Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Tempe, Tahu, Dadar Jagung

Barista Peracik Kopi Sachetan

Submitted by on 5 June 2016 – 12:00 amNo Comment

Bolehkah saat di kafe, saya minta barista untuk membuatkan cappucino dari kopi sachetan merek tertentu? Jika boleh, saya pasti korban cuci otak ala iklan.

Image Credit: pop0926pop0926 | Pixabay.com

Wajahnya ganteng. Itu tak diragukan. Dengan cambang tipis dan kumis rapi, dia terlihat macho. Rambutnya disisir klimis dengan laburan pomade mengkilat. Senyumnya membius. Kalau cewek-cewek tak berkedip menatapnya, jangan salahkan. Dia adalah salah satu bintang film top saat ini. Dia, Chicco Jerikho, pemeran tokoh Ben, seorang barista, di film “Filosofi Kopi”.

Hari itu Chicco mengenakan celemek seragam kebesaran seorang barista. Dia tidak sedang berakting di lanjutan film “Filosofi Kopi”. Dalam dunia nyata ia memang telah menjelma seorang barista sungguhan. Dia pernah bekerja magang di kedai-kedai kopi kesohor. Belajar meracik kopi. Menyajikan pada pelanggan. Juga, mendengar kritikan dari para penikmat kopi. Bolehlah kita bilang Chicco adalah seorang barista profesional. Bukan hanya itu, ia juga membuka kedai kopi sendiri. Namanya: Filosofi Kopi.

Hari itu Chicco berbicara tentang kopi enak; khususnya kopi susu. Katanya, kopi susu yang enak harus dibuat dari biji kopi pilihan yang diolah sehingga menghasilkan kopi yang mantap. Sedangkan susunya, harus full cream agar terasa gurih lezat. Kopi mantap dipadu dengan cream susu gurih adalah racikan sempurna untuk secangkir kopi susu. Begitu kata Chicco penuh percaya diri.

Hari itu Chicco bukan hanya berbicara. Dia juga berdemo, mempertontonkan pada saya bagaimana membuat kopi susu enak. Caranya? Semula saya pikir, sebagai barista Chicco akan menggiling kopi, menakar dan menyeduhnya di mesin kopi. Lalu menuangkan susu yang dipanaskan dengan uap air. Ternyata saya keliru. Chicco hanya mengeluarkan satu sachet kopi susu merek tertentu, merobek, menyeduh dengan air panas lalu menyeruputnya penuh kenikmatan. Katanya, tanpa malu-malu, soal kopi susu dia tidak main-main.

Saya sejenak terdiam. Apakah zaman telah berubah begitu cepat, sehingga barista profesional pun mulai beralih ke kopi sachetan? Jika memang demikian, kenapa Chicco harus bersusah payah bekerja magang ke sana kemari demi gelar barista?

Untung saya segera tersadar. Rupanya, saya sedang menonton iklan kopi susu yang setiap hari diputar di tv. Dan Chicco Jerikho berperan sebagai barista peracik kopi susu.

Saya tak menyalahkan Chicco. Sekali aktor, tetap aktor. Dia hanya membaca apa yang diminta. Tak lebih, tak kurang. Saya pun tak menyalahkan iklan. Adalah tugas iklan untuk mengubah persepi masyarakat dengan cara, salah satunya, memodifikasi bahkan mereduksi nilai-nilai. Saya hanya akan menyalahkan diri sendiri, jika kelak saat di kafe saya minta barista untuk membuatkan kopi sachetan. Tapi, percayalah saya takkan melakukannya. Itu sangat merendahkan profesi barista.

16 April 2016

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.