Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Dicari: Loyalitas

Submitted by on 23 August 2010 – 12:00 amNo Comment

Menjelang jam enam sore, Ova, staf accounting, pamit pulang. Oom Ale memang minta Ova untuk segera pulang. Sudah dua minggu ini kami sering pulang larut malam demi mengejar deadline budget tahunan. Bahkan dalam tiga hari berturut-turut kami pulang nyaris jam sepuluh malam.

Siang tadi semua data sudah dikirim via email ke kantor pusat. Sampai lewat jam lima sore tidak ada komentar dari Bu Ann, direktur keuangan di kantor pusat. Oom Ale pikir, semuanya oke. Karenanya, Oom Ale persilakan Ova pulang selepas maghrib. Jam setengah tujuh malam, giliran Oom Ale yang meninggalkan kantor.

Baru berkendara beberapa kilometer, tiba-tiba handphone Oom Ale berbunyi. Bu Ann menelpon. “Pak Ale… gimana sih ini. Data budget pembelian tahun 2011 kok turun dibanding 2012. Semestinya naik karena penjualan kita naik. Lalu, di tahun 2012 tidak ada pembelian dari grup. Pak Ale kan tahu… bla… bla… bla… bla… bla… ” Dengan gaya cerewetnya Bu Ann membombardir telinga Oom Ale dengan rentetan omelan yang tidak bisa diputus. Beberapa kali Oom Ale menyela, tapi tidak digubris.

Akhirnya, setelah semua uneg-unegnya tumpah, Oom Ale jawab, “Baik bu, saya coba lihat lagi.”

“Aduh.. lain kali bapak harus cek dulu dong. Kalau seperti ini, bapak sama saja main-main. Hari ini deadline harus kirim ke head quarter. Pokoknya, saya minta datanya dikoreksi malam ini. Satu jam lagi harus selesai!” Bu Ann terus mencecar. Sebagian besar omelannya tak sempat Oom Ale tulis di sini.

Oom Ale hanya bisa menjawab dengan takjim, “Baik bu.” Klik.

Segera Oom Ale putar balik ke kantor. Buka laptop dan mulai cek satu per satu data yang tadi dikeluhkan oleh Bu Ann. Alaamaakkk… ada data yang salah entri. Oom Ale garuk-garuk kepala. Masalah ini hanya bisa dipecahkan oleh Ova. Cuma dia yang tahu bagaimana memproses dan mendownloadnya dari sistem komputer. Tapi Ova sudah pulang hampir satu jam lalu.

Oom Ale hubungi nomor handphone Ova. Hanya dalam tiga kali dering, dijawab, “Iya paaakk…”

“Maaf Ov!”

“Tidak apa-apa paaaakkk…!” Ova ini sudah bersuami, punya anak satu, badannya gemuk, suka makan, kalau tersenyum lucu, jalannya pelan tapi kerjanya lumayan cepat, di meja kerjanya selalu ada camilan.

Oom Ale sampaikan masalahnya. Dan dijawab, “Begini saja pak, coba bapak download data logistik dengan kode bla bla bla dari sistem, lalu kirim ke email Yahoo saya. Akan saya kerjakan di rumah pakai komputer suami. Tolong file-nya di-zip ya pak.. supaya downloadnya lebih cepat.”

Okay Ov… terima kasih banyak,” Oom Ale sedikit lega. Lalu Oom Ale lakukan apa yang disarankan Ova. Tak sampai lima belas menit, data dimaksud sudah berpindah ke email Ova di Yahoo.

Setengah jam kemudian, Ova menelpon, “Maaf pak, datanya baru saya terima. Internet di rumah saya lambat sekali. Saya sedang kerjakan kertas kerja baru, pak. Mohon ditunggu ya?”

Oom Ale tidak keberatan, meski beberapa kali Bu Ann menanyakan, kapan selesai? Kapan selesai? Oom Ale bilang, “Bu Ann, pasti saya kirim malam ini. Tapi tidak mungkin selesai dalam satu jam.”

Hampir satu jam kemudian Ova menelpon lagi, “Wahduh pak, kertas kerja revisi sudah selesai. Saya sedang mengirim lewat email ke bapak. Tapi internet di rumah saya benar-benar lambat, saya khawatir kalau file saya malah tidak terkirim. Bagaimana ya pak?”

“Hmm.. begini saja. Saya akan kirim supir kantor untuk ambil file itu ke rumahmu bagaimana? Tolong tunggu saya akan hubungi kepala bagian kendaraan.”

“Jangan pak, rumah saya jauh. Kira-kira setengah jam dari kantor. Saya khawatir driver malah kesasar kemana-mana. Lebih baik saya balik ke kantor saja diantar suami. Jangan kuatir pak, suami saya tidak keberatan mengantar saya kok. Tolong tunggu setengah jam ya pak,” kata Ova.

Oom Ale iyakan, meski dalam hati kasihan juga. Oom Ale merasa bersalah. Mestinya Oom Ale lebih hati-hati memeriksa laporan ini supaya tidak perlu ada koreksi dari kantor pusat.

Bu Ann menelpon lagi, menanyakan apakah datanya sudah siap. Oom Ale jelaskan situasinya. Beliau mau menunggu sampai setengah jam lagi.

Tak sampai setengah jam, Ova muncul di kantor. Dengan jaket penahan dingin, badan Ova terihat jauh lebih gemuk dari biasanya. Segera saja Oom Ale cek data yang disiapkan Ova, lalu entrikan dalam budget revisi. Oom Ale periksa sejenak. Periksa sekali lagi. Dan, lagi. Setelah yakin semuanya beres, Oom Ale kirim via email ke kantor pusat. Tak lupa Oom Ale hubungi Bu Ann. Dijawab oleh Bu Ann, “Tolong jangan pulang dulu sebelum saya periksa.”

Setengah jam kemudian, Bu Ann mengirim pesan singkat melalui handphone, “Sudah okay. Thanks!”

“Sekarang kita boleh pulang,” kata Oom Ale pada Ova yang sedari tadi duduk santai di kursi kerjanya.

Hampir jam sepuluh malam. Kami meninggalkan kantor dengan lega. Oom Ale segera menuju warung soto dekat kantor. Ova dan suaminya menolak ajakan Oom Ale makan soto bareng.

Tiba-tiba Oom Ale merasa terharu. Ya… tiba-tiba Oom Ale merasa terharu dengan kesediaan Ova untuk mengerjakan permintaan Oom Ale tanpa sedikit pun menampakkan wajah enggan. Wajahnya selalu senyam-senyum saja. Pipinya yang gemuk membuat mukanya tambah lucu. Oom Ale tahu, ini bukan sesuatu yang ringan bagi Ova dan suaminya (yang tak kalah gemuk). Apa yang dilakukan Ova malam ini membuat Oom Ale tersentuh.

Dalam hati Oom Ale berjanji, Oom Ale akan ajari dan beri kesempatan seluas-luasnya buat Ova supaya kelak dia bisa menjadi manajer menggantikan Oom Ale di pabrik ini atau di perusahaan lain. Oom Ale akan beri semua pengetahuan dan pengalaman Oom Ale agar Ova bisa mencapai karier yang lebih bagus.

Kini Oom Ale sadari, apa alasan kunci seorang pemimpin dalam memilih seorang anak buahnya untuk dikader sepenuh hati menjadi penggantinya kelak. Loyalitas! itu jawabannya. Loyalitas akan berbalas loyalitas pula.

24 Agu 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.