Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Musik

Armin Van Buuren – Shivers

Submitted by on 26 February 2010 – 12:00 amNo Comment

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 3.3/5 (3 votes cast)
Artis: Armin Van Buuren
Album: Shivers
Jumlah Lagu: 10
Tahun: 2005

Bermula dari album-album musik koleksi ayahnya, album-album Jean-Michel Jarre, komputer sang ibu, seperangkat turntable, perkenalan dengan Jedi-Masternya, Ben Liebrand, di usia 19 tahun Armin Van Buuren sudah mengguncang sensasi musik trance, dengan Blue Fear di tahun 1995, sebuah nomor Eurotrance klasik yang cinematic. Dilanjutkan dengan Communication di tahun 1999, lalu berkolaborasi dengan Tiesto di nomor Eternity yang dahsyat. Armin Van Buuren segera meraih tahta sebagai tiga besar DJ dunia bersama Tiesto, Paul Van Dyk.

Tahun 2003, ia meraih gelar sarjana hukum, mendirikan record company sendiri: Armada, dan merelease artist album pertamanya, 76, yang segera dinominasikan sebagai Best New Artist Album dalam Dancestar Award 2004. Diikuti beberapa album dj mix, A State of Trance 2004, A State of Trance 2005, yang diinspirasi dari acara radio dimana Armin Van Buuren menjadi host tetap, A State of Trance. Dan tentu saja berbagai remixing dan jadi produser nomor-nomor menarik yang sayangnya lebih mudah didownload dari intenet daripada didapat di music store.

Dua tahun kemudian Armin Van Buuren memenuhi jadwalnya sebagai dj dari satu club ke club kota-kota besar dunia, dan menggunakan berbagai kesempatan untuk berkolaborasi, menulis dan merecord beberapa lagu dengan berbagai musisi dunia, seperti Gabriel & Dresden (San Fransisco), Markus  Schulz (Miami), Nadia Ali (New York), dan tentu saja longterm partnernya, Justine Suissa (Burning With Desire, 76), Ray Wilson (Yet Another Day, 76). Hasilnya, album keduanya, Shiver, dirilis tahun 2005, yang segera jadi perhatian peminat musik trance, akankah si anak emas ini datang dengan sensasi yang lebih besar?

Wall Of Sound (feat. Justine Suissa). Nomor ini dibuka dengan sound effect yang unik dan menarik. Digarap bersama Justine Suissa, yang juga jadi vokalis, mengingatkan pada Burning With Desires namun dengan tempo dan energi yang lebih tinggi. Track pembuka yang cukup baik.

Empty State (feat. Mic Burns). Di beberapa detik intro lagu ini, saya harus meyakinkan diri bahwa ini adalah artist album bukan remixed album. Intro yang bertele-tele, kurang efisien. Armin mencoba memainkan male vocal di nomor progressive yang hi-energy, but it doesn’t work for me.

Shivers. Nomor yang jadi tittle album ini. Hi-energy. Progressive. Female vocal jadi pilihan yang lebih tepat dibandingmale vocal. Cukup ok. Hanya ada satu catatan, penutup lagu ini (seperti pembuka di track 2) kurang mengesankan, mubazir.

Golddigger (feat. Martijn Hagens). Lagi-lagi nomor male vocal yang tak terlalu menarik dilatarbelakangi musik yang berdentam-dentam. Cenderung nge-pop. Lirik yang juga nge-pop, terasa aneh buat sebuah lagu progressive. Below Mr. Buuren’s average.

Zocalo (feat. Gabriel & Dresden). Nomor morning trance manis khas Armin Van Buuren, cocok jadi teman laid back setelah semalaman ngedance.

Gypsy (feat. Ray Wilson). Nomor dengan beberapa sentuhan breakbeat. Sebuah crossover experimental. Maaf, lagi-lagi below Mr. Buuren’s average, but it’s a brave exploration.

Who Is Watching (feat. Nadia Ali). Nomor lembut manis, dengan female vocal yang cukup menarik, textured by guitar instrument sepanjang lagu.

Bounce Back (feat. Remy & Roland Klinkenberg). Nomor ini mungkin lebih enak didengar di club sebagai pembuka, bukan di sebuah artist album. Tidak ada tema yang cukup kuat. Sekedar filler. Mestinya bisa digali lebih inspiratif lagi, mengingat nomor ini digarap bersama DJ Remu & Roland Klinkenberg.

Control Freak. Another filler, but quite ok.

Serenity (feat. Jan Vayne). Nomor yang menarik. Could be crowd’s favorite. Penutup yang bagus.

Dibanding album pertamanya 76, ada perubahan besar dalam album Shivers. Lebih progressive, lebih hi-energy, lebih dinamis. Setelah mendengar Shivers, maka album 76 akan terdengar klasik (kalau tidak boleh dibilang ketinggalan jaman). Itu wajar, meski 76 dirilis 2003 (hanya selang 2 tahun sebelum Shivers), beberapa lagu sebenarnya berasal dari era 90-an yang dimix ulang dan masih kental gaya Eurotrance-nya yang melodic dan cinematic, seperti Blue Fear, Communication. Kalau dirunut-runut, mestinya Shivers bisa dibilang sebagai artist album perdana Armin Van Buuren. Dan, jadi lompatan improvement yang penting. Penggemar Armin Van Buuren tak boleh mengabaikan album ini.

Namun, jika dibandingkan dengan dj mix albumnya (seri A State of Trance) dan beberapa remix yang berserakan di internet, maka Shivers tampaknya merupakan lanjutan style yang ingin dikembangkan Armin Van Buuren, terutama sejak A State of Trance 2005. Dibanding A State of Trance, Shivers tak memberi kejutan berarti, malah dalam beberapa nomor cukup mengecewakan, seolah kekurangan inspirasi groove, tidak ada master mind concept, you don’t have any idea where Mr. Van Buuren is going to. Pendek kata, biasa-biasa saja. Alih-alih, Armin tampak lebih bagus dalam meremix lagu orang lain ketimbang menulis lagu sendiri. Penikmat musik trance cuna bisa memberi support, “Next time better Mr. Van Buuren!”

Tentu album Shivers should be better than 76, tergantung bagaimana kita melihat. Di Shivers, Armin menjelajah ke berbagai warna musik, progressive, break-beat, some kind of pop sound, membuktikan bahwa ia adalah seorang producers sekaligus engineer yang handal, meski trance tetap sebagai menu utama (question: where is trance in Shivers? Heks!). Selain itu, ia juga membuktikan sebagai kolaborator handal yang bisa bekerja sama musisi-musisi dunia dengan visi musiknya sendiri. Agaknya beban berat Shivers bukan pada musik yang disuguhkan, melainkan pada nama besar Armin Van Buuren sebagai top three global DJ. Nama besar ini menuntut Armin untuk tidak kekurangan kreativitas dalam memberikan sensasi musik.

“Shivers is a major step for me into full songwriting. I was a co-writer on most of the lyrics and was able to work in a variation of styles. Trance will always be the main thing but it brings a different element when you collaborate with artists. It requires more attention to song structure than instrumental tracks. This is a work I’m extremely proud of,” Begitu Armin Van Buuren.

I don’t love it, but I don’t hate it. No regret.

Armin Van Buuren - Shivers, 3.3 out of 5 based on 3 ratings

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.