Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Enak Jadi Enterpreneur Atau Karyawan?

Submitted by on 19 April 2010 – 12:00 amNo Comment

Rasanya hampir semua karyawan menganggap nasib mereka akan jauh lebih baik seandainya mereka menjadi enterpreneur alias pengusaha. Punya usaha sendiri lebih terhormat ketimbang bekerja ikut orang lain. Pikiran seperti ini bukan sekedar melanda kaum staf dan pegawai biasa, para manajer dan direktur puncak pun bermimpi suatu saat mereka punya usaha sendiri.

Kenapa karyawan merasa nasib mereka lebih memelas dibanding para pengusaha? Ada beberapa kemungkinan. Pertama: sebagai pegawai, kita selalu berada dalam perintah dan kekuasaan orang lain. Staf dikuasai kepala bagian. Kepala bagian diperintah manajer. Manajer disuruh direktur. Bahkan seorang presiden direktur pun tak luput dari omelan orang yang lebih berkuasa lagi. Dengan kata lain, sebagai pegawai kita selalu terkekang bahkan tertindas oleh atasan.

Kedua, sebagai pegawai kita selalu dikungkung berbagai aturan dan prosedur. Misal; telat datang kerja satu menit saja, uang transport melayang tanpa peduli apa pun alasannya. Makan siang hanya boleh di antara jam 12 dan jam 1 siang. Bahkan, di perusahaan yang agak cerewet, keluar dari areal pabrik harus mengisi formulir security yang ditandatangani oleh direktur HRD. Ck ck ck.. betul-betul terpenjara.

Ketiga: penghasilan pun terbatas. Biarpun harga cabai keriting naik setiap minggu, gaji kita hanya naik setahun sekali. Itu pun harus berjuang melalui serikat buruh. Kenaikan gaji sering kali tak lebih bagus ketimbang inflasi. Tak heran jika kekayaan kita hanya segitu-segitu saja meski sudah puluhan tahun bekerja jadi pegawai. Kalau tidak mengandalkan kredit, rasanya tidak mungkin bisa punya motor. Lain halnya jika kita jadi pengusaha. Sekali sabet proyek besar, kita bisa beli rumah, mobil dan istri.. eh.. maaf.. motor baru.

Memang enak jika kita jadi pengusaha. Tidak perlu ada absensi. Tidak usah mengisi formulir ijin meninggalkan kantor. Makan siang tidak usah menunggu jam 12. Jika sedang malas, tinggal menutup toko barang sejam dua jam buat tiduran. Setelah segar, yaa buka toko lagi.

“Ada satu hal lagi!” seru Oom Brodin, temen karib Oom Ale.

“Apa itu Oom?”

“Jadi pengusaha banyak pahalanya! Pengusaha membuka kesempatan kerja, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan orang lain,” jawab Oom Brodin sambil menunjukkan muka serius.

“Akur!”

***

Sudah hampir dua puluh tahun Oom Ale bernasib sebagai pegawai pabrik. Selama itu pula Oom Ale diperintah oleh atasan, disuruh-suruh oleh majikan, dikekang oleh aturan, malah tak jarang dibentak dan dimaki-maki para bos. Sekali waktu Oom Ale ingin bebas. Oom Ale ingin jadi pengusaha.

“Enak mana sih, Mbah?” tanya Oom Ale ke Mbah Ud. “Jadi pegawai atau jadi pengusaha?”

“Hahaha… oaalaaa… manusia memang tidak pernah puas dengan keadaannya sendiri,” kata Mbah Ud. “Di saat ratusan ribuan orang mengadu nasib melamar pekerjaan sebagai pegawai ke sana-kemari, eee.. yang sudah enak-enak jadi pegawai malah pingin jadi yang punya pabrik.”

“Lho Mbah, saya sama sekali tidak berambisi punya pabrik besar. Cukuplah punya usaha kecil tetapi terus menghasilkan,” bantah Oom Ale.

“Halah, itu kan ucapan sampeyan sekarang ini. Nanti kalau sampeyan sudah punya satu usaha, sampeyan ingin punya dua, lantas ingin tiga dan seterusnya. Sekarang mungkin sampeyan hanya bercita-cita punya toko, namun selanjutnya ingin punya supermarket, lalu ingin punya pabrik, lalu ingin jadi konglomerat.”

“Yaa tidak begitu dong, Mbah.”

“Siapa bisa jamin? Sekarang saja sampeyan sudah jadi staf dengan gaji lumayan masih mengangankan yang lebih. Ingat, dulu sewaktu sampeyan melamar kerja ke pabrik-pabrik, sampeyan bilang ke bagian personalia bahwa sampeyan siap bekerja apa saja. Pokoknya bisa kerja. Kemudian ketika sampeyan tambah pintar, sampeyan ingin naik pangkat. Sekarang pangkat dan gaji sudah bagus, malah ingin punya usaha sendiri.”

“Jadi, harus bagaimana dong Mbah? Jadi pegawai itu terkekang. Saya ingin jadi pengusaha. Bukankah kalau saya jadi pengusaha saya bisa memberi pekerjaan buat orang lain. Itu khan berpahala.”

“Halaaah, itu akal-akalan sampeyan saja. Itu cuma alasan yang dicari-cari untuk membenarkan kebimbangan sampeyan. Sudahlah, jadi pegawai saja.”

“Lho, kok begitu. Kenapa Mbah?”

“Yaa… karena sekarang ini sampeyan memang jadi pegawai. Terimalah nasib sampeyan itu dengan hati lapang. Kerjakan saja tugas-tugas sebaik-baiknya. Tidak usahlah banyak-banyak membandingkan nasib sebagai pegawai dengan mereka yang punya usaha. Masalahnya bukan pada mana yang lebih enak, tetapi apa yang sedang sampeyan lakoni dalam hidup ini. Semakin sering membanding-bandingkan hidup sampeyan sekarang dengan angan-angan, maka semakin berat sampeyan menjalani hidup.”

“Kalau saya pingin jadi pengusaha?”

“Boleh saja, namanya keinginan tidak bisa dilarang. Kalau sampeyan ingin jadi pengusaha, maka jadilah pengusaha yang ikhlas; yaitu yang sungguh-sungguh menerima nasib sampeyan sebagai pengusaha. Jangan sampai, begitu jadi pengusaha, sampeyan mengeluh lantaran usaha merugi,” Mbah Ud berbicara seenaknya.

Lanjut Mbah Ud, “Sebenarnya, apa yang kita bicarakan ini bukan tentang mana yang lebih enak, atau mana yang lebih baik, atau mana yang lebih hebat: menjadi pengusaha atau karyawan. Obrolan kita ini adalah tentang kesediaan sampeyan untuk menerima apa yang terjadi dalam hidup. Meski toh sampeyan nanti jadi pengusaha, tetapi kalau tidak bisa menerima kenyataan hidup… yaaa… sampeyan akan menjadi bimbang lagi, lantas berangan-angan lagi, begitu terus… tidak pernah puas.”

Mbah Ud terdiam sejenak, menyeruput kopi, lantas menanyakan sesuatu pada Oom, “Memangnya, sampeyan sudah punya rencana usaha?”

Dengan memelas Oom Ale jawab, “Lha, itulah masalah terbesar saya. Jangankan rencana, modal saja saya tidak punya Mbah, terutama modal keberanian untuk meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai sekarang ini!”

20 Apr 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.