Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Beda Proposal Beda Nasib

Submitted by on 17 May 2010 – 12:00 amNo Comment

Di rapat manajemen Pak Syam mengusulkan agar pabrik membeli genset baru sebagai cadangan pasokan listrik. Belakangan ini PLN sering byar pet tanpa perasaan. Mengandalkan genset yang ada, yang tua, berkapasitas kecil, dengan ongkos perawatan mahal, jelek pula, tentu bisa dianggap konyol. Oleh karena itu, sebagai manajer engineering yang bertanggung jawab atas kelancaran arus setrum di pabrik, Pak Syam merasa wajib angkat bicara: “Saya butuh lima ratus juta Rupiah untuk beli genset baru!”

“Hah! Lima ratus juta?” Oom Ale merem melek. “Maaf Pak Syam, tidak ada budget untuk beli genset.”

“Terserah manajemen,” Pak Syam ketus. “Kalau ada apa-apa, jangan salahkan saya. Saya khan sudah usulkan hal ini tiga tahun lalu, tapi dicoret melulu.” Pak Syam bersungut-sungut.

“Ok.. ok..” Pak Bos menengahi. “Tolong Pak Syam siapkan proposal untuk diajukan ke kantor pusat.”

Seminggu kemudian Pak Syam datang ke rapat dengan analisa kebutuhan dan kapasitas listrik. “Berdasarkan hitungan ini,” kata Pak Syam, “kita perlu satu genset dengan kapasitas 2000 Mph.”

“Sebaiknya jangan beli satu genset berkapasitas besar. Kalau genset ini bermasalah, kita tidak punya cadangan. Sebaiknya beli dua genset dengan kapasitas yang lebih kecil. Seandainya salah satu genset rusak, kita punya satu lagi sebagai cadangan,” komentar Pak Ton.

“Pemikiran Pak Ton bagus,” kata Pak Bos. “Tolong dibuatkan simulasi kalau kita membeli dua genset dengan kapasitas yang lebih kecil.” Dok.. dok.. rapat ditutup.

Seminggu kemudian Pak Syam datang dengan simulasi dua genset. Kata Pak Syam, “Satu untuk jalur produksi dengan kapasitas besar, yaitu 1500 Mph. Satu lagi untuk gedung kantor, cukup 500 Mph.”

“Lho, kalau seperti itu masing-masing genset tidak bisa sebagai cadangan yang lain dong? Genset kecil tidak bisa sebagai cadangan yang besar,” kali ini Bu Cie, manajer  PPIC, berkomentar.

Pak Syam garuk-garuk kepala. Betul juga sih. “Hitung ulang,” perintah Pak Bos singkat.

Seminggu kemudian, Pak Syam datang lagi dengan simulasi baru dimana kapasitas masing-masing genset menjadi setara. Namun jika ditotal, maka kapasitas kedua genset itu menjadi lebih besar ketimbang kebutuhan genset sebagaimana yang pertama kali diusulkan Pak Syam.

“Wah, investasinya jadi lebih mahal,” celetuk Oom Ale memanaskan suasana. “Lha, untuk beli satu saja tidak ada budgetnya, kok malah mau beli dua yang total biayanya jauh lebih mahal.”

“Pak Ale,” Bu Fen, manager pembelian, menyela. “Kenapa harus beli? Kita kan bisa sewa?”

Pemikiran yang jenius dari Bu Fen. “Ok bu, cari perusahaan yang menyewakan genset,” kata Pak Bos.

Di rapat berikut, Bu Fen datang membawa setumpuk proposal dari perusahaan yang menyewakan genset.

“Bagus,” kata Pak Bos. “Berikan semua data harga dan proposal sewa genset ke Pak Ale untuk dihitung mana yang lebih murah, sewa atau beli?” Oom Ale langsung cemberut. Sekarang bola panas ada di kursi Oom Ale. Pak Syam dan Bu Fen bisa duduk manis.

Seminggu kemudian, giliran Oom Ale datang ke rapat membawa segebok kertas kerja. Ternyata biaya sewa genset sangat mahal dan tidak ekonomis. “Bagaimana kalau leasing saja?” ada yang usul begitu, entah siapa. Namanya tak tercatat di notulen. Yang jelas usulannya membuat kuping tambah gatal aja.

Seminggu kemudian, Bu Fen datang ke rapat membawa data perusahaan leasing. Seminggu kemudian, gantian Oom Ale membahas analisa kelayakan leasing versus beli genset. Seminggu kemudian, rapat membahas pertanyaan: beli genset baru atau bekas saja. Genset bekas tidak kalah bagus. Harganya pun lebih irit. Selama rapat bibir Pak Syam manyun lima centi. “Kapan kita beli genset..?” teriaknya gemas.

“Begini Pak Syam,” kata Pak Bos kalem. “Kita harus menyiapkan proposal seprofesional mungkin. Semua alternatif harus dipertimbangkan. You khan tahu, tidak mudah meng-goal-kan proposal investasi bernilai besar, apalagi tidak ada budgetnya. Jadi, mohon bersabar,” kata Pak Bos penuh bijaksana seolah tidak memedulikan bibir Pak Syam yang kali ini manyun tujuh centi. “Sudahlah, sebaiknya kita bahas hal lain yang lebih penting, yaitu kedatangan Pak Presdir minggu depan. Kita harus membuat acara khusus. Ada usul?”

Dengan sigap Pak Ton melontarkan usulan, “Kita adakan kegiatan penghijauan di bukit sebelah yang gundul itu. Kita perlu terobosan, Pak. Selama ini program bantuan lingkungan hanya berupa bea siswa atau bantuan acara tujuh belasan. Program penghijauan belum pernah dipikirkan. Pak Presdir tidak perlu jalan ke bukit dan menanam pohon. Cukup Pak Presdir menyerahkan bibit pohon ke perangkat desa setempat secara simbolis untuk mereka tanam sendiri.”

“Bagus. Sekalian undang juga Camat, Bupati dan wartawan. Usahakan ada sesi wawancara dengan Pak Presdir. Beritanya harus masuk koran pagi. Omong-omong, berapa biayanya?”

“Total jenderal lima puluh juta.”

“Buka order segera!” perintah Pak Direktur.

“Tapi pak, program ini tidak ada budgetnya” Oom Ale menyela. “Selain itu, bukankah semua program dan biaya sumbangan ke masyarakat harus disetujui dulu oleh kantor pusat?”

“Pendapat Pak Ale benar. Tapi waktu kita mendesak. Saya pasti akan bicara dengan kantor pusat. Toh minggu depan Pak Presdir bisa langsung menandatangani proposal ini sebelum acara dimulai. Penghijauan adalah usulan yang sangat bagus. Selain bermanfaat bagi lingkungan, program ini bisa jadi iklan masyarakat yang sangat jitu! Tolong diproses segera!” jawab Pak Bos panjang lebar. “You semua khan tahu, sebenarnya kedatangan Pak Presdir kali ini adalah untuk menanyakan kenapa kualitas jamu kita belakangan ini sering bermasalah. Apa you mau diomeli Pak Presdir sepanjang hari? Jadi, sebaiknya kita spend waktu beliau untuk mengadakan program penghijauan. Paham..?”

“Jadi tidak perlu minta persetujuan kantor pusat pak?” Oom Ale pura-pura belum paham.

“Wah, kalau kebanyakan diskusi biasanya malah batal. Pokoknya, proses segera!” kali ini Pak Bos sangat tegas.

Tanpa sadar Oom Ale menoleh ke Pak Syam yang semakin manyun sedang mendekap erat-erat dokumen proposal pembelian genset yang kali ini tebalnya lebih tebal dari bantal, guling dan kasur ditumpuk jadi satu.

18 Mei 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.