Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Harus Bisa Berbohong

Submitted by on 5 July 2010 – 12:00 amNo Comment

Salah satu cara memverifikasi order pembelian adalah melakukan “price check”, yaitu membandingkan harga pembelian dengan harga yang berlaku di pasar. Tujuannya adalah memastikan perusahaan memperoleh harga terbaik. Price check yang dilakukan oleh bagian keuangan bisa membuat jantung staf pembelian berdebar-debar, terutama jika ternyata bagian keuangan bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Karena sering membuat kaget dan dilakukan diam-diam, prosedur price check ini disebut juga “surprise check”.

Sebenarnya “surprise check” oleh bagian keuangan ini tidak perlu ada jika prosedur pembelian berjalan ketat. Namun karena ada kasus kick back yang menggoyahkan kepercayaan manajemen kepada staf bagian pembelian, Pak Bos minta Oom Ale menggiatkan lagi aktivitas spionase dalam manajemen ini.

Oom Ale minta kepala bagian keuangan, Bu Yayuk, melakukan surprise check. Semestinya ini bukan tugas sulit. Bukankah kita sudah terbiasa membeli dan menawar. Bu Yayuk pun menerima tugas ini dengan senang hati.

Siang itu Bu Yayuk menelpon CV. Arta Makmur untuk mencek harga filter tipe tertentu. Selama ini perusahaan selalu membeli filter tersebut dari CV. Arta Makmur. Nilai transaksinya cukup besar. Sebenarnya ada perusahaan lain yang bisa memasok, namun konon harga mereka jauh lebih mahal.

“Rp. 450 ribu per unit,” jawab staf penjualan CV. Arta Makmur ramah. “Kalau ibu beli dalam jumlah besar dan rutin, saya bisa beri diskon. Berapa pemakaiannya dalam sebulan bu?”

Bu Yayuk mengintip ke catatan yang sudah disiapkan. “Sekitar 15 unit,” jawab Bu Yayuk mantab.

“Wah, banyak juga ya bu. Kalau boleh tahu ibu dari perusahaan jamu mana?”

“Jamu..? Kok tahu.. eh.. maaf… saya dari Jember,” jawab Bu Yayuk sedikit tergagap.

“Ooo.. ternyata di Jember ada perusahaan jamu besar ya bu?” tanya staf CV. Arta Makmur lagi.

“Lho, memangnya kenapa?” kali ini Bu Yayuk yang jadi bertanya-tanya.

“Filter yang ibu tanyakan adalah filter khusus untuk industri jamu sirup. Saya baru tahu kalau di Jember ada pabrik jamu sirup,” jelas staf CV. Arta Makmur.

“Uh… oh.. ya kami ini baru berdiri pak,” jawab Bu Yayuk dengan tetap tergagap.

“Oh ya selama ini beli cartridge filternya dari mana?” tanya staf CV .Arta Makmur lagi.

“Ah, anu, dari PT. Filtropax,” jawab Bu Yayuk sekenanya.

“Lho, setahu saya, Filtropax adalah pemasok filter untuk water treatment, bukan untuk produksi jamu sirup. Di Indonesia agen filter jamu sirup hanya kami dan PT. Andalan,” jelas staf CV. Arta Makmur.

“Aaah.. benar,” seru Bu Yayuk. “Kami membelinya dari PT. Andalan.”

“Baik kalau begitu bu. Saya akan berikan harga Rp. 425 ribu. Itu sudah saya diskon cukup bagus lho bu. Bagaimana?” kata staf CV. Arta Makmur.

“Wah, apa tidak bisa kurang ya pak?” kata Bu Yayuk.

“Itu bisa diatur. Tapi kami perlu datang ke pabrik ibu untuk memastikan bahwa filter kami memang sesuai dengan kebutuhan. Boleh saya catat alamat perusahan Bu Yayuk?” tanya staf CV. Arta Makmur.

“Ah.. uh.. boleh pak. Boleh. Sebentar yaa.. saya ambil buku alamat.” Kali ini Bu Yayuk kelabakan mencari nama perusahaan dan alamat yang cocok untuk misi berpura-puranya ini. Di tengah kelabakannya itu, tanpa sadar Bu Yayuk meletakkan gagang telpon ke tempatnya. Klik! Sambungan pun terputus begitu saja. Di seberang sana, staf CV. Arta Makmur kebingungan, “Halo.. halo.. Bu Yayuk.. Kok telponnya diputus?”

***

“Saya gagal pak,” kata Bu Yayuk dengan wajah memelas. “Saya selalu grogi kalau harus berpura-pura, apalagi ditanya macam-macam oleh supplier.”

“Masya begitu saja tidak bisa,” kata Oom Ale sedikit heran. “Berlatih bohong-bohong sedikit lah.”

“Perasaan saya tidak enak, pak. Apalagi kalau bohong saya ketahuan, saya jadi salah tingkah semua.”

“Ibu harus membuat persiapan. Sebelum menghubungi suplier, ibu harus menyiapkan skenario yang lengkap.”

“Wah, kalau itu sih namanya bukan bohong-bohong sedikit pak, tapi banyak. Pokoknya saya tidak bisa kalau disuruh berpura-pura. Sebaiknya bapak menugaskan orang lain saja,” kata Bu Yayuk.

“Wah, saya lebih percaya Bu Yayuk,” jawab Oom Ale. “Siapa yang menurut ibu bisa melakukan tugas ini?”

“Tidak tahu ya pak. Menurut saya, Pak Ale pasti ahli dan berpengalaman menangani tugas price check seperti ini,” jawab Bu Yayuk mantab. Wah..! Jadi Bu Yayuk menganggap Oom Ale adalah orang yang pandai berpura-pura, berakting dan berbohong ya? Hiks.. hiks.. hikss..

***

Sudahlah mari kita akui saja, dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, kita sering menggunakan teknik berbohong untuk mencapai tujuan. Meski tidak tertulis dalam prosedur resmi perusahaan, teknik berpura-pura dan berbohong adalah alat taktis untuk menyelesaikan pekerjaan. Mulai dari pekerjaan sederhana di meja operator telpon sampai strategi tingkat tinggi di ruang presiden direktur. Mulai dari staf akunting yang berbohong bahwa laporannya sudah selesai, sampai ke manajer penjualan yang membual bahwa kualitas produknya nomor satu. Dimana-mana selalu ada bohong. Termasuk Oom Ale sendiri, kalau sudah kepepet, maka keluarlah seribu alasan yang tentu semua itu tidaklah benar.

Oom Ale tidak membahas tentang dosanya berbohong. Oom Ale hanya ingin menunjukkan bohong adalah sesuatu yang niscaya dalam kehidupan bisnis dan manajemen. Mungkinkah sebuah perusahaan bisa berjalan baik tanpa menggunakan teknik berpura-pura atau berbohong? Menurut Oom Ale, pasti bisa! Tapi Oom Ale tidak tahu bagaimana caranya membangun perusahaan seperti itu. Oom Ale juga tidak tahu apakah ada contoh perusahaan seperti itu. Mungkin anda tahu perusahaan mana yang meraih kesuksesan tanpa berbohong sekali pun. Kalau ada, tolong Oom Ale diberi tahu yaaa..? Tapi jangan tersinggung, kalau Oom Ale akan bertanya pada anda, “anda tidak bohongkan?”

6 Jul 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.