Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Tempe, Tahu, Dadar Jagung

Dering Telpon Tengah Malam

Submitted by on 4 September 2016 – 12:00 amNo Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Image Credit: pop0926pop0926 | Pixabay.com

Telepon rumah berdering kencang. Saat itu hampir jam satu tengah malam. Saya dan istri yang sedang lelap sontak terbangun. Istri saya segera menuju ruang tengah dan mengangkat telpon. Setelah menyapa, “Halo”, istri saya terdiam sejenak lalu berusaha berbicara namun terbata-bata. Telpon di tengah malam selalu membawa berita buruk. Dan, benar!

“Didin…,” kata istri saya bergetar. Didin adalah keponakan istri saya. Ada apa dia menelpon malam-malam? Saya mengambil telpon dari istri saya dan mendengar Didin terisak-isak. “Tolong Om, aku ditangkap polisi.”

Jantung saya berdegub kencang. Samar-samar dari telpon saya mendengar suara orang berbicara dari handy talky dan sirene. Kenapa dia ditangkap polisi? Apa dia menabrak orang? Atau, berkelahi di jalan? Atau, apa? Belum sempat saya menanyakan, telpon sudah dialihkan ke seseorang. “Halo, apa betul bapak adalah saudara dari Didin?” Suaranya berat dan berwibawa. Kemudian dia menyebutkan pangkat, nama dan kesatuannya. Dalam keadaan panik saya tidak bisa mengingat itu semua. Yang saya tahu, bapak itu adalah polisi.

“Malam ini kami melakukan razia. Kebetulan keponakan bapak tertangkap membawa narkoba,” jelas pak polisi. Istri saya langsung lemas. Sebenarnya Didin anak yang baik. Tetapi belakangan ini sering mengeluh tentang hubungan dengan pacarnya. Dia ingin segera menikah tetapi ragu-ragu karena belum mendapat pekerjaan yang mapan. Saya berpikir mungkin dia frustasi dengan semua itu lalu terperangkap menggunakan narkoba. Aduh, bagaimana ini?

Saya berusaha tenang. Bagaimana pun saya harus membantu Didin yang sedang dalam kesulitan. Setelah menarik nafas dalam-dalam, saya menjawab ke bapak polisi di seberang telpon, “Pak polisi, Didin adalah keponakan saya. Jika memang benar Didin ditangkap polisi, maka silakan diproses pak. Masukkan dia ke penjara lalu pukuli. Anak itu memang suka bikin masalah. Kami malah senang kalau dia dihukum berat. Dia tidak perlu dikasihani. Hajar saja biar tahu rasa.” kata saya penuh semangat.

Istri saya kaget mendengar ucapan saya. Tetapi saya tersenyum lebar. Saya bilang ke istri saya, “Ini penipuan.” Pak polisi itu berkata sesuatu, tetapi saya tetap saja menjawab, “Sikat saja keponakan saya itu pak. Biar kapok!”

Sudah sering saya mendengar ada penipuan dengan modus menelpon tengah malam, mengaku-ngaku polisi dan menakut-nakuti. Ujung-ujungnya mereka minta uang tebusan. Mereka itu bikin geram saja. Ingin rasanya bisa balik menipu mereka. Kebetulan malam itu saya mendapat rezeki telpon tengah malam dari penipu. Ini momen yang saya tunggu-tunggu. Ternyata, bisa mempermainkan para penipu itu mengasyikkan juga.

1 Juni 2016

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.