Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Adakah Kebahagiaan Sebagai Karyawan?

Submitted by on 12 July 2010 – 12:00 amNo Comment

Beberapa waktu lalu, ketika cuci mata di toko buku, Oom Ale melihat sebuah buku dipajang di bagian depan. Oom Ale lupa judul persisnya. Kalau tidak salah, tentang menemukan kebahagiaan dalam pekerjaan. Entah ada bisikan apa Oom Ale meraih buku itu dari raknya.

Ada sedikit preview di bagian belakang buku. Intinya begini, banyak orang tidak merasa bahagia saat bekerja. Ketika membaca kalimat ini Oom Ale tersenyum sambil berkata sendiri, “Pas banget dengan kondisi Oom Ale sendiri”. Sepertinya selama bekerja sebagai karyawan, Oom Ale belum pernah merasakan apa itu kebahagiaan.

Kata buku itu lagi: ada banyak hal menyebabkan karyawan tidak bahagia dalam pekerjaannya. Misal, target yang terlalu tinggi, deadline yang mencekam, persaingan keras antar karyawan, kesibukan kerja yang penuh tekanan, dan masih banyak yang lain. Semua itu membuat karyawan stres, depresi lalu akhirnya tidak bahagia.

Oom Ale baca dengan mata berbinar-binar. Benar-benar cocok dengan kisah hidup Oom Ale selama ini. Dulu deadline laporan keuangan tanggal 10. Lalu karena perusahaan menerapkan sistem komputer canggih, target deadline menjadi tanggal 7. Lalu maju lagi ke tangggal 5 terus 4. Sekarang laporan harus sudah kelar pada tanggal 3. Bukan hanya deadline yang semakin ketat, kontrol biaya pun semakin mencekat tenggorokan. Dulu, variance antara actual dan budget bolehlah unfavorable 1%. Setelah ada program cost reduction, tidak boleh ada unfavorable variance, malah harus bisa menjadi favorable 2%. Puyeng dah! Pantaslah semakin hari Oom Ale semakin tidak bahagia dalam pekerjaan.

Tapi, kata buku itu, kebahagiaan dalam pekerjaan adalah hal yang bisa diraih. Bahagia itu perlu. Karyawan yang bahagia akan memberikan hasil sangat baik. Pegawai yang kerja dengan riang berprestasi lebih cemerlang ketimbang pekerja yang cemberut. Ck ck ck, hebat nian buku ini. Oom Ale setuju saja. Oom Ale pikir, kalau Oom Ale bisa terus bekerja dengan penuh kebahagiaan maka kehidupan Oom Ale akan luar biasa indahnya.

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa menemukan kebahagiaan dalam pekerjaan? Nah, buku ini memberikan jawaban. Di dalamnya ada berbagai cara untuk selalu berbahagia dalam pekerjaan. Termasuk memotivasi karyawan, menemukan makna kerja, juga menggali tujuan dan visi.

Hampir saja Oom Ale beli buku ini. Tetapi tiba-tiba muncul pertanyaan, apakah ada bukti orang mampu menemukan kebahagiaan dalam pekerjaannya?

Ada! Jawab buku itu dengan mantab. Penulis buku itu mengaku telah mensurvey dan menemukan banyak orang yang berbahagia dalam pekerjaannya. Contoh: Jack Welch, mantan CEO General Electric, salah satu perusahaan papan atas dunia. Jack Welch, konon, mengaku selalu bahagia dalam bekerja. Anita Roddick, pendiri Bodyshop, juga mengaku sangat berbahagia dalam pekerjaannya. Masih ada beberapa nama lagi yang disebut oleh buku itu. Sayang Oom Ale tidak hapal, maklum uban tambah banyak. Tetapi yang jelas, nama-nama yang disebut itu adalah para orang-orang top, CEO terkemuka, owner perusahaan global.

Hahahaha, tanpa sadar Oom Ale tertawa sendiri. Ya jelas saja!. Sudah semestinya nama-nama tadi bisa menemukan kebahagiaan dalam pekerjaannya. Mereka itu berada di puncak karier. Posisi mereka top. Penghasilan mereka pun besarnya minta ampun. Dengan kekuasaan sebesar itu, maka sudah semestinya mereka bisa mendapatkan apa yang mereka suka. Mereka bisa berkeliling dunia kemanapun mereka mau. Dengan alasan meningkatkan performance perusahaan, mereka punya kekuatan untuk memasang target bagi bawahan. Mereka juga bisa memerintah perusahaan dan orang-orangnya. Pendek kata, dengan power dan uang yang banyak mereka bisa melakukan apa yang mereka angankan. jika tidak, duh betapa sia-sianya semua itu.

Oom Ale letakkan lagi buku itu ke raknya, lalu menatanya rapi. Oom Ale tidak jadi beli. Bukannya Oom Ale tidak setuju dengan semua itu. Apa yang dibilang dalam buku itu mestinya okay-okay saja. Untuk urusan kebahagiaan lebih baik Oom Ale berguru ke Mbah Ud saja.

***

Oom Ale datangi Mbah Ud, “Mbah, ajari saya menemukan kebahagiaan dalam pekerjaan.”

Weee,” kata Mbah Ud sambil terkekeh-kekeh. “Ini pertanyaan lama kok ya masih diulang-ulang saja.”

“Lha, soalnya sampai sekarang saya masih belum menemukan kebahagiaan di kantor..?” rengek Oom.

“Bagaimana Mbah bisa mengajari tentang kebahagiaan? Mbah sendiri juga tidak tahu bagaimana caranya bahagia. Mbah sendiri tidak tahu apakah mbah ini berbahagia atau tidak.”

“Wah, jangan begitu dong mbah. Kalau dilihat-lihat, mbah ini orangnya tenang, hidup sederhana dan apa adanya, damai, tidak banyak keinginan. Mestinya Mbah Ud ini adalah orang yang berbahagia.”

“Walah, Mas Ale… Mas Ale, bagaimana sampeyan bisa menganggap mbah ini berbahagia? Sampeyan tidak bisa menilai isi hati mbah. Menurut Mbah, kita ini manusia yang sama. Yang dikarunia rasa ketakutan, keinginan, kesenangan, kepuasan, iri hati, dengki, dendam, suka cita dan lain-lain. Bagaimana kita bisa berbahagia selalu jika masih terselimuti oleh hal-hal seperti itu.”

“Maksud Mbah Ud apa ya?”

“Ya, kehidupan di kantor atau dimana pun pada dasarnya sama saja. Jika kita mengaku berbahagia di rumah, semestinya juga berbahagia di kantor. Jika tidak, berarti kebahagiaan hanya persepsi saja.”

“Jadi, bagaimana dong mbah.”

“Mbah tidak tahu bagaimana caranya menjadi bahagia. Mbah sendiri juga tidak tahu apa itu kebahagiaan. Yang Mbah sadari, segala sesuatu yang ada dalam persepsi dan benak Mbah bukanlah kebahagiaan. Kalau kebahagiaan bisa ditemukan dalam persepsi atau pola pikir, maka itu hanyalah bentuk permainan pikiran untuk menghibur diri kita. Dengan kata lain, itu bukan kebahagiaan tapi melarikan diri dari kenyataan,” jawab Mbah Ud dan menyelesaikan pembicaraan ini begitu saja.

***

Kembali ke toko buku dan buku tentang kebahagiaan di tempat kerja. Oom Ale jadi berpikir, bagaimana kalau pertanyaannya diajukan ke direktur, manajer, kepala bagian, supervisor, staf juga diri kita sebagai karyawan, apakah kita bahagia dengan pekerjaan kita? Oom Ale yakin jawabannya sama dengan apa yang Oom Ale pikirkan. Kalau tidak, pasti mereka sedang berpura-pura berbahagia, atau melarikan diri dari kenyataan (kata Mbah Ud).

Ya… Oom Ale memang masih belum merasa berbahagia dengan kehidupan Oom Ale di kantor, tapi sepulang dari Mbah Ud, Oom Ale mulai bisa menerima semua ketidakbahagiaan itu.

13 Jul 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.