Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Smart Work

Etika Karyawan Memiliki Bisnis Sampingan

Submitted by on 18 December 2015 – 12:00 amNo Comment

Mempunyai bisnis sampingan adalah angan-angan kebanyakan karyawan. Dapatkah kita menjalankannya tanpa merusak reputasi kita sebagai karyawan teladan?

Image Credit: Startup Stock Photos | Pixabay.com

Mempunyai bisnis sendiri adalah hak bagi setiap orang. Sama halnya bagi setiap karyawan untuk mencari penghasilan tambahan dengan menjalankan bisnis sampingan. Persoalan seorang karyawan yang memiliki bisnis sampingan bukan sekedar bagaimana bisa membagi waktu, melainkan juga menyangkut persoalan etika. Mark Wexler, seorang profesor etika di Simon Fraser University, mengingatkan bahwa meski bisnis sampingan bisa meningkatkan income, juga bisa membahayakan karir karyawan. “Reputasi Anda berada dalam resiko besar,” demikian kata Profesor Wexler. “Anda mungkin dapat meningkatkan penghasilan dalam jangka pendek, namun kehilangan seluruhnya dalam jangka panjang.”

Berikut beberapa etika bagi karyawan yang memiliki bisnis sampingan.

1. Dahulukan kepentingan perusahaan.

Apakah perusahaan Anda mempunyai aturan tentang bisnis sampingan? Meski perusahaan secara informal membolehkan karyawannya memiliki bisnis sampingan, namun sebagian besar perusahaan tidak “suka” karyawan “menduakan” waktunya bagi perusahaan dan bisnis pribadi. Selain alasan produktivitas, alasan lain adalah menyangkut soal aspek kerahasiaan informasi perusahaan dan hukum. Oleh karena itu, pastikan Anda tidak melakukan kegiatan bisnis Anda di jam kerja utama. Tetaplah fokus dan bekerja keras demi kepentingan perusahaan. Jagalah kepentingan dan rahasia perusahaan pada tempat yang seharusnya.

2. Hindari konflik kepentingan.

Sangat tidak etis jika bisnis Anda menjadi pesaing bagi perusahaan Anda bekerja. Juga tidak etis Anda bersaing dengan pemasok perusahaan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan perusahaan. Ini membuat Anda tidak bisa bersikap profesional terhadap perusahaan tempat Anda bekerja. Jangan pula berbisnis dengan pesaing-pesaing perusahaan tempat Anda bekerja. Jangan menjadikan bisnis Anda seperti “perusahaan” di dalam perusahaan. Terapkan praktek-praktek bisnis yang sehat dan fair. Bagaimana pun Anda perlu menjaga kondite Anda. Jangan rusak itu demi tambahan penghasilan dari bisnis sampingan.

3. Terbukalah.

Usaha sampingan Anda mungkin tidak memerlukan ijin dari perusahaan tempat Anda bekerja. Namun langkah paling tepat adalah berbicara secara terbuka mengenai bisnis pribadi Anda. Lebih baik atasan Anda mengetahui keberadaan bisnis Anda dari Anda sendiri ketimbang dari orang lain. Jelaskan bisnis Anda secara baik dan terhormat. Biarkan atasan Anda menilai apakah bisnis Anda tidak mengganggu bisnis perusahaan. Jika perusahaan keberatan dengan bidang bisnis Anda, percayalah masih terbuka luas peluang usaha yang lain.

4. Hindari masalah-masalah legal.

Anda menemukan suatu formula baru yang Anda kerjakan di laboratorium milik perusahaan. Pertanyaannya, siapakah pemilik hak cipta atas formula tersebut? Apakah Anda dapat begitu saja menjual produk dengan formula tersebut melalui perusahaan pribadi Anda? Anda harus mempertimbangkan aspek-aspek legal yang biasanya cukup rumit ini. Sebaiknya menjauh dari area abu-abu dan selalu melakukan konsultasi dengan bagian hukum perusahaan Anda. Contoh kasus lain yang menarik dibahas secara etis maupun legal: jika Anda seorang chef di sebuah restoran yang tahu resep rahasia masakan tertentu, apakah Anda akan melayani pesanan serupa secara pribadi? Lebih baik bersikap “tidak” daripada permisif demi reputasi baik Anda.

5. Miliki peralatan kerja terpisah.

Kecuali jelas peraturannya, jangan gunakan fasilitas kantor untuk keperluan bisnis sampingan Anda. Bahkan meski perusahaan membolehkan Anda menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan pribadi sampai batas tertentu, sebaiknya Anda tetap mempunyai peralatan kerja yang terpisah dan menggunakannya untuk kepentingan bisnis Anda sendiri. Jika terpaksa Anda harus menggunakan peralatan kantor, Anda harus meminta ijin dan membayarnya sesuai dengan kesepakatan. Jika Anda ingin mendapatkan penghasilan tambahan maka Anda juga harus bersedia mengeluarkan modal tambahan. Logis bukan?

Selain masalah etika, Anda juga perlu memperhatikan kemampuan, termasuk daya tahan tubuh Anda. Jika Anda jatuh sakit karena terlalu keras mengerjakan usaha sampingan Anda, apakah perusahaan tempat Anda bekerja rela mengganti biaya pengobatannya?

Untuk mencegah Anda memeras tenaga terlalu berlebihan dalam menjalankan bisnis sampingan, Anda perlu mempunyai tujuan lebih dari sekedar mendapatkan penghasilan tambahan. Misal, Anda ingin mengembangkan ide dan bakat yang tidak tersalurkan di perusahaan tempat Anda bekerja. Dengan demikian Anda akan menemukan kesenangan yang lebih berkualitas. Selamat berbisnis sampingan sekaligus tetap menjadi karyawan teladan.

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.