos notaris sebesar Rp. 125 ribu (saat itu zaman masih murah..!!). Kami pulang dengan gembira dan tertawa terbahak-bahak karena tiba-tiba masing-masing dari kami mempunyai jabatan direktur. Padahal di pabrik tempat kami bekerja, Oom Ale hanyalah kepala seksi, sedangkan Oom Yani dan Oom Dikin adalah staf biasa. Kini, di kartu nama kami tertera jabatan hebat: direktur CV Fokus Indonesia. Woowww… benar-benar keren…!

+ Terus.. terus..?

Sebagai direktur utama, tugas Oom Ale mendata klien potensial, menyiapkan proposal, lalu dengan berboncengan motor kami keluar masuk toko dan pabrik untuk menawarkan jasa konsultasi. Syukurlah, ada juga toko dan perusahaan yang tertarik menggunakan jasa kami untuk menghitungkan pajak atau menyiapkan sistem akuntansi. Tapi, usaha ini tidak berlangsung lama. Kami bubar akibat cekcok di antara para direktur dan karyawan. Topik percekcokannya pun klasik: pembagian honor.

+ Kesimpulannya?

Kesimpulannya, menjadi direktur itu gampang. Cukup kita ke notaris, mendirikan badan usaha, lalu catatkan nama kita sebagai direktur. Beres! Soal apakah usaha kita berjalan langgeng atau bubar, itu soal lain.

+ Tapi menjadi direktur dengan cara seperti itu bukan jalan karier yang semestinya Oom?

Kalau bukan karier, lantas apa dong?

+ Itu namanya wirausaha. Dalam berwirausaha kita bisa menentukan nasib kita sendiri, termasuk jabatan kita.

Nah, justru di situlah point-nya. Menjadi direktur sebuah perusahaan sesungguhnya mudah saja. Yang paling sulit adalah bekerja. Yang paling dibutuhkan oleh CV Fokus Indonesia adalah kerja keras dari Oom Ale, bukan jabatan Oom Ale. Sekarang CV Fokus Indonesia sudah lenyap dari peredaran, sedangkan Oom Ale masih bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan jamu milik orang lain.

Sama halnya dengan CV Fokus Indonesia, perusahaan jamu tempat Oom Ale bekerja lebih membutuhkan kerja Oom Ale, ketimbang jabatan Oom Ale. Perusahaan sebenarnya tak peduli apa jabatan kita. Kelangsungan perusahaan tidak terletak pada jabatan dan pangkat, melainkan pada “kerja” setiap orang di dalamnya.

Sesungguhnya yang membutuhkan nama pangkat dan jabatan adalah diri kita sendiri. Sebagai karyawan, kita ingin menunjukkan eksistensi penting dalam strata sosial pekerjaan kita.

Berbekal pengalaman dari CV Fokus Indonesia yang amburadul, Oom Ale berkeyakinan bahwa bekerja jauh lebih menarik dan bermanfaat ketimbang berkarier; kecuali jika karier tidak diartikan sebagai perjalanan meniti tangga dari satu pangkat ke pangkat yang lain.

***

Omong-omong soal jabatan direktur, Oom Ale tidak berkecil hati. Sampai saat ini Oom Ale menjabat sebagai direktur di sebuah usaha dagang atau UD yang dikelola oleh Tante Nik. Kalau tidak percaya, silakan cek di data SIUP UMKM yang dikeluarkan oleh Pemda tempat tinggal Oom Ale. Sebagai direktur UD itu, tugas Oom Ale adalah mengantar Tante Nik kulakan alias belanja barang dagangan, mengangkut barang dagangan, sampai mengirim barang ke konsumen. Anda boleh bilang bahwa bukan itu tugas seorang direktur utama, tetapi Oom Ale yakin itulah arti kerja yang sesungguhnya.

23 Mar 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.