Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Musik

Erwin Gutawa – Rockestra

Submitted by on 25 July 2010 – 12:00 amNo Comment

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 3.5/5 (2 votes cast)
Artis: Erwin Gutawa
Album: Rockestra
Jumlah Lagu: 13
Tahun: 2006

Erwin Gutawa bergerak bukan hanya sebagai seorang pemain bas. Ia memilih jadi musisi. Bahkan lebih besar lagi, menulis dan mengatur apa yang harus dimainkan oleh para musisi.

Kalau mau ditulis, sudah cukup panjang dan lebar perjalanan dan pengalaman Erwin Gutawa di dunia dan industri musikIndonesia. Dan, daftar itu semakin panjang dengan kehadiran album Rockestra di tahun 2006. Album yang bermaksud menafsir ulang nomor-nomor rock (?) pilihan melalui permainan orkestrasi.

Rock dan orchestra memang bukan barang baru di dunia musik. Banyak rocker yang membangun kemegahan musik rock dengan meminjam aransemen orkestrasi. Namun, di khasanah musikIndonesia, upaya ini teramat jarang. Makanya, yuk kita simak Rockestra-nya Erwin Gutawa yang ciamik ini. Kalau ada yang merasa permainan orkestra cukup berat buat pendengaran kita, jangan kuatir, saya juga bukan pendengar serius kelas orkestra. Tapi, sekali-sekali kita cicipi boleh juga untuk kesehatan jiwa.

Overture. Medley dari beberapa lagunya God Bless. Ya, sebagai pembuka, Erwin Gutawa bermaksud pamer kesaktiannya dalam menyusun aransemen orkestrasi. Buat kuping saya yang ndeso ini, maaf, nomor ini terlalu berat dan nggak jelas mau kemana. Menurut saya, ketimbang repot-repot membuat repertoir ini, mending menggarap lebih serius nomor “Kasih Tak Sampai”nya Piyu dan “Bendera”nya Eros yang cuman sepenggal-sepenggal itu. Tapi, salut buat produser yang mau mbiayai London Symphony Orchestra untuk bermain di album ini. 

Kehidupan. Aslinya lagu ini asyik dan ngerock. God Bless gitu loh! Kini dibawakan duet Andy “/rif” danRoy“Boomerang”. Rasa rocknya terkalahkan oleh orkestrasi yang menurut saya terlalu cari perhatian. Maunya megah dan dramatis, apalagi jadi nomor awal, tetapi orkestrasinya malah terlalu berat dan berlebihan sehingga groovenya hilang. Untung setelah intermediate groove itu muncul meski orkestrasinya masih juga overexposed. 

Hilangnya Seorang Gadis. Lagu lawasnya Deddy Dorres ini diaransemen jadi begitu megah, galak dan dramatis. Celoteh biolanya judes banget. Sip! Vokal Ryo Domara boleh juga meski di beberapa bagian interpretasinya rada aneh. 

Rock Bergema. Dibuka dengan kocokan gitar yang full cadas distorsi lantas disusul string yang juga berusaha bercadas ria. Yeah! Yopie “Mata”, pendatang baru hasil audisi, cukup berhasil membawakan semangat rock n roll. Ditambah solo gitar dari Pay BIP, tambah jreng. One of my choice. Roxx memang rock. 

Malaria. Asli, saya belum pernah mendengar versi asli lagu ini. Mendengar lagu ini pertama kali dari Kikan. Lagu ini cukup menarik dengan lirik yang unik. Memang yang paling cocok membawakan lagu ini ya Mbak Kikan “Cokelat”. Pilihan Erwin untuk tidak ramai-ramai bawa rombongan orkestranya cukup tepat. 

Perang Dengan Hati. Ini lagu baru. Dibawakan oleh Ryo Damara. Nah, di nomor ini Ryo tampil lebih sip ketimbang di nomor “Hilangnya Seorang Gadis”. Lebih power. Ditambah orkestrasi yang riuh rendah di belakang. Orkestrasinya rada berlebihan sih. Ini nomor pop yang biasa saja. 

Jenuh. Yeah, ini baru rock yang asyik. Nomor yang paling funky di album ini. Dibawakan oleh Pinkan yang wow seru. Rasanya performance Pinkan paling asyik dibanding vokalis lain. Aransemennya pas dan ngerock. Permainan Henry Lamiri pada biola bisa mengimbangi kocokan gitar yang slengekan dan vokal Pinkan yang kecentilan. My fav. 

Kasih Tak Sampai. Lagu Piyu “Padi” ini memang cantik dimainkan full orchestra. Sayang Erwin hanya “berani” menggarapnya selama dua menit sekian belas detik. Why? Saya jadi penasaran. 

Kuingin. Erwin Gutawa punya imajinasi yang ciamik. Lagunya Gigi dari era 90-an diaransemen ulang lantas dinyanyikan oleh Nicky Astria. Hasilnya? Terasa seperti tembang tahun 80-an. Hahahaha.. nakal juga. Boleh.. boleh.. Oh ya, penggemar Andra, silakan simak solonya di nomor ini. 

Sesal. Lagu baru yang kedua. Kali ini melalui vokal Yopie “Mata” yang ngerock. Di album ini, penyanyi bintangnya adalah Yopie. Lewat vokalnya, lagu ini terasa asyik. 

Kemarau. Yang asyik di nomor ini adalah permainannya Andy Ayunir pada Synthsizer. Ya, para pemain orkestra boleh istirahat sejenak. Kenapa Armand Maulana? Menderngar Armand nyanyi rasanya ikutan kesedak dan susah nafas. Kecuali Armand, nomor ini cukup asyik. Sory Man! 

Jangan Ada Angkara. Hahahaha, Om Ahmad Albar.. selamat datang Om. Ternyata masih nendang juga suaranya. Spesial saya dengarkan via earphone. Ya, Om Ahmad Albar masih nendang. Aransemen orkestranya penuh angkara. Dipuncaki dengan choir lantas exhaling. 

Bendera. Outro instrumentalia dari London Symphony Orchestra yang tak sampai dua menit.

Kalau banyak orang memuji Erwin Gutawa dan album Rockestra ini, maka itu memang sudah selayaknya. Salute buat Erwin Gutawa. Di album ini Erwin Gutawa membuktikan dirinya sebagai salah satu musisi seriusIndonesia. Keseriusan Erwin disambut dengan apresiasi oleh label Sony BMG untuk merealisasikan album ini. Ok, salut juga buat Sony BMG yang bersedia merilis album yang belum tentu omsetnya bisa mengalahkan Radja, Letto, Nidji atau band-band lain yang subur belakangan ini.

Rockestra? Ya, rasa rock memang ada. Rasa orkestranya juga kental. Meski orkestranya lebih galak ketimbang rocknya. Ya, memang tidak semuanya jadi ngerock begitu saja. Orkestra yang strict to partitur tidak bisa begitu saja main-main layaknya rocker, tetapi nuansa kemegahan dan gempitanya orkestra bisa diolah cukup nikmat oleh Erwin, meski di beberapa bagian terasa rada berlebihan. Setidaknya ini jadi upaya serius yang patut dihargai.

Catatan spesial saya: Yopie, hmm nama ini cukup menonjol di album ini. Pinkan Mambo meski tampil hanya sekali, juga amat impresif. Satu lagi: upaya Erwin meinterpretasi ulang nomor “Kuingin”nya Gigi melalui vokal Nicky Astria adalah surprise yang menyenangkan.

Sekali lagi, salut buat Erwin Gutawa dan Rockestranya.

Erwin Gutawa - Rockestra, 3.5 out of 5 based on 2 ratings

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.