Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Email Tak Kenal Jam Kerja

Submitted by on 12 April 2010 – 12:00 amNo Comment

Hore…! Akhirnya Oom Ale punya fasilitas email kantor! Eiitss… Anda jangan heran dulu. Cerita ini terjadi di sekitar pertengahan tahun 90-an. Saat itu di pabrik sandal tempat Oom Ale bekerja, email masih merupakan benda mewah. Hanya direksi dan manajer saja yang bisa mendapat email kantor. Karena Oom Ale masuk dalam jajaran manajer, Oom Ale pun berhak mencicipi teknologi canggih ini. Selain penting sebagai alat komunikasi, email merupakan penanda eksistensi kaum elite kantor. “Aku punya email, maka aku ada.”

Tinggg! Ada email masuk. Ternyata dari Mr. Bos. Isinya: “Dear Ale, tolong siapkan laporan biaya produksi. Pastikan data-datanya benar. Jika okay, kirimkan hari ini via email ke Mr. Finance Director di head quarter. Jangan lupa cc-kan ke saya. Thanks.”

Oom Ale pun segera mengerjakan laporan yang diminta. Menjelang jam pulang kantor penghitungan Oom Ale rampung. Sesaat sebelum Oom Ale kirim, Oom Ale lakukan recheck. Wah, ternyata ada selisih sekitar USD 150. Oom Ale segera telpon Mr. Bos. “Sir, laporannya sudah saya siapkan, tetapi masih ada selisih sekitar USD 150-an. Saya akan lembur barang sejam untuk perbaiki datanya.”

That’s okay, kalau semuanya beres, tolong dikirim dan jangan lupa cc-kan ke saya.”

Oom Ale pun kerja lembur untuk menemukan selisih USD 150. Sebagai orang yang telah dididik sebagai akuntan, jangankan USD 150, selisih USD 0.15 pun akan dicari sampai ke ujung bumi. Adalah kepuasan tersendiri jika bisa membuat laporan seakurat mungkin. Tapi, menemukan selisih kali ini tidak semudah yang dibayangkan. Sekitar jam delapan malam laporan biaya baru kelar.

Oaaaahhhmmm… Oom Ale capek tapi puas karena semua angka telah sempurna. Segera Oom Ale beresi meja, matikan komputer lalu melangkah pulang. Begitu sampai di luar kantor, tiba-tiba Oom Ale teringat sesuatu: “Lho, laporannya belum dikirim ke Mr. Finance Director?!” Oaalaah.

Oom Ale agak ragu. “Hmmm.. apakah sebaiknya kembali ke kantor untuk mengirim email? Atau… dikirim besok pagi saja?” Aaah.. Oom Ale enggan balik ke ruangan kerja. Oom Ale tidak mau pulang lebih malam lagi. Lagipula, kalau toh dikirim malam ini, Mr. Bos pasti baru baca email itu besok pagi. Oom Ale akan kirim besok pagi-pagi sekali. Oom Ale teruskan perjalanan pulang dengan santai.

***

Esoknya, pagi-pagi sekali sebelum jam kantor, Oom Ale sudah di depan komputer dan mengirim email. Beres!

Krring…!! telpon meja mengagetkan Om Ale. Dari Mr. Bos, “Ale, apa laporan biaya sudah dikirim?”

“Baru saja saya kirim bos!” jawab Oom Ale dengan riang gembira.

“Apa semalam you belum bisa menemukan selisihnya?”

“Bisa bos.”

“Lantas kenapa tidak dikirim tadi malam?”

“Anu.. aaanuu..,” wahduh Oom Ale mau jawab apa ya? “Begini bos, laporannya selesai lewat jam delapan tadi malam. Saya pikir, saya akan kirim pagi-pagi sekali hari ini.”

I see. Begini saja, tolong you ke ruangan saya sekarang. Saya ingin bicara sebentar,”

“Baik bos,” Oom Ale menutup telpon dan segera beranjak ke ruang kerja Mr. Bos.

Begitu melihat Oom Ale masuk ruangannya, Mr. Bos langsung berkata, “Mr. Ale, silakan duduk. Saya senang you mau kerja lembur untuk membuat laporan dengan akurat. Tadi malam sekitar jam sembilan, Mr. Finance Director kita di Eropa menelpon saya, menanyakan laporan yang diminta. Saya jawab  akan segera saya kirim. Lalu saya akses email di rumah. Saya berharap ada email dari you. Ternyata tidak ada. Saya jawab ke Mr. Finance Director bahwa kami akan kirimkan esok karena kami perlu check dan revisi agar datanya akurat. Mr. Finance Director okay saja.”

Oom Ale baru sadar, dengan selisih waktu antara Indonesia dan Eropa yang sekitar enam-tujuh jam, maka ketika Oom Ale pulang kantor, justru rekan-rekan di Eropa sedang sibuk bekerja.

“Kalau datanya sudah siap tadi malam. Kenapa tidak segera you kirim via email?” tanya Mr. Bos.

Lalu Oom Ale ceritakan kejadian semalam. Oom Ale berkilah bahwa apa bedanya mengirimkannya tadi malam atau pagi ini, toh email itu akan diterima pagi ini.

You are wrong,” kata Mr. Bos dengan mimik serius. “Kalau you kirim email itu jam delapan malam, maka pada jam delapan itu juga saya bisa meneruskannya ke Mr. Finance Director. Dan di saat itu juga Mr. Finance Director di Eropa bisa menggunakannya to make decision. Tetapi karena you baru kirim pagi ini, saya khawatir semalam Mr. Finance Director missed the shot. Seandainya you kirim tadi malam, Mr. Finance Director bisa segera membuat keputusan penting. Ok, data ini mungkin tidak urgent bagi Mr. Finance Director. Tetapi apa jadinya jika data itu sangat penting dan critical?”

Dalam hati Oom Ale anggap Mr. Bos membesar-besarkan masalah.

“Mr. Ale, please wake up. Kita sekarang hidup di jaman surat elektronik. Bukan jaman pos surat. Dengan email kita bisa bertukar informasi setiap saat. Kalau you pikir tidak ada bedanya mengirim data itu semalam atau pagi ini, itu menunjukkan pola pikir you yang masih seperti jaman pak pos.”

Mr. Bos menghela nafas. “Mr. Ale, kemajuan teknologi email membuat kita bisa berkomunikasi lebih cepat. Ini menuntut perubahan dalam pola dan budaya kerja kita. Email memungkinkan kita tetap bekerja dimana pun dan kapan pun. Semua tempat dan waktu bisa digunakan untuk bekerja. Oleh karena itu, sebaiknya you cepat menyesuaikan diri dan mengubah cara kerja. Email bukan sekedar fasilitas tetapi alat kerja baru yang memaksa kita untuk bekerja dengan cara dan budaya baru. Semoga you paham,” kata Mr. Bos menutup pidatonya.

Oom Ale manggut-manggut. Ini adalah omelan yang cerdas dari seorang Mr. Bos. Oom Ale keluar ruangan bukan dengan rasa jengkel, melainkan membawa sebuah pencerahan.

Belumlah lama Oom Ale bekerja dengan email, ternyata teknologi ini sudah mulai melindas banyak cara kerja lama kita. Bagaimana dengan sepuluh atau lima belas tahun mendatang? Teknologi baru apa lagi yang akan hadir di ruang kerja kita? Oom Ale tidak bisa membayangkan. Tetapi Oom Ale yakin, pada awalnya kita akan menganggap teknologi baru itu sebagai sebuah simbol eksistensi baru, tetapi sebenarnya teknologi baru menuntut kita untuk memperbarui cara berpikir serta budaya kerja. Kita pun tergagap-gagap mengikuti kecepatannya. Itulah gaptek yang sesungguhnya.

13 Apr 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.