Kredit Tanpa Agunan, Tanpa Keperluan
29 May 2016 – 12:00 am | No Comment

Beberapa kali saya tergiur menerima tawaran kredit tanpa agunan. Hasilnya, pinjaman itu justru habis untuk hal-hal yang tidak perlu dengan bermacam-macam alasan.

Read the full story »
LeoJuliawan.net

My fifty cents or less.

WirausahaIndonesia.com

Entrepreneur bold + Professional management.

Rekan-Kantor.com

A cup of coffee to inspire workers, managers, leaders even CEOs.

Cabinoo.com

Things come out from my shelves, drawers, folders and anywhere.

101

You may find this somewhere else. But, it is not a copy-pasting.

Tempe, Tahu, Dadar Jagung »

Kredit Tanpa Agunan, Tanpa Keperluan
29 May 2016 – 12:00 am | No Comment

Beberapa kali saya tergiur menerima tawaran kredit tanpa agunan. Hasilnya, pinjaman itu justru habis untuk hal-hal yang tidak perlu dengan bermacam-macam alasan.

Image Credit: pop0926pop0926 | Pixabay.com

Telpon genggam saya berdering. Ada nomor tak dikenal muncul. Sebenarnya saya cukup sibuk hari itu. Saya ingin mengabaikan tetapi saya pikir tidak baik bertindak acuh. Ketika saya jawab, “halo”, terdengar suara wanita menyapa nama saya.

Dia memperkenalkan diri. Dia bekerja di salah satu bank penerbit kartu kredit saya. “Boleh minta waktunya sebentar?” tanyanya. Belum saya jawab, dia sudah langsung berceloteh. Katanya, saya terpilih mendapat fasilitas kredit tanpa agunan, langsung cair, tak perlu proses verifikasi. Nilai pinjamannya sekian juta rupiah. Bisa diangsur selama 3 bulan. Bunga nol persen. Cukup dengan membayar biaya provisi sekian puluh ribu saja. “Bagimana Pak Leo?” tanyanya.

Saya katakan dengan sopan bahwa saya tidak memerlukan pinjaman. Dia meyakinkan, kredit ini bisa digunakan untuk berbagai keperluan. “Untuk liburan atau membelikan sesuatu untuk istri dan anak-anak tercinta,” katanya seolah tahu isi rumah tangga saya.

Saya jawab sambil meminta maaf, saya tidak memerlukan pinjaman. Rupanya dia cukup gigih. Katanya, ini kesempatan yang sangat baik. Jarang sekali ada nasabah yang terpilih untuk mendapatkan fasilitas ini. Saya pasti orang yang sangat istimewa. Saya sedikit tersanjung. Sejenak saya berpikir, mungkin saya bisa gunakan kredit ini untuk jaga-jaga jika ada keperluan mendadak.

Sekali lagi saya minta maaf dan tetap berusaha sopan. Saya katakan saya belum memerlukan. Mungkin di lain waktu. Dia tidak menyerah. Dia pasti telemarketer yang hebat. Kali ini, dia memberi penawaran menarik. Saya tidak perlu mengangsur mulai bulan depan, melainkan dua bulan kemudian. Syaratnya, kredit dicairkan minggu depan, selepas tanggal 15. “Ini lebih meringankan Pak Leo,” katanya cepat. “Bagaimana pak?”

Pikiran saya menerawang. Ini bukan yang pertama. Saya pernah ditawari kredit seperti ini. Saya selalu menerimanya. Sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan, namun saya tergiur. Saya pun tak cukup tega menolak bujukan para sales telemarketing. Hasilnya? Uang itu justru habis untuk hal-hal yang tidak perlu. Pernah saya berpikir, kredit itu bisa dianggap sebagai tabungan yang saya angsur. Ternyata tabungan itu selalu saja habis dengan macam-macam alasan.

Kali ini saya menolak dengan tegas, “Maaf, saya sibuk sekarang. Saya tidak memerlukan kredit. Terima kasih.” Dia mencoba membujuk, tetapi saya tak boleh ragu, “Sekali lagi maaf. Selamat siang.” Ucapan saya serius dan menekan. Dia membalas salam lalu kami menutup telepon. Sopan saja tidak cukup, menghadapi penawaran-penawaran menarik dari seperti ini saya harus tegas dan tak perlu berbelas kasihan.

10 April 2016

VN:F [1.9.18_1163]
Rating: +1 (from 1 vote)
Me vs Rombongan Moge
22 May 2016 – 12:00 am | No Comment
Me vs Rombongan Moge

Puluhan tahun berlalu, rombongan moge masih tetap dengan knalpotnya yang memekakkan telinga, membunyikan sirene, menunjuk-nunjuk dan menyuruh orang lain minggir.

Kakek-Kakek Generasi Z
15 May 2016 – 12:00 am | No Comment
Kakek-Kakek Generasi Z

Kalau boleh, saya tidak dipanggil kakek atau eyang atau embah oleh cucu saya. Bagaimana kalau saya dipanggi “Yangbro”; kependekan dari Eyang + Bro..!

Micin, Tempe dan Hyperreality
8 May 2016 – 12:00 am | No Comment
Micin, Tempe dan Hyperreality

Anak-anak yang dulu tak tertarik pada tempe dan tahu, berkat tempung bumbu kini mereka mau menyantap dengan lahap seolah sedang makan bistik daging atau bakso ayam.

Kenikmatan Business Class
1 May 2016 – 12:00 am | No Comment
Kenikmatan Business Class

Selama duduk di penerbangan business class saya harus “jaga image” dan bersikap santai, seolah-olah duduk di kelas bisnis bukan hal yang istimewa bagi saya.

Mata Kyai, Mata Santri
24 April 2016 – 12:00 am | One Comment
Mata Kyai, Mata Santri

Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang kyai mempunyai korek api dengan gambar seronok seperti itu? Yang lebih celaka, beliau tampak santai saja.

Tips Rileks Di Tengah Kemacetan Lalu Lintas
20 December 2015 – 12:00 am | No Comment
Tips Rileks Di Tengah Kemacetan Lalu Lintas

Kemacetan membuat kita kehilangan banyak waktu. Kemacetan bukan hanya mencuri waktu, juga menguras emosi. Salah satu tips tetap rileks di tengah kemacetan: terimalah kemacetan sebagaimana adanya.

Kata Siapa Lokasi Di Jalan Raya Pasti Strategis?
19 December 2015 – 12:00 am | No Comment
Kata Siapa Lokasi Di Jalan Raya Pasti Strategis?

Salah satu jaminan keberhasilan usaha adalah lokasi strategis; salah satunya adalah di jalan raya. Tapi lokasi di jalan ramai tak selalu strategis. Kenali beberapa tanda lokasi tak strategis sebelum anda menyesal.

Etika Karyawan Memiliki Bisnis Sampingan
18 December 2015 – 12:00 am | No Comment
Etika Karyawan Memiliki Bisnis Sampingan

Mempunyai bisnis sampingan adalah angan-angan kebanyakan karyawan. Dapatkah kita menjalankannya tanpa merusak reputasi kita sebagai karyawan teladan?