Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Musik

Audioslave – Out Of Exile

Submitted by on 14 February 2010 – 12:00 amOne Comment

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 4.0/5 (3 votes cast)
Artis: Audioslave
Album: Out Of Exile
Jumlah Lagu: 12
Tahun: 2005

Saya  perlu menyimak album Out Of Exile dari Audioslave ini tiga kali sebelum memutuskan untuk menulis.

Yang pertama, segera setelah membelinya dari toko musik. Kesan pertama: tak ada lagu killer. Biasa-biasa saja. Tak ada yang spesial pakai telor. Mungkin karena saya terlalu akrab dengan warna musik hardrock klasik ala tahun 70-an. Selain itu agak jemu karena Audioslave masih menerapkan winning formula seperti di album pertamanya. Tak ada kejutan. Begitulah, album ini saya simpan di rak kamar.

Mungkin penilaian saya salah. Di Indonesia, peredaran Out Of Exile disponsori penuh oleh sebuah perusahaan rokok. Spanduk dan baliho bergambar empat personel Audioslave: Chris Cornell (vokal), Tom Morello (gitar), Tim Commerford (bass), dan Brad Wilk (drum) gampang ditemui di pojok-pojok jalan. Mestinya promosi ini bisa naikkan omset album.

Sampai beberapa bulan kemudian, baliho yang biasa saya lihat berganti wajah. Entah kenapa, tiba-tiba saya ingin menyimak lagi. Mudah-mudahan kali ini saya bisa menangkap rasa baru yang menggugah. Itu kali ke dua saya putar album ini. Lalu, saya putar lagi untuk ke tiga kalinya. Lantas memutuskan untuk menulis ini.

Your Time Has Come. Track yang bagus sebagai pembuka. Hard rock bergaya 70-an, klasik, powerfull. Sekilas terbayang Black Sabbath atau Deep Purple. Warna album pertama terasa kental di track ini.

Out Of Exile. Masih rock klasik ala 70-an. Bagian preludenya agak menggelikan. Kenapa tidak straight forward digedor dengan garukan gitar Tom Morello? Solo gitar di tengah lagu juga terasa aneh. Mungkin maunya unik, tapi malah seperti sepasang kaos kaki beda warna.

Be Yourself. Nomor power ballad, single pertama yang dirilis, jadi unggulan album ini. Cepat akrab di telinga. Enak dinikmati. Solo gitar Tom Morello manis. Sempat masuk chart top 40. Tapi Be Your Self kelihatan “asing” di antara lagu-lagu bernuansa hardrock klasik yang ada di album ini.

Doesn’t Remind Me. Track manis. Dibuka dengan warna country rock. Permainan drum di bait ke dua segmen pertama agak mengganggu. Sedangkan solo gitar Tom Morello di interlude asyik. Lumayan.

Drown Me Slowly. Slow? Bukan, ini rock berperseneling tinggi, meski sedikit melambat di tengah lagu. Permainan tiga ex Rage Against The Machine benar-benar kompak. Kelemahan lagu ini ada pada vokal Chris Cornell. Saya pikir dia pasti kedodoran saat tampil live.

Heaven’s Dead. Wow, ballad manis. Solo gitar Tom Morello sejenak mengingatkan saya pada solo gitar lagu People Get Ready.

The Worm. Nomor hardrock ala Black Dog-nya Led Zeppelin. Dimainkan dengan perseneling rendah. Tom Morello memainkan riff dan sound yang unik, justru itu yang jadi pengganggu utama di lagu ini. Lagi-lagi vokal Chris Cornell ditantang, dan it doesn’t work for me.

Man Or Animal. Kali ini Audioslave memainkan style Deep Purple. Nomor cepat yang menarik. Lagi-lagi keindahan classic rock hancur dengan bunyi-bunyian aneh dari Mr. Morello.

Yesterday To Tomorrow. Ada gaya 80-an Billy Idol. Rhytm gitar, bas dan drum asyik. Yang patut diacungi jempol dalam album ini adalah rhtym section yang dimainkan Tim Commerford dan Brad Wilk.

Dandelion. Nomor ngepop. Dengan rhtym ringan, enak untuk dimainkan secara akustik. Bagian yang paling saya sukai adalah teriakan Chris Cornell, uuuuhhh… uuuuhhh… di tengah lagu. Segar banget. Cara bernyanyi Mr. Cornell terlalu ngotot. Lebih enak santai-santai saja mister.

#1 Zero. Track favorit. Bergaya bluesy. Bergerak pelan di awal, lalu meningkat dramatis. Sekali lagi membuktikankekompakan trio ex Rage Against The Machine dalam bermusik.

The Curse. Nomor penutup bergaya rock Aerosmith yang manis.

Good news or bad news first?

Ok, bad news first. Ada beberapa yang mengganggu telinga saya. Pertama, cara bernyanyi Mr. Chris Cornell yang menelan urat tenggorokan di hampir sepanjang lagu nyaris membuat saya pingsan lantaran sesak nafas. Permainan drum Mr. Brad Wilk di beberapa lagu terasa lugu. Mestinya bisa lebih funky, atau bahkan gahar. Terakhir, solo gitar Mr. Tom Morello di beberapa nomor yang tidak matching. Kita tentu tidak ragu pada ketrampilan dan teknik menghasilkan sound-sound unik Mr. Morello. Tapi ini Audioslave oom, bukan Rage Against the Machine. Mr. Morello perlu menemukan karakter baru yang lebih pas tanpa kehilangan keunikannya.

Yeah, Audioslave perlu bekerja lebih keras, merumuskan formatnya sendiri, menggali orisinalitas, memeras kreativitas sehabis mungkin. Musik rock klasik memang masih jadi ceruk pasar yang menarik, karena penggemar setianya. Tapi tanpa nafas baru yang mengikuti kesegaran generasi kontemporer, maka Audioslave bisa-bisa dianggap band cover version musik hardrock 70-80an. Tapi saya yakin itu bukanlah cermin jiwa ke empat master musik rock ini.

Good news. Album ini membuktikan bahwa ke empat personel ini benar-benar master di seni musik rock. Mereka bermain dengan ketrampilan tinggi, teknik prima dan kompak. Permainan Tim Commerford dan Brad Wilk di bagian “belakang” menunjukkan kematangan para musisi dalam mengusung sebuah lagu. Ke empat personelnya tahu dalam menempatkan ego masing-masing.

Dan, yang paling patut dihargai dari album ini adalah banyak lagu bagus (meski tidak jadi killer track) yang hanya bisa ditulis dengan kedekatan dan pemahaman yang dalam akan perjalanan musik rock.

Kesimpulan saya: ini album yang layak dikoleksi, meski bukan untuk diputar berulang-ulang. Album pertama Audioslave memberikan banyak kejutan, sekaligus harapan. Sedangkan album ke dua, Out of Exile, adalah titik kritis dalam pengambilan keputusan masa depan Audioslave. Moga-moga Audioslave bisa melewati, dan kembali mempersembahkan album rock yang lebih hebat.

Audioslave - Out Of Exile, 4.0 out of 5 based on 3 ratings

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.