Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Musik

Adrian Adioetomo – Delta Indonesia

Submitted by on 18 July 2010 – 12:00 amNo Comment

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 3.7/5 (3 votes cast)
Artist: Adrian Adioetomo
Album: DeltaIndonesia
Jumlah Lagu: 14 + bonus 3 video clip (2 music video clip + 1 talk)
Tahun: 2007

Sepertinya satu per satu pendekar gitar tanah air muncul dari persembunyiannya dan unjuk diri sebagai frontman. Mulai dari trisum, Dewa Bujana, Tohpati, Balawan. Lalu Andra Ramadhan dengan Andra And The Backbone. Kini datang Adrian Adioetomo (alias Ian) entah dari mana. Jika empat nama sebelumnya menenteng gitar listrik modern, Ian datang dengan gitar tua beresonator besi buatan tahun 30-an: Duolian dan Dobro. Jika pendekar sebelumnya membawa musik bingar dengan teknologi modern, Ian merasa cukup bersenandung dari dalam hati, bermain sendiri, seperti lonely cowboy (mungkin lebih tepat: lonely slave) di tepipadanggersang jiwa manusia. Mungkin ia juga tak terlalu peduli apakah lagunya diterima atau tidak, karena toh ia merekam sendiri, di kamarnya sendiri, dengan gitarnya sendiri pula.

Namun kesederhanaan itulah yang mengejutkan dan membuat kami ternganga. Ternyata masih ada musisi ‘ajaib’ yang nekat memainkan musik ‘ajaib’, delta blues, yang tak populer di pasar musik Indonesia. Keyakinan dan ideologi bahwa ekspresi bermusik tak perlu berbohong yang disuarakan Adrian Adioetomo ini seharusnya membuat banyak musisiIndonesiatertunduk malu. Semakin merah padamlah muka mereka ketika mengetahui bahwa estetika bermusik yang ditunjukkan dalam album ‘ajaib’ ini dikerjakan sendiri tanpa perlu merengek pada major label.

Where My Roots Ground? Kesan kuno langsung menyeruak saat mendengar nomor pembuka ini. Serasa mendengar rekaman yang telah tersimpan di gudang loteng selama seabad. Penuh debu dan kusam. Ini bukan nomor gimmick. Jika anda menyukai, silakan teruskan. Jika tidak, simpan kembali ke gudang dan biarkan keponakan atau anak cucu kita menemukan dan mengaguminya kelak. Kami terbahak mendengar nomor ini. Inilah nomor yang selalu ingin bisa kami mainkan semasa remaja dulu. Nomor yang spontan, rockin’, ekspresif. Kami memutar nomor ini berulang-ulang sambil bersenang-senang. Yeah.

Telegram. Asyik. Riff yang enak buat goyang-goyangkan kepala. Riff klasik yang tanpa sadar banyak terselip di partitur rock n roll. Seandainya suara Ian lebih nge-black, maka nomor ini jadi lebih mantap.

Blues Iblis. Kami kemudian sadar bahwa sebenarnya tidak diperlukan teknik bernyanyi yang neko-neko dalam musik ini. Kesederhanaan vokal jadi pilar musik Ian. Sedangkan kekuatan sesungguhnya adalah pada permainan gitarnya yang soulfull (di samping skillfull). Sebuah nomor lembut dengan lirik yang menarik.

Lepaskan Anjingmu (Delta Vision). Nomor yang sibuk, ribut, terburu-buru seolah Ian dikejar anjing galak. Tapi, nomor ini jauh lebih galak dari si anjing itu. Kami terpukau menyimak amukan permainan gitar Ian. Orang ini edan!

Tetaplah Kau Berjalan (Keep Your Lamps Trimmed And Burning). Sebuah nomor tradisional yang diterjemahkan oleh Ian. Kali ini, dengan imbuhan vocal dari sang istri, Fadmina Ridha Utami. Entah karena warna vokal atau efek rekamannya, kami tidak sepenuhnya menikmati vokal Ian di nomor ini, termasuk juga sisipan female vokalnya. 

Senandung Teras. Gila, lagu ini membuat kami merinding. Baru di sini kami menikmati vokal Ian, sampai-sampai anjing pun mengonggong ketakutan. Sebuah lagu ‘ajaib’, lolongan penuh geram, gelisah, amarah yang tertahan. Gitar besi pun membalas geraman itu dengan gundah, mengiris-ngiris. Alangkah ajaibnya jika pada akhir lagu, senar besi itu putus! 

Tegangan Tinggi. Asyik, tempo kembali ke jalur cepat sesuai tema lagu: tegangan tinggi. Konon sebuah video klip promosi disiapkan untuk single ini. Asal tak terlalu banyak overtake, pasti seru melihat Ian bermain gitar lively.

Wouldn’t Know. Agar pendengar tak bosan, Ian menerapkan treatment efek berbeda-beda. Nomor ini dimix seolah kita mendengarkan Ian bermain dari seberang telpon analog. Salut diberikan pada mixing team dari Sinjitos yang mampu memberikan taburan debu dan baret-baret itu. Sebuah nomor manis yang nyaman di telinga orang banyak.

How Long Must I Wait? Nomor kalem yang juga cukup manis di telinga. Sungguh asyik mendengar vokal dan gitar saling celoteh, sedangkan tumit menjaga tempo dengan mengetuk-getuk papan kayu. 

Pernahkah Kau… Nomor yang segaya dengan track ‘How Long Must I Wait?’ namun lebih gelap. Hampir saja Ian missed di satu lirik. Ya, itulah resiko merekam secara live. Meski bisa saja Ian mengulang take atau overdub, tapi ia membiarkan apa adanya. Asyik bukan?

Tak Kan Ada Lagi Penindasan I. Lagu riang gembira milik budak yang telah dibebaskan dari tuannya.

Tak Kan Ada Lagi Penindasan II. Tanpa jeda, part II masuk menyambung part I seri nomor ‘Tak Kan Ada Lagi Penindasan’. Dua nomor ceria namun penuh tekanan. Ian bernyanyi emosional. Kami pun terhanyut. 

Eternal Blues (For C.W.). Setelah beberapa nomor kita bersenda-sendu, saatnya menghentak dan mengangkat gelas bir lagi. Sebuah uptempo yang asyik dinikmati bersama-sama di bar sambil bertepuk tangan dan tentu saja, tak cukup memainkan lagu ini sekali saja. More!

Same Thing, Mister. Nomor sederhana yang seru dinikmati malam-malam di bar sambil terbahak-bahak, pas dengan liriknya yang menarik. 

Ya, blues adalah musik yang selalu ingin dimainkan oleh Jimmy Page, Keith Richard, dan banyak pendekar gitar lain. Blues bukan sekedar musik, blues adalah ekspresi. Dan, tak ada yang selalu ingin disampaikan oleh musisi sejati, selain ekspresi. Tentu saja, ekspresi melalui musik, bukan melalui model jaket kulit dan celana jean, potongan rambut, gayaberjalan, motor besar atau yang lain-lain. Di album Delta Indonesia ini, Adrian Adioetomo mengingatkan kita lagi untuk memainkan musik dengan ekspresi.

Saya berimajinasi, segera setelah album ini meluas, akan ada banyak musisi yang ditantang untuk ngejam bareng Ian. Namun hanya mereka yang punya kualitas maestrolah (atau nekat) yang cukup confident untuk bermain sepanggung dengan orang berbahaya ini. Saya akan dengan berdebar-debar menunggu siapa saja gitarisIndonesialain yang berani menyambut tantangan ini. Tentu saja, tujuannya adalah untuk mencapai kenikmatan bermusik, bukan sekedar popularity leverage sesaat.

Angkat topi dan terima kasih pada Adrian Adioetomo atas album Delta Indonesia, atas kejutan yang membuat kami terperangah dan terbahak gembira, atas skill dan soul yang ditunjukkan, atas keedanan dan kenekatannya. Kehadiran album ini punya nilai relevansi yang cukup penting bagi situasi musik Indonesia kini. Wajib masuk dalam daftar koleksi pencinta musik.

Adrian Adioetomo - Delta Indonesia, 3.7 out of 5 based on 3 ratings

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.