Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Dari Toelangan

Dadi Gawe

Submitted by on 22 April 2010 – 12:00 amNo Comment

Di depan saya duduk seorang teman. Mukanya kusut, tidak sedap dipandang. Sedari tadi dia bersungut-sungut melulu. “Saya malas bekerja,” katanya. Ini agak aneh. Setahu saya, dia adalah karyawan yang baik. Sebagai supervisor di perusahaan lumayan besar, boleh dibilang karirnya cukup memuaskan.

“Tapi saya diperlakukan tidak adil oleh perusahaan. Masya saya yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun gajinya kalah dibanding orang baru? Enak sekali orang baru itu. Baru masuk sudah diangkat jadi supervisor dan digaji besar. Padahal, sebelum saya jadi supervisor, saya harus bekerja mulai dari bawah. Mulai dari klerk, lalu staf, baru supervisor. Saya termasuk orang yang babat alas membangun perusahaan ini. Orang baru itu tidak pernah merasakan masa-masa sulit, sekarang tinggal enaknya saja, ee malah di gaji besar,” panjang lebar teman saya ini berpidato.

Saya ingin menanggapi, tapi saya khawatir keluhannya semakin panjang saja. Memang enak menjadi bak sampah ocehan seperti ini? Saya hanya bisa pasang wajah ikut prihatin.

Sebenarnya dalam hati saya ada banyak pertanyaan. Misal, bagaimana teman saya ini tahu, yakin dan percaya bahwa gaji orang baru itu lebih tinggi? Biasanya urusan gaji adalah rahasia yang disimpan rapat-rapat, bahkan seringkali istri sendiri pun tidak perlu tahu. Tapi, okelah, seandainya itu benar, saya heran bagaimana dia bisa membandingkan dirinya dengan orang baru itu, baik tanggung jawabnya, kompetensi, attitude dan lain-lainnya? Beda tanggung jawab, beda pula bayarannya. Lain kompetensi, lain pula imbalannya. Banyak perusahaan yang tidak segan-segan menggaji besar seseorang yang menunjukkan attitude positif.

Saya tidak tahu apakah perusahaan tempat teman saya bekerja memang berlaku tidak adil, atau jangan-jangan teman saya saja yang cemburu. Melihat gayanya berbicara, saya menduga-duga teman saya ini sedang jealous.

Lantas saya teringat pepatah Jawa: “Gak nduwe gawe, nggolek gawe. Wis nduwe gawe, dadi gawe.” Arti bebasnya begini: Di saat tidak punya pekerjaan, kita mencari pekerjaan. Tetapi ketika sudah punya pekerjaan, malah jadi persoalan.

Ketika kita sedang tidak punya pekerjaan, kita ke sana kemari mencari pekerjaan. Setiap hari kita mengirim surat lamaran, keluar masuk perusahaan mencari lowongan. Tapi mendapatkan pekerjaan bukan pekerjaan mudah. Kita harus bersaing dengan ribuan pencari kerja lain. Demi mendapatkan pekerjaan, kita mau melakukan apa saja. Ada sarjana rela melamar menggunakan ijazah SMA. Yang lulusan SMA ternyata dihargai hanya dari kemampuan baca tulisnya saja. Kita pun merengek-rengek pada calon majikan minta diberi pekerjaan apa saja. Kita bilang kita mau disuruh apa saja, diperintah kemana saja, digaji berapa saja, yang penting bisa bekerja. Malah kita berjanji akan bekerja keras, rajin, loyal, jujur, tidak mengeluh. Yang penting diterima kerja.

Kemudian kita mendapatkan pekerjaan itu. Kita senang, keluarga senang. Kita pun bekerja dengan sebaik-baiknya. Gaji pertama disambut dengan puji syukur yang tak terkira. Kita tidak terlalu mempersoalkan besaran gaji, karena kita percaya ada yang jauh lebih penting, yaitu; masa depan.  Kita yakin, kalau kerja kita bagus, perusahaan pasti akan menaikkan jabatan dan gaji kita. Semangat itu menyala-nyala dengan terangnya sampai suatu saat kita dapati ternyata bukan kita yang menggenggam masa depan itu. Ternyata orang lain yang naik pangkat. Ternyata kita harus menjadi bawahan dari teman sendiri. Ternyata orang baru digaji lebih besar. Ternyata… oh ternyata.

Kita kecewa. Kita menganggap perusahaan tidak adil. Kita merasa percuma saja semua kerja keras selama ini. Kita iri pada nasib orang lain. Pekerjaan yang dulu diharap-harapkan kini tidak menarik lagi, tidak menyenangkan lagi, malah menjadi persoalan buat kita. Kita marah pada perusahaan, majikan, teman, bahkan pada pekerjaan ini. Wis nduwe gawe, malah dadi gawe.

Pekerjaan ini menjadi masalah karena kita lupa pada janji-janji kita dulu. Kita lupa pada masa-masa kita berpeluh dan berpengharapan mencari pekerjaan ke sana kemari. Kita tidak teringat pada indahnya mensyukuri gaji pertama. Pendek kata, kita lupa pada asal muasal semua ini.

Jangan salah sangka, dengan menulis seperti ini, bukan berarti saya setuju perusahaan berlaku tidak adil. Saya menolak perusahaan yang membayar gaji serendah mungkin. Kita tetap harus berjuang agar perusahaan-perusahaan bisa memberikan kesejahteraan pada semua karyawannya. Saya merenungkan ini semata-mata demi menentramkan hati saya. Saya ingin mengembalikan kegembiraan diri saya sendiri. Rasa iri, cemburu dan dengki sebenarnya adalah penderitaan, yang semakin saya biarkan, semakin susahlah hidup saya. Saya ingin bisa menemukan rasa syukur yang dulu pernah menyejukkan jiwa saya.

Di depan saya masih duduk teman saya yang semakin tidak sedap dipandang, bersama keluhannya yang semakin tidak nyaman didengarkan. Saya ingin bercerita padanya tentang “Gak nduwe gawe, nggolek gawe. Wis nduwe gawe, dadi gawe.” Tapi sepertinya dia tidak sedang meminta nasehat. Saya pun tak tega berkata-kata. Biarlah saya tulis di sini saja. Mudah-mudah teman saya membaca ini dan bisa menemukan keceriaan dan semangatnya lagi. ***

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.