Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Biar Untung Kecil Asal…

Submitted by on 26 July 2010 – 12:00 amNo Comment

Hari itu Oom Ale mengikuti seminar tentang mencapai kebebasan financial. Salah satu topiknya adalah tentang bagaimana cara melakukan investasi yang menguntungkan. Pembicaranya adalah seorang pria paruh baya yang perlente. Beliau mempunyai perusahaan investasi cukup terkenal. Dengan lancar beliau bercerita tentang pengalaman dalam mengelola investasi di berbagai jenis; mulai dari yang sepele, seperti deposito, surat utang, surat berharga sampai yang rumit; seperti: valuta asing, bursa saham, reksadana, berikut macam-macam derivatifnya. Yang paling membuat mulut Oom Ale ternganga-nganga adalah sewaktu Beliau memamerkan pernah meraup untung sebesar limaratus juta Rupiah hanya dalam satu jam saja bermain di lantai bursa. Ck.. ck.. ck.. Hebat… tenaan…!

Di akhir sesi beliau mendorong kami untuk tidak ragu-ragu melakukan invetasi keuangan. “Jangan biarkan uang kita menganggur. Jadilah investor,” kata beliau berapi-api. “Putar uang anda di surat utang, saham, atau valas. Kalau mau aman, main reksadana saja. Silakan mulai dari nominal kecil dulu, misal Rp. 5 juta. Setelah berpengalaman, naikkan menjadi sepuluh, dua puluh, lima puluh juta. Yang jelas, hasilnya jauh lebih besar dibanding deposito apalagi tabungan.”

Kata-kata beliau merasuk dalam benak Oom Ale. Tidak ada salahnya Oom Ale coba terapkan pengetahuan ini. Oom Ale periksa jumlah tabungan Oom Ale. Ada sekitar dua puluh limajuta Rupiah. Bukan jumlah yang besar untuk bermain investasi, tetapi cukup besar untuk diputar dan menghasilkan keuntungan. Daripada hanya dapat bunga setengah persen setiap bulan, lebih baik diputar di reksadana. “Keuntungan reksadana bisa dua puluh persen sebulan,” rayu Mbak Shanti yang seksi, staf sebuah perusahaan sekuritas terkemuka. “Bagaimana pak? Sudah banyak lho teman sekantor bapak yang menanamkan uangnya di reksadana kami.”

“Baik,” kata Oom Ale mantab. “Tapi, sebelumnya saya perlu bicara dengan istri saya dulu.”

“Tidak masalah pak,” kata Mbak Shanti sambil tersenyum manis sekali.

Begitu Mbak Shanti pergi, Oom Ale langsung tanya-tanya ke Pak San, teman sekantor Oom Ale yang ternyata rajin berinvestasi di perusahaan sekuritasnya Mbak Shanti.

“Awalnya cuma main lima juta saja. Sekarang saya berani investasi sampai seratus juta,” kata Pak San mantab.

“Apa betul profitnya lebih bagus ketimbang bunga tabungan?” tanya Oom Ale dengan wajah bloon.

“Hahahaha…!!” Pak San ketawa keras. “Yaa off course laaahh… Kalau lagi bagus, saya pernah dapat keuntungan dua puluh limapersen sebulan!”

Oom Ale mendelik. Glek… Oom Ale menelan ludah membayangkan untung besar.

“Tapi jangan terburu nafsu. Memang tidak selalu untung. Saya juga pernah rugi. Tetapi dalam setahun untung saya selalu jauh di atas bunga deposito!” penjelasan Pak San ini membuat hati Oom Ale semakin mantab untuk coba-coba menceburkan diri dalam dunia investasi keuangan.

***

Malam harinya, sambil berbaringan mesra Oom Ale usap-usap punggung Tante Nik yang tidak gatal. Lalu Oom Ale utarakan rencana untuk ambil uang tabungan dan tanamkan dalam investasi reksadana. “Untungnya bisa dua puluh persen sebulan lho,” rayu Oom Ale berkali-kali. “Dengan keuntungan sebesar itu, Tante Nik tidak perlu lagi repot-repot berjualan pangsit mie. Selain melelahkan, keuntungan warung pangsit mie kita ini semakin kecil saja karena dipepet kenaikan harga tepung, minyak, cabai, bawang dan macam-macam.”

Tante Nik diam saja.

Oom Ale terus melancarkan rayuan, “Semua keuntungan dari reksadana Oom Ale serahkan buat kamu.”

Akhirnya Tante Nik bangun dan menjawab “Aku senang Oom Ale punya inisiatif mencari tambahan penghasilan dengan investasi di reksadana. Kalau Oom Ale mau pakai uang tabungan kita untuk investasi, aku sama sekali tidak keberatan. Toh, tabungan itu pun hasil kerja Oom Ale juga kan.”

Yess!!” Oom Ale berteriak dalam hati sembari membayangkan profit dua puluh persen sebulan.

“Tapi, boleh khan kalau aku tidak setuju dengan rencana Oom Ale. Bukannya aku tidak suka dengan untung besar. Selain aku memang tidak mengerti apa itu bursa saham dan reksadana, aku merasa jualan pangsit mie jauh lebih baik ketimbang bermain reksadana,” kata Tante Nik lembut.

“Lho.. kok bisa lebih baik?” tanya Oom Ale.

“Biarpun warung pangsit mie kita kecil, tetapi banyak orang yang senang makan di sini. Aku merasa masakanku disukai banyak pelanggan,” kata Tante Nik. “Jelek-jelek warung pangsit mie kita mempekerjakan beberapa karyawan. Meski belum sanggup membayar gaji sebesar upah minimum, tetapi gaji karyawan kita cukup baik dibanding warung lain. Aku senang bisa memberikan lapangan pekerjaan meski cuma untuk beberapa orang.”

Hati Oom Ale mulai luluh.

“Selain itu, warung kita juga membuka kesempatan usaha bagi banyak orang. Mulai dari tetangga yang menitipkan camilan, sampai pedagang pasar yang rutin mensuplai daging ayam, bawang, cabai, dan lain-lain. Biarpun modal warung kita kecil, omset kita kecil dan untung kita kecil, tapi aku merasa berharga sekali.”

Sekarang Oom Ale yang terdiam.

“Kalau Oom Ale memang mau cari untung besar dengan membeli reksadana, aku tidak bisa mencegah,” kata Tante Nik. “Tapi aku akan lebih sayang sama Oom Ale kalau mau berinvestasi di warung kita saja, supaya lebih banyak orang yang bisa menikmati masakan warung kita; supaya kita bisa mempekerjakan lebih banyak karyawan; supaya lebih banyak manfaat yang bisa diberikan dari warung kita. Bagaimana?”

“Wah.. Oom Ale benar-benar sayang sama Tante Nik,” kata Oom Ale dengan tatapan mata yang berbinar-binar. “Kalau begitu Oom Ale tidak jadi beli reksadana. Biarlah keuntungan reksadana dinikmati oleh orang lain yang memang kebelet dengan untung besar. Oom Ale batalkan saja. Karena sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur supaya besok kamu bisa bangun pagi-pagi untuk menyiapkan barang dagangan di warung.”

Ceklik.. lampu kamar Oom Ale matikan.

Sejak malam itu Oom Ale tidak lagi berkeinginan untuk beli saham, reksadana dan lain sebagainya. Lebih baik Oom Ale bangunkan warung yang lebih bagus buat Tante Nik. Oom Ale tidak tergiur dengan untung besar dari invetasi yang memutar uang di atas kertas. Bisnis adalah menjalankan sesuatu yang nyata, mengeluarkan keringat, memberikan manfaat bagi pelanggan, membuka kesempatan kerja dan usaha bagi orang lain.

27 Jul 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.