Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Dari Toelangan

Gus Dur

Submitted by on 12 January 2010 – 12:00 amNo Comment

Saya belum pernah bertemu Gus Dur. Apalagi bersalaman dan mencium punggung tangannya. Namun anehnya saya mencintai beliau. Saat mendengar kabar Gus Dur wafat, saya berusaha menahan namun diam-diam airmata saya meleleh begitu saja. Tiba-tiba saya merasa sangat kehilangan. Begitu sampai beberapa hari kemudian.

Bagaimana mungkin saya menangisi kepergian seseorang yang belum sekalipun saya bertatap wajah, berbincang bahkan bergaul secara langsung?

Sejak masih SMA di pertengahan tahun 80-an saya sudah membaca beberapa kolom beliau di Kompas dan Tempo, mulai dari ulasan sepakbola, Islam sampai budaya dan politik. Yang paling menarik adalah tulisan tentang dunia pesantren berikut tokoh-tokoh kiainya. Seloroh-seloroh yang dilontarkan cukup menggelitik, membuat kolom-kolomnya terasa ringan dibaca. Tapi jujur saja, meski pun begitu, hanya sedikit yang bisa saya mengerti. Daya jelajah saya tak cukup untuk memahami apa yang dimaui Gus Dur.

Saya terlahir beragama Islam dari orangtua Cina dan Sunda. Saya tahu bagaimana rasanya menjadi minoritas ketika seseorang memanggil saya Cina dengan mimik miring. Sebaliknya, saya juga merasa mayoritas sewaktu ber-Jum’atan di masjid Jami’. Sejak kecil, prularisme, toleransi dan moderasi sudah menjadi pelajaran berkehidupan saya. Maka saya pun seolah menemukan dalil konfirmasinya dari pemikiran-pemikiran Gus Dur. Tapi saya tidak yakin kita bisa mencintai seseorang hanya dari membaca tulisan-tulisannya.

Saya lalu membaca berita-berita Gus Dur di media massa. Saya terkesan pada keberaniannya berbeda pendapat (baca: menentang) rejim orde baru. Saya selalu mengikuti perkembangan Gus Dur dengan berdebar-debar. Mulai dari persaingan beliau versus Abu Hasan, hubungan pasang surut dengan keluarga Cendana, masa-masa seputar kejatuhan Soeharto, PKB dan aneka pertikaiannya, periode kepresidenannya yang terlalu singkat, sampai akhir hayatnya. Pendek kata Gus Dur adalah semacam berita bergenre thriller yang tak boleh saya tinggalkan.

Sebenarnya banyak tindakan dan ucapan Gus Dur yang tidak saya mengerti dan membingungkan. Greg Barton menemukan istilah yang pas: Pendekar Mabuk. Tidak mudah bagi saya untuk menerima kenyelenehan dan jurus-jurus Gus Dur. Beruntung saya mempunyai kenalan seorang alim yang selalu bisa menjelaskan semua sepak terjang Gus Dur. Kata alim tersebut, “Gus Dur adalah wali Allah.”

Apakah saya percaya bahwa Gus Dur adalah seorang wali? Saya tidak tahu, karena hanya wali yang bisa mengenali wali. Yang saya percaya, Tuhan menyayangi dan menjaga Gus Dur sedemikian rupa. Yaitu dengan memberinya, nyuwun sewu, kekurangan fisik. Seandainya mata Gus Dur tidak buta, tidak cacat dan lumpuh, tidak sakit berkepanjangan, maka mungkin akan sangat mudah bagi musuh-musuhnya untuk menjerat Gus Dur dengan fitnah-fitnah terkeji, seperti harta, wanita dan tahta. Sebaliknya, saya melihat betapa Gus Dur adalah sosok yang tampak sangat hangat, sederhana, terbuka, jujur dan apa adanya. Ini sejalan dengan testimoni dari Saifullah Yusuf, Muhaimin Iskandar, Ahmad Tohari dan puluhan orang lain tentang kehidupan Gus Dur.

Tapi Tuhan pun memberinya kekuatan yang tiada tara. Sejak muda ia berkeliling ke seluruh negeri. Beliau tidak hanya menjadi guru bagi sekelompok santri di pesantren-pesantren. Diakui atau tidak, Gus Dur mengajari sebuah generasi tentang kehidupan berkebangsaan yang indah dan berdaulat. Semua sepakat, Gus Dur adalah guru bagi bangsa ini. Namun Gus Dur bukan sekedar guru yang hanya selalu berdiri di depan murid-muridnya. Gus Dur adalah sebuah pergerakan.

Meski kondisi fisiknya terus menurun, pembelaannya terhadap kelompok minoritas dan yang tersudutkan tidak pernah surut. Beliau membuka pintu lebar-lebar bagi penganut keimanan dan kepercayaan lain. Mempersilakan setiap kaum untuk mengekspresikan adab dan budayanya. Memberikan tangan bagi mereka yang terpojokkan. Menyambung silaturahmi dan berteman dengan begitu banyak orang, golongan, profesi dari berbagai macam lapisan. Bahkan, beliau menggamit bekas seteru-seterunya. Dalam keadaan sakit payah pun, saya selalu melihat Gus Dur memberikan air wajah terbaiknya, yaitu senyum lebar nan khas. Itu dilakukannya tak terputus sampai akhir hayatnya. Saya yakin, semua itu hanya bisa dilakukan dengan satu kualitas tertinggi: cinta dan kasih sayang.

Ya, saya mecintai Gus Dur karena saya percaya Gus Dur memberikan semua pengorbanannya dengan penuh cinta kasih. Cinta kasih yang tak berpretensi akan dibalas kasih oleh mereka yang tak berpretensi pula.

Saya menemukan kebenarannya saat saya melihat ribuan orang menangis dan mengantar jenazahnya, ribuan umat dari beragam agama, keimanan, suku dan warna kulit memanjatkan doa di masjid, surau, gereja, kelenteng, kuil memohon kelapangan jalan bagi Gus Dur, ribuan rakyat serta merta satu kata menyematkan pahlawan nasional. Saya semakin meyakini itu saat pagi lalu saya menziarahi makam beliau di Tebu Ireng, Jombang. Saya berjumpa dengan puluhan peziarah yang sama-sama ingin menunjukkan cinta kami pada sang almarhum. Bersimpuh dan membaca doa di depan sebuah kuburan beliau yang basah dan ditumpuki bunga mawar melati yang sangat sederhana. Ya, makam itu terlalu sederhana bagi sebuah sosok yang besar.

Saya belum pernah bertemu Gus Dur. Apalagi bersalaman dan mencium punggung tangannya. Namun saya mencintai beliau. Dan, itu sama sekali tidak aneh. ***

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.