Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Bos Adalah…

Submitted by on 4 January 2010 – 12:00 amNo Comment

Tiba-tiba Lila, anak bungsu Oom Ale, tanya, “Bos ayah di kantor siapa?”

“Bos ayah? Ya, Pak Bos dong?!”

“Jadi yang menggaji ayah adalah Pak Bos?”

“Oo, bukan sayang. Ayah digaji oleh perusahaan.”

“Bukan digaji Pak Bos?”

“Bukan. Memangnya kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa. Lila cuma ingin tahu saja. Hmmm… kalau yang menggaji Pak Bos siapa, Yah?”

“Ya, perusahaan juga..?!”

“Jadi, ayah dan Pak Bos sama-sama digaji perusahaan?”

“Benar. Kamu pintar, sayang.”

“Kalau begitu, sebenarnya Pak Bos bukan bos, Yah..!!”

“Pak Bos adalah bosnya ayah.”

“Bukan Yah.”

“Lho, kok bukan?”

“Soalnya, Pak Bos masih digaji perusahaan.”

“Iya, memang benar, Pak Bos digaji perusahaan. Tapi, Pak Bos adalah bosnya ayah.”

“Ya bukan Yah! Kalau masih digaji perusahaan, namanya bukan bos, tapi pegawai.”

[Tuuiingg…. Tuuiingg…. Tuuiiiiiiingg…. get the point?]

“Kalau begitu, apa bedanya bos dengan pegawai?”

“Beda Yah! Bos adalah yang punya perusahaan. Bos tidak digaji perusahaan. Malah bos yang membayar gaji pegawai. Yang digaji perusahaan, namanya pegawai.”

“Lha, kalau bos tidak digaji perusahaan, bos dapat uang dari mana?”

“Dari keuntungan perusahaan, Yah. Contohnya, ibu,” kata Lila sambil melirik ke Tante Nik yang duduk di samping Oom Ale. “Ibu punya usaha warung pangsit mie. Jadi, Ibu adalah bos. Setiap bulan ibu tidak terima gaji, tapi dapat keuntungan. Ibu yang membayar gajinya Mas Sugi, Mbak Narti, Mbak Uut (sekedar anda tahu, mereka ini adalah para pegawai warungnya Tante Nik). Ibu juga suka marah-marah kalau pekerjaan Mas Sugi tidak beres.”

“Kalau begitu, ayah ini apa dong…?”

“Jelas, ayah adalah pegawai, bukan bos.”

“Kalau Pak Bos-nya Ayah?”

“Juga pegawai, bukan bos.”

Tante Nik yang sedari tadi senyam-senyum sendiri lantas tertawa keras sambil mengepalkan tangan, “Yes! Ibu jadi bos!”

“Kalau begitu, enak dong jadi bos? Tidak ada yang memarah-marahi. Tidak takut pada siapa-siapa.”

“Tidak juga. Ibu paling takut kalau ada pelanggan yang marah-marah. Kalau sudah begitu, biasanya ibu lantas mengomeli Mas Sugi.”

[Tuuiingg…. Tuuiingg…. Tuuiiiiiiingg…. get the point?]

***

Hypothesis of the story: jangan mengaku-ngaku jadi bos, kalau masih digaji oleh perusahaan.

5 Jan 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +2 (from 2 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.