Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Impulsive Management

Submitted by on 24 May 2010 – 12:00 amNo Comment

Pernah mendengar istilah “Impulsive Management”? Oom Ale belum pernah menemukan istilah ini di literatur manajemen. Mungkin koleksi buku manajemen Oom Ale kurang up-to-date. Bahkan Oom Ale sendiri tidak tahu apakah istilah ini memang benar-benar ada dalam wacana manajemen modern. Tapi tidak penting apakah istilah ini ada di buku atau tidak, karena dalam dunia nyata kita sering berjumpa dengan salah satu style manajemen yang luar biasa ini: manajemen yang impulsif alias gampang terangsang. Mau bukti? Berikut kisah hidup Oom Ale.

***

Jam tujuh pagi dalam perjalanan ke kantor Pak Bos teringat sesuatu, kemudian menghubungi Pak Ton, manajer Personalia. Telpon tidak terjawab. Tiga kali dihubungi, tiga kali itu juga dijawab oleh bunyi tuuut… tuuut… tuuutt… Sepertinya handphone Pak Ton sedang off. Pak Bos berpikir sejenak, lalu mencoba menghubungi Pak Har, manajer pabrik. Ada nada masuk, namun tidak juga diangkat. Tiga kali dihubungi, tiga kali itu juga tidak terangkat. Pak Bos mulai kesal. Kemudian Pak Bos menghubungi sekretarisnya, Bu Amel, yang manis itu. Whelahdalah, sepertinya semua hp di pagi ini sedang ditinggal  pemiliknya. Memang ada nada masuk, tapi sama sekali dijawab. Beat per minute dada Pak Bos mulai menanjak.

Lalu Pak Bos menelpon ke kantor, langsung dijawab oleh suara operator telpon nan lembut, “Terima kasih. Anda menghubungi PT. Jamu. Silakan tekan nomor ekstension…” Tut, Pak Bos menekan tombol nol sebagai tanda untuk berbicara dengan sang operator. Beberapa saat menunggu… ha..ha..ha..ha… tidak ada yang menjawab. Benar-benar bikin gemas deh. Sebenarnya di kantor ada seorang office boy yang sedang bersih-bersih dan mendengar suara telpon berdering-dering. Tapi otaknya berkata, “Sebodo amat!”.

Pak Bos nyaris membanting telponnya. “Kemana saja semua orang pagi ini? Apakah aku sedang hidup sebatang kara di dunia ini? Grrrggghh!!!” Pak Bos geram. “Harus diberi pelajaran! Jam delapan kita rapat..!” Begitu perintah Pak Bos kepada semua manajer.

Jam delapan pagi Pak Bos sudah siap di depan ruang rapat. Satu per satu manajer masuk ke ruang rapat sambil menyapa dengan wajah pagi nan segar dan senyum lebar, “Pagi… Pak Bos..!”

Pak Bos manyun. Tanpa banyak basa-basi Pak Bos langsung menyampaikan prosedur baru, “Mulai hari ini berlaku empat prosedur baru. Satu: sebelum pulang kantor, kalian harus memastikan batere handphone kalian fully charged. Tidak ada alasan kalian tidak bisa dihubungi gara-gara low batt. Dua: selama tidak rapat, semua hp harus dalam mode berdering. Dilarang menyetel hp dalam mode getar. Dengan demikian tidak ada alasan kalian tidak mengangkat telpon lantaran tidak mendengar jerit hp kalian. Tiga: hp harus selalu berada tidak lebih dari sejangkauan tangan kalian dan setiap panggilan masuk harus diangkat paling lambat pada dering ketiga. Empat: operator telpon harus sudah masuk kantor pada jam tujuh pagi. Paham..??”

Para manajer celingak-celinguk sejenak tapi karena yang berbicara adalah Pak Bos, mereka segera mengangguk-angguk, pertanda setuju saja. Tapi ada seorang manajer yang nekad bertanya, “Sebenarnya ada masalah apa pak?”

Untunglah kecepatan detak jantung Pak Bos sudah mulai reda. Lantas Pak Bos menceritakan apa yang dialaminya pagi ini, dimana semua orang penting tidak bisa dihubungi, bahkan tidak seorang pun di kantor yang mengangkat telpon.

“Sebenarnya ada office boy yang sudah mulai bekerja pada jam tujuh pagi,” kata Pak Ton meluruskan.

“Kalau begitu, interogasi dia. Kenapa dia tidak mengangkat telpon masuk?!” geram Pak Bos muncul lagi. “Mulai besok, operator telpon harus sudah stand by di depan mejanya sejak jam tujuh!”

“Baik pak, tapi sebenarnya ada masalah apa sehingga bapak perlu menghubungi kami pagi-pagi?” tanya si manajer nekad tadi.

“Begini, jam sepuluh nanti kan ada tamu VVIP dari Jepang yang bermaksud meninjau pabrik jamu kita. Saya ingin memastikan bahwa tulisan di welcome board di depan kantor sudah benar mencantumkan Mr. atau Ms. Jangan sampai yang seharusnya ditulis Mr. malah ditulis Ms. atau sebaliknya,” jawab Pak Bos.

“Sudah benar pak. Bukankah kita sudah punya prosedur untuk mengkonfirmasikan kepada setiap tamu apakah mereka Mr. atau Ms.” jawab Pak Ton cekatan.

“Goooodddd,” Pak Bos tersenyum lebar. “Rapat selesai..!”

***

Hidup kita selalu dipengaruhi oleh berbagai rangsangan alias impuls. Manajemen pun tak luput dari impuls-impuls yang merangsang seluruh panca indera, emosi dan kecerdasan. Sebagaimana makhluk hidup lain, manajemen bertindak menanggapi rangsangan yang datang. Ini tidak salah. Ini hal yang alami saja.

Namun perlu diingat bahwa tugas terbesar manajemen adalah memecahkan masalah. Tidak semua rangsangan adalah masalah. Tidak semestinya manajemen selalu menanggapi semua rangsangan yang menggoda. Manajemen harus bisa membedakan mana impuls dan mana masalah. Mana yang harus dipecahkan, mana yang harus dipinggirkan. Jika manajemen anda selalu menanggapi setiap rangsangan sebagai masalah, maka manajemen anda termasuk dalam kelompok impulsive management. Manajemen seperti ini mudah terangsang dan mudah bereaksi. Dan itu biasanya berujung pada keputusan yang ceroboh alias grusa grusu. Akibatnya, banyak pekerjaan menjadi mubazir serta tidak menyentuh inti persoalan.

***

Mungkin anda mengatakan bahwa kisah hidup Oom Ale di atas merupakan contoh ekstrim. Tapi percayalah dalam kehidupan manajemen sehari-hari dengan mudah kita dapat menemukan gaya manajemen impulsif dalam berbagai tingkat keparahannya.

Seandainya saja Pak Bos cukup bersabar menunggu sampai tiba di kantor jam delapan pagi kemudian meminta penjelasan dari Pak Ton mengenai penulisan Mr. dan Ms. di welcome board,  maka Oom Ale yakin tidak perlu muncul empat prosedur baru yang mengatur penggunaan handphone dan jam kerja operator. Bahkan mungkin tidak perlu menginterogasi office boy yang tak tahu apa-apa. Sayang Pak Bos tak cukup mampu memanajemeni rangsangan pagi ini sehingga yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu manajemen yang diatur oleh impuls-impuls sesaat.

Tapi jangan berkecil hati. Di mana ada minus, di situ ada plus. Impulsive management punya sisi terang; yaitu membuat hidup penuh gairah, bergejolak dan kita akan bekerja dengan fleksibilitas yang sangat tinggi.

25 Mei 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.