Dering Telpon Tengah Malam
4 September 2016 – 12:00 am | No Comment

Pernahkah anda mendapat telpon di tengah malam yang membawa berita buruk? Sebaiknya anda tetap tenang. Siapa tahu berita buruk itu adalah momen yang anda tunggu-tunggu.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Home » Celoteh-Celoteh Oom Ale

Acara Kantor Atau Acara Pribadi?

Submitted by on 16 August 2010 – 12:00 amNo Comment

Scene kejadian: bulan puasa beberapa waktu silam.

Sejak awal bulan team penggemar kepiting sudah mufakat untuk mengadakan event buka puasa bareng di hari Jum’at terakhir bulan Ramadhan. Lokasi acara: warung Cak Gundul yang menu kepiting goreng menteganya tersohor di seantero provinsi. Ini acara asyik, maka Oom Ale wajib hadir.

Tepat sehari sebelum acara kepiting, Oom Ale menerima undangan dari manajemen kantor untuk menghadiri acara penyerahan sumbangan dan buka puasa bersama anak-anak yatim piatu dari panti asuhan sekitar pabrik. Acaranya jatuh tepat di hari pesta kepiting. Acara kepiting paling asyik karena bisa bertemu dengan rekan-rekan satu gank. Sedangkan acara yatim piatu penting karena menyangkut pekerjaan kantor. Nah, pilih yang asyik-asyik atau yang penting-penting?

“Acara kantor bukan cuma penting tapi juga mulia. Kamu sebagai pejabat tinggi perusahaan perlu hadir untuk memberikan dukungan. Jarang lho ada perusahaan yang mau peduli pada anak-anak yatim piatu di lingkungan sekitar,” nasehat Tante Nik sewaktu Oom Ale mintai pertimbangan.

Betul juga sih. Acara kepiting bisa diadakan setiap saat. Sedangkan acara buka puasa bersama anak yatim piatu bukan hanya urusan pekerjaan tetapi juga urusan kemanusiaan plus spiritualitas yang bisa memberikan pencerahan batin (halah…!). Sebelum memutuskan Oom Ale perlu diskusi dengan sekretaris jendral team kepiting, Oom Gatut.

“Mari kita uji relevansi ke dua acara ini.” begitu kata Oom Gatoet ketika Oom Ale mengutarakan ijin untuk tidak ikut acara pesta kepiting. “Kapan kamu mendapat undangan acara yatim piatu?”

“Kemarin sore.”

Kok mendadak sekali?”

“Ya, karena baru diputuskan sehari sebelumnya.”

“Apa tidak direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya?”

Sepertinya memang tidak direncanakan jauh-jauh hari. Setahu Oom Ale, di rapat manajemen seminggu lalu Pak Bos menanyakan kenapa kita tidak memberikan sumbangan untuk anak-anak yatim piatu di bulan puasa yang baik ini. Karena pertanyaan Pak Bos berarti juga perintah, maka sibuklah Bagian Umum menyiapkan acara, mendata anak-anak yatim piatu, menentukan sumbangan, menghitung kebutuhan dana, menyiapkan tempat, catering, mengirim undangan dan macam-macam. Hanya dalam waktu dua hari acara siap digelar. Salut buat rekan-rekan Bagian Umum.

“Apakah ini acara rutin tahunan?” tanya Oom Gatut lagi.

“Sepertinya tidak,” jawab Oom Ale. “Selama lima tahun belakangan, rasanya baru kali ini perusahaan memberikan sumbangan untuk anak-anak yatim piatu.”

“Memangnya anak yatim piatu hanya butuh sumbangan di bulan puasa saja? Bukankah mereka juga butuh dibantu di bulan-bulan yang lain?” celetuk Oom Gatut. “Le… Aku paling sebal dengan acara-acara formalitas belaka. Kalau kita memang berniat membantu anak yatim, kita harus membantu di saat mereka membutuhkan, bukan cuma di bulan puasa saja. Apakah di bulan-bulan lain mereka tidak perlu dibantu? Kalau kita hanya menyumbang di bulan puasa, itu sama saja dengan kebaikan hati sesaat. Malah mungkin tidak menjadi kebaikan hati kalau berniat untuk pamer. Acara kantormu pasti didokumentasi, difoto, dipublikasikan, dilaporkan ke mana-mana sebagai bentuk kepedulian perusahaan pada lingkungan. Padahal, sumbangan perusahaanmu paling-paling cuma selembar sarung, kopiah dan baju koko. Sedangkan setiap hari mereka butuh makan, biaya sekolah, pakaian dan lain-lain. Jangan hanya karena bisa memberikan sarung, kopiah dan baju koko lantas perusahaan gembar-gembor sudah peduli kepada lingkungan sosial.”

Oom Ale agak ngeri melihat Bro Gatoet mulai ceramah seperti ini. Buru-buru Oom Ale menetralisir suasana, “Jangan gitu dong?! Memang baru kali ini perusahaan memberikan sumbangan untuk anak yatim piatu, tetapi kita punya program kepedulian sosial yang reguler: memberikan bea siswa untuk anak-anak karyawan yang berprestasi, membangun bangunan sekolah, memberikan sumbangan komputer.”

“Halaaaah, paling-paling yang dibutuhkan adalah koleksi foto kegiatannya saja?” Oom Gatut bertambah ketus.

“Hush, jangan su’udzon dong. Dokumentasi merupakan bentuk pertanggungjawaban manajemen.”

“Apa benar begitu? Aku yakin manajemenmu lebih peduli dengan foto-foto dan publikasi ketimbang esensi acaranya itu sendiri,” Oom Gatut tambah berapi-api.

“Lo.. kamu kok sinis begitu,” kali ini Oom Ale yang meradang.

“Sori Le. Aku cuma bermaksud menilai relevansi acara kantormu. Apakah kegiatan ini benar-benar dirancang sedemikian rupa sehingga berkelanjutan, atau hanya kegiatan sesaat for the shake of ramadhan. Kalau cuma kegiatan sesaat, maka sebaiknya kamu ikut acara pesta kepiting. Tetapi kalau ini adalah program yang benar-benar diadakan demi kebaikan anak-anak yatim itu dalam jangka panjang bukan sekedar kepentingan publikasi citra perusahaan, maka aku angkat hormat. Sudah seharusnya kamu hadir di acara buka bersama anak-anak yatim piatu.”

Oom Ale terdiam.

Oom Gatut pun melanjutkan pidatonya, “It’s your decision. Kalau menurutmu acara yatim piatu ini bagus dan harus bisa dikembangkan berkesinambungan, maka kamu harus ikut hadir, mendukung dan mempengaruhi manajemen agar jangan hanya mencari publisitas belaka, agar tahun depan atau bulan depan, acara serupa tetap diadakan, dengan atau tanpa publikasi. Use your influence! Tetapi kalau kamu tidak punya maksud begitu, maka sebenarnya kamu sama saja. Kamu hadir hanya untuk publikasi kepentingan karier.”

“Waahh.. kok jadi serangan pribadi nih,” Oom Ale protes.

“Hahaha.. aku tidak bermaksud begitu. Pokoke, terserah kamu. Aku respect dengan keputusanmu. Kita semua bisa mengerti kok. Tapi, asal tahu saja, aku sudah order kepiting telor super yang supit-supitnya sebesar dongkrak ban serep. Apa kamu tidak ngiler? Kepiting telor super meeennn…?!”

***

Apakah ini keputusan sulit? Mesti sih tidak. Oom Ale akan datang di acara pesta kepiting.

17 Agu 2009

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.